periskop.id - Apa sebenarnya definisi negara paling sejahtera? Selama ini, dunia sering terjebak menilai kemajuan bangsa hanya dari angka ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, Global Flourishing Study (GFS) hadir mengubah narasi tersebut dengan pendekatan yang jauh lebih manusiawi dan multidimensi.
GFS merekam suara lebih dari 200.000 responden yang tersebar di 22 negara pada enam benua. Uniknya, riset ini tidak hanya mengukur seberapa tebal dompet seseorang. Penilaian didasarkan pada enam dimensi utuh kehidupan, yaitu kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan fisik dan mental, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, serta stabilitas finansial.
Indeks kesejahteraan menyeluruh atau flourishing diambil dari rata-rata keenam pilar tersebut. Dengan metode ini, GFS membuktikan bahwa kualitas hidup yang tinggi tidak melulu soal pendapatan per kapita, melainkan tentang kuatnya ikatan sosial dan kedalaman makna hidup. Terobosan ini sangat penting karena berhasil memperluas cakupan studi kesejahteraan yang dulunya bias pada negara maju, kini merangkul konteks budaya global yang beragam dari negara berkembang hingga adidaya.
10 Negara dengan Skor Flourishing Tertinggi dalam GFS
Data terbaru dari GFS yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Mental Health mengungkap fakta istimewa mengenai peta kesejahteraan dunia. Dalam daftar tersebut, Indonesia menempati posisi puncak dengan skor tertinggi, mengungguli negara-negara lain dari berbagai benua.
Berikut adalah urutan 10 negara dengan skor rata-rata flourishing tertinggi dalam sampel penelitian:
- Indonesia (8.47)
- Meksiko (8.19)
- Filipina (8.11)
- Israel (8.00)
- Nigeria (7.82)
- Argentina (7.79)
- Kenya (7.77)
- Poland (7.63)
- Brazil (7.63)
- Mesir (7.63)
Tingginya skor Indonesia mencerminkan kepuasan responden terhadap aspek kehidupan nonmateri. Namun, capaian ini perlu dipahami sebagai gambaran pengalaman subjektif masyarakat dalam memaknai hidup, bukan sebagai indikator bahwa Indonesia telah terbebas dari tantangan ekonomi atau persoalan kebijakan publik.
Justru sebaliknya, temuan ini menyoroti fakta menarik bahwa kemapanan ekonomi tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan batin, sebagaimana terlihat pada sejumlah negara maju seperti Jepang dan Inggris yang mencatat skor lebih rendah pada aspek makna hidup dan koneksi sosial.
Dalam konteks ini, posisi Indonesia menjadi cermin bahwa meskipun belum sepenuhnya maju secara ekonomi, masyarakat memiliki modal sosial yang kuat berupa keterikatan sosial yang tinggi, rasa persaudaraan yang kental, dan kehidupan yang dirasakan bermakna.
Inilah esensi dari flourishing, bukan semata tentang kekayaan atau kesenangan sesaat, melainkan potret utuh tentang bagaimana warga merasakan hidup mereka berjalan baik secara emosional, sosial, dan spiritual.
Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bagi para pembuat kebijakan bahwa pembangunan tidak cukup berfokus pada kesejahteraan material saja, melainkan perlu diperluas dengan penguatan jaring pengaman sosial, perhatian serius pada kesehatan mental, serta penciptaan ruang bagi setiap warga untuk menemukan makna dan tujuan hidupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar