periskop.id - Stand-up comedy show Mens Rea karya Pandji Pragiwaksono kembali ramai dibicarakan di media sosial. Di platform Netflix, tayangan ini bahkan sempat menduduki posisi teratas sebagai TV Shows Indonesia, menandakan besarnya perhatian publik terhadap materi yang dibawakan.
Di balik popularitas tersebut, Mens Rea bukan sekadar tontonan yang mengundang tawa. Humor yang disajikan kerap menyentuh isu sensitif dan keresahan sosial yang banyak dirasakan, tetapi jarang diungkapkan secara terbuka.
Di sinilah humor berperan lebih dari sekadar hiburan, ia menjadi sarana untuk menyalurkan emosi, meredakan tekanan, sekaligus menyuarakan kegelisahan kolektif. Namun, reaksi penonton pun beragam, ada yang merasa lega dan terwakili, ada pula yang merasa terganggu. Untuk memahami perbedaan respons ini, konsep psikologi katarsis menjadi titik awal penting dalam membaca fenomena Mens Rea.
Apa Itu Katarsis dalam Psikologi?
Katarsis berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘proses pembersihan’ atau ‘pemurnian’. Dalam psikologi, katarsis bisa dipahami sebagai proses melepas beban emosi negatif, seperti stres, marah, atau frustrasi yang selama ini dipendam.
Saat seseorang hidup dalam tekanan sosial, aturan yang terasa mengekang, atau rasa tidak puas terhadap keadaan, tubuh dan otak akan terus memproduksi hormon stres.
Dalam Mens Rea dapat dilihat ketika Panji menyampaikan jokes kasar yang mewakili isi hati banyak orang tapi jarang berani diucapkan, penonton merasakan apa yang disebut social relief.
Ada sensasi lega karena emosi yang terpendam seolah akhirnya menemukan jalan keluar, meski bentuknya lewat tawa. Jadi, tawa di sini bukan cuma soal lucu atau tidak. Tawa berperan sebagai cara alami tubuh untuk menurunkan ketegangan emosional dan membuat perasaan jadi lebih ringan.
Dalam “Humor in Psychology: Coping and Laughing Your Woes Away”, humor memiliki peran penting dalam psikologi sebagai strategi coping (menghadapi stres) yang mampu membantu orang mengurangi tekanan emosional, memperbaiki suasana hati, dan memperkuat hubungan sosial. Humor dapat membantu menyusun ulang cara kita melihat tantangan sehingga pengalaman sulit bisa dipandang lebih ringan dan mudah dikelola.
Saat emosi tersebut dikeluarkan, seseorang biasanya merasa lebih lega, ringan, dan tenang. Dalam teori psikoanalitik, pelepasan emosi ini berkaitan dengan kebutuhan batin untuk meredakan konflik yang sebenarnya tidak selalu disadari.
Karena itu, stres dan rasa frustrasi sering kali bukan muncul tanpa sebab. Keduanya bisa menjadi tanda bahwa ada perasaan yang tertekan atau masalah emosional yang belum terselesaikan dan butuh disalurkan.
Jika terus dipendam, emosi negatif bukan hanya memengaruhi kondisi mental, tapi juga bisa berdampak pada kesehatan fisik. Inilah mengapa penting untuk mengenali perasaan sendiri dan mengekspresikannya dengan cara yang sehat dan positif agar emosi tidak menumpuk dan justru merugikan diri sendiri.
Humor Sebagai Pelepas Ketegangan
Dilansir dari “10 Health Benefits of Laughter” di Healthline, tawa bukan sekadar respons terhadap hal lucu, tetapi juga memicu respons fisik dan psikologis yang membantu meredakan stres dan ketegangan. Tawa terbukti dapat menurunkan kadar hormon stres seperti cortisol, sekaligus meningkatkan produksi neurochemicals yang menenangkan seperti serotonin dan dopamine sehingga membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks.
Efek-efek ini membuat humor menjadi alat pelepas emosi yang aman dan diterima secara sosial karena tawa mampu mengurangi perasaan cemas, meningkatkan suasana hati, serta menciptakan rasa nyaman bahkan saat berada dalam situasi yang menekan.
Humor dan tawa bisa menjadi cara sederhana untuk melepas emosi yang menumpuk. Lewat tawa, seseorang menyalurkan stres dan ketegangan dengan cara yang aman serta bisa diterima secara sosial.
Social Relief: Lega Karena Ada yang Berani Mengatakan Apa yang Kita Rasakan
Ketika seorang komedian seperti Pandji melontarkan humor yang bernada kasar atau menyindir kekuasaan sosial, banyak penonton merasakan apa yang disebut social relief rasa lega karena emosi atau pikiran yang selama ini ditekan akhirnya terwakili oleh orang lain.
Dalam situasi ini, gelak tawa bukan sekadar reaksi humor biasa, tetapi merupakan mekanisme otak untuk menurunkan ketegangan emosional yang muncul dari tekanan sosial atau pengalaman yang tidak terkendali. Hal ini terkait dengan fungsi humor dalam memberikan rasa kelegaan secara sosial maupun psikologis.
Kenapa Ada yang Tersinggung?
Meski banyak orang merasa lega karena emosi atau pikiran yang selama ini ditekan akhirnya terwakili oleh orang lain, individu lain justru merasa tersinggung atau terancam. Ini karena humor yang kasar atau penuh sindiran bisa dipersepsikan sebagai ancaman terhadap norma sosial atau nilai kesopanan. Otak, terutama bagian yang bertanggung jawab pada pemrosesan emosi seperti amigdala, dapat menangkap ancaman sosial ini sebagai hal yang mengganggu sehingga memicu reaksi marah atau defensif.
Menurut pembahasan tentang social threat dalam psikologi emosi yang dirangkum oleh American Psychological Association (APA), humor yang menyinggung norma, nilai, atau identitas tertentu dapat dipersepsikan sebagai ancaman sosial. Ketika hal ini terjadi, otak khususnya bagian yang berperan dalam mendeteksi ancaman emosional merespons dengan rasa tidak nyaman, marah, atau defensif. Inilah sebabnya humor yang bagi sebagian orang terasa melegakan, bagi orang lain justru dianggap berlebihan atau menyerang.
Cara Melepas Emosi Tanpa Harus Lewat Humor
1. Curhat dengan Teman
Bercerita kepada teman tentang masalah atau hal yang mengganggu pikiran bisa menjadi pelepasan emosi yang sederhana tapi efektif. Dengan berbagi cerita, perasaan jadi lebih ringan dan kamu bisa melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.
2. Mendengarkan Musik
Musik tidak hanya menghibur, tapi juga bisa membantu menyalurkan emosi. Lagu tertentu dapat membuat kamu merasa dipahami, tenang, atau bahkan termotivasi untuk bangkit dari perasaan negatif.
3. Menyalurkan Emosi Lewat Seni
Menggambar, melukis, menulis puisi, atau bentuk seni lainnya bisa menjadi media untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Proses berkarya sering kali membuat emosi lebih tersalurkan dan terolah.
4. Berolahraga
Aktivitas fisik, seperti lari, yoga, atau workout membantu tubuh melepaskan ketegangan. Selain menyehatkan, olahraga juga efektif untuk meluapkan emosi kuat dengan cara yang positif.
5. Menulis Jurnal atau Tulisan Ekspresif
Menulis tentang perasaan, pengalaman stres, atau kejadian sulit bisa membantu kamu memahami emosi dengan lebih jernih. Menulis ekspresif juga dapat memberi perspektif baru dan membantu mengurangi beban pikiran.
6. Terapi Psikologis
Dalam beberapa jenis terapi, seperti terapi berfokus emosi atau psikodinamik, katarsis menjadi bagian penting dari proses penyembuhan. Dengan bimbingan profesional, emosi yang terpendam bisa diproses dengan aman.
Tinggalkan Komentar
Komentar