Periskop.id - Indonesia tengah mengalami transformasi urbanisasi yang sangat masif. Fenomena ini melahirkan apa yang disebut sebagai kawasan metropolitan. 

Secara teknis, kawasan metropolitan didefinisikan sebagai kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan inti yang berdiri sendiri atau didampingi oleh kawasan perkotaan di sekitarnya. 

Wilayah-wilayah ini saling memiliki keterkaitan fungsional yang kuat dan dihubungkan oleh sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi.

Salah satu syarat mutlak sebuah wilayah dapat dikategorikan sebagai metropolitan adalah jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya mencapai 1 juta jiwa. 

Keberadaan kawasan ini tidak hanya sekadar tumpukan populasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi nasional dan pusat inovasi. Berikut adalah daftar lengkap kawasan metropolitan di Indonesia.

1. Jabodetabek-Punjur

Jabodetabek-Punjur merupakan kawasan metropolitan paling ikonik dan padat di tanah air. Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 Tahun 2020, wilayah ini mencakup Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Puncak, dan Cianjur.

Kawasan perkotaan inti dari megapolitan ini adalah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. 

Sementara itu, wilayah penyangganya terdiri atas berbagai titik strategis seperti Kawasan Perkotaan Bogor, Cibinong, Cileungsi, Depok, Cinere, Tangerang, Balaraja, Tigaraksa, Ciputat di Tangerang Selatan, hingga Bekasi dan Cikarang sebagai pusat industri.

2. Gerbangkertosusila

Bergeser ke Jawa Timur, terdapat Gerbangkertosusila yang diatur dalam Perpres Nomor 66 Tahun 2022. Kawasan ini meliputi Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, hingga sebagian Perairan Pesisir Jawa Timur.

Kota Surabaya bertindak sebagai pusat atau kota inti. Jaringan metropolitan ini didukung oleh wilayah sekitarnya seperti Sidayu dan Menganti di Gresik, Klampis dan Tanjung Bumi di Bangkalan, Mojosari dan Sooko di Kabupaten Mojokerto, Magersari di Kota Mojokerto, Krian di Sidoarjo, serta Brondong-Paciran dan Babat di Kabupaten Lamongan.

3. Mebidangro

Sumatera Utara memiliki Mebidangro yang ditetapkan melalui Perpres Nomor 62 Tahun 2011. Nama ini merupakan singkatan dari Medan, Binjai, Deli Serdang, dan Karo. 

Kota Medan menjadi pusat pertumbuhan utama, yang didukung oleh mobilitas tinggi dari Binjai serta kecamatan produktif di Deli Serdang seperti Hamparan Perak, Sunggal, Tanjung Morawa, Percut Sei Tuan, Pancur Batu, Lubuk Pakam, dan Galang.

Wilayah Berastagi di Kabupaten Karo juga masuk dalam jaringan ini sebagai penyokong sisi pariwisata dan logistik.

4. Patungraya Agung

Salah satu penambahan terbaru dalam daftar strategis nasional adalah Patungraya Agung melalui Perpres Nomor 23 Tahun 2024. Meliputi Palembang, Betung, Indralaya, dan Kayu Agung, kawasan ini ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) demi kepentingan pertumbuhan ekonomi.

Struktur Patungraya Agung cukup unik karena membagi wilayah menjadi kawasan inti (Palembang dan sebagian Banyuasin), kawasan perkotaan sekitarnya (Betung, Indralaya, Kayu Agung), serta kawasan penyangga lingkungan dan sentra produksi pertanian yang sangat luas mencakup puluhan kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir dan Ogan Komering Ilir.

5. Cekungan Bandung

Berdasarkan Perpres Nomor 45 Tahun 2018, Cekungan Bandung adalah metropolitan yang mengandalkan keterkaitan Kota Bandung dan Kota Cimahi sebagai inti. 

Wilayah penyangganya meliputi area Bandung Barat seperti Padalarang-Ngamprah dan Lembang, wilayah Kabupaten Bandung seperti Soreang, Majalaya, dan Cileunyi, hingga merambah ke Kabupaten Sumedang melalui Kawasan Perkotaan Jatinangor dan Tanjungsari yang dikenal sebagai pusat pendidikan.

6. Kedungsepur

Kedungsepur mencakup Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Semarang, dan Purwodadi. Melalui Perpres Nomor 60 Tahun 2022, kawasan ini diresmikan sebagai KSN dari sudut pandang ekonomi dengan Kota Semarang sebagai titik poros. 

Kawasan ini menghubungkan pusat pemerintahan di Semarang dengan kota satelit industri di Kendal (Kaliwungu, Weleri), wilayah agraris di Grobogan (Purwodadi, Gubug), serta kawasan hunian sejuk di Salatiga dan Ambarawa.

7. Banjarbakula

Kalimantan Selatan memiliki Banjarbakula yang mencakup Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala, dan Tanah Laut. 

Berdasarkan Perpres Nomor 85 Tahun 2024, kawasan ini mengintegrasikan Kota Banjarmasin dan poros Banjarbaru-Martapura sebagai inti. 

Kawasan ini didesain memiliki keterkaitan kuat dengan wilayah pelabuhan di Alalak dan area industri serta pertambangan di Pelaihari, Jorong, hingga Kintap.

8. Sarbagita

Sarbagita diatur dalam Perpres Nomor 45 Tahun 2011, yang merupakan singkatan dari Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Pusatnya terletak pada sinergi antara Kota Denpasar dan Kawasan Perkotaan Kuta.

Jaringan ini sangat vital bagi industri pariwisata global, menghubungkan pusat bisnis di Denpasar dengan destinasi kelas dunia di Jimbaran, Ubud, Sukawati, dan pusat logistik di Tabanan.

9. Bimindo

Bimindo yang mencakup Bitung, Minahasa Utara, dan Manado di Sulawesi Utara memiliki profil yang sedikit berbeda. 

Melansir laporan Proceeding Workshop IBC Metro Bimindo yang dipublikasi oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), Bimindo diposisikan sebagai pusat maritim global karena lokasinya di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI III). 

Melalui KEK Bitung yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) 32 Tahun 2014, Bimindo ditargetkan menjadi hub ekspor-impor dan bagian dari jalur The Belt and Road Initiative yang menghubungkan Indonesia langsung ke pasar Asia Timur dan Pasifik.

10. Mamminasata

Terakhir, Mamminasata di Sulawesi Selatan diatur melalui Perpres Nomor 55 Tahun 2011. Kawasan ini menyatukan Makassar, Maros, Sungguminasa (Gowa), dan Takalar. Kota Makassar berdiri sebagai kota inti yang menjadi pintu gerbang utama bagi wilayah Indonesia Timur. 

Keterkaitan fungsional antara pelabuhan dan bandara di Makassar dengan wilayah penyangga seperti Maros dan Gowa menjadikan Mamminasata salah satu kawasan metropolitan paling dinamis di luar Pulau Jawa.