Periskop.id - Selama dua dekade terakhir, peta kekuatan ekonomi dunia telah mengalami pergeseran paradigma yang sangat signifikan. Dunia tidak lagi hanya bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam atau manufaktur padat karya, melainkan telah bertransformasi menjadi semakin intensif dalam penelitian. 

Mengutip laporan terbaru dari Visual Capitalist, belanja penelitian dan pengembangan (research and development atau R&D) global telah mencapai angka fantastis yakni hampir US$3 triliun pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan lonjakan luar biasa jika dibandingkan dengan tahun 2000 yang saat itu masih berada di bawah angka US$1 triliun.

Kenaikan investasi riset yang mencapai tiga kali lipat dalam kurun waktu 24 tahun ini menandakan bahwa negara negara di dunia mulai memandang inovasi sebagai mata uang baru dalam persaingan global. 

Dalam laporan ini, kita akan membedah negara mana saja yang paling ambisius dalam meningkatkan anggaran riset mereka, serta mengapa posisi Indonesia menjadi sangat menarik di mata internasional.

Data yang disajikan dalam pemeringkatan ini menggunakan metrik tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau Compound Annual Growth Rate (CAGR). Metrik ini mengukur rata rata pertumbuhan tahunan belanja R&D bruto sebuah negara dalam jangka panjang, yakni dari tahun 2000 hingga 2024. 

Data utama bersumber dari World Intellectual Property Organization (WIPO), di mana seluruh angka keuangan telah disesuaikan dengan paritas daya beli atau Purchasing Power Parity (PPP) menggunakan basis nilai dolar AS tahun 2015 untuk memastikan perbandingan yang adil antar negara dengan tingkat inflasi dan kekuatan mata uang yang berbeda beda.

Berikut adalah tabel lengkap peringkat negara yang paling gencar meningkatkan anggaran penelitian mereka:

PeringkatNegaraCAGR (2000-2024)R&D Tahun 2000
(US$ Miliar, PPP 2015)
R&D Tahun 2024
(US$ Miliar, PPP 2015)
1Tiongkok13,1%40,8785,9
2Arab Saudi13,0%0,610,4
3Mesir11,8%1,116,4
4Indonesia11,3%0,810,6
5Kamboja10,4%0,00,1
6Thailand10,1%1,515,1
7Turki9,9%4,543,2
8Vietnam9,3%0,65,1
9Filipina8,6%0,53,5
10Malta8,6%0,00,2
11Maroko8,1%0,32,2
12Namibia8,1%0,00,2
13Estonia7,8%0,10,9
14Siprus7,8%0,10,3
15Malaysia7,6%1,810,2

Tiongkok menduduki peringkat pertama dengan pertumbuhan tahunan sebesar 13,1%. Jika pada tahun 2000 Tiongkok hanya menghabiskan US$40,8 miliar untuk riset, pada tahun 2024 angka tersebut meledak menjadi US$785,9 miliar. 

Lompatan ini menjelaskan mengapa Tiongkok kini mampu memimpin dalam teknologi krusial seperti kendaraan listrik, kecerdasan buatan, dan energi terbarukan. Investasi masif ini telah mengubah wajah ekonomi Tiongkok dari peniru menjadi pemimpin inovasi dunia.

Arab Saudi menempati posisi kedua dengan CAGR 13,0%. Hal ini sejalan dengan visi 2030 mereka untuk mendiversifikasi ekonomi dari ketergantungan minyak menuju ekonomi berbasis pengetahuan. 

Mesir juga menunjukkan performa luar biasa di peringkat ketiga dengan pertumbuhan 11,8%, menunjukkan bahwa kawasan Afrika Utara mulai serius membangun fondasi sains mereka sendiri.

Indonesia sendiri berhasil mencatatkan prestasi gemilang dengan menempati peringkat keempat dunia. Dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata rata sebesar 11,3%, belanja R&D Indonesia melonjak dari US$0,8 miliar pada tahun 2000 menjadi US$10,6 miliar pada tahun 2024. 

Meskipun secara nominal masih jauh dari Tiongkok, kecepatan pertumbuhan ini menunjukkan bahwa pemerintah dan sektor swasta di Indonesia mulai menyadari bahwa ketergantungan pada ekspor bahan mentah harus segera digantikan dengan nilai tambah melalui riset.

Pertumbuhan Indonesia yang melampaui negara negara tetangga seperti Thailand (10,1%), Vietnam (9,3%), dan Malaysia (7,6%) memberikan sinyal positif bagi daya saing nasional di kawasan Asia Tenggara. Namun, tantangan besar tetap ada pada bagaimana memastikan anggaran tersebut terserap secara efektif ke dalam industri manufaktur dan teknologi terapan.

Mengapa Pertumbuhan R&D Menjadi Sangat Krusial?

Pertumbuhan belanja riset bukan sekadar angka di atas kertas. Terdapat beberapa alasan mendasar mengapa investasi ini menjadi penentu nasib sebuah bangsa dalam jangka panjang:

1. Peningkatan Produktivitas Faktor Total

Investasi berkelanjutan dalam R&D non pertahanan memiliki korelasi positif yang kuat dengan peningkatan produktivitas faktor total. 

Artinya, riset memungkinkan sebuah negara untuk menghasilkan lebih banyak output dengan jumlah input yang sama. Inovasi proses dalam manufaktur, misalnya, dapat menurunkan biaya produksi secara drastis sambil meningkatkan kualitas produk.

2. Efek Limpahan (Spillover Effect)

Kegiatan riset memberikan efek limpahan berupa peningkatan efisiensi ekonomi secara keseluruhan. Ketika sebuah laboratorium mengembangkan materi baru, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pemilik paten, tetapi juga merembet ke sektor lain seperti konstruksi, otomotif, hingga kesehatan. 

Hal ini memperkuat kapasitas manufaktur dan mengukuhkan kepemimpinan teknologi sebuah negara.

3. Magnet bagi Talenta Terampil

Negara yang berinvestasi secara efektif dalam riset berada pada posisi yang jauh lebih baik untuk mengembangkan industri maju dan menarik talenta terampil.

Di era modern, persaingan global telah bergeser dari sekadar mencari tenaga kerja berbiaya rendah menjadi persaingan memperebutkan inovasi. Para ilmuwan dan insinyur terbaik dunia akan bergerak menuju negara negara yang menyediakan ekosistem riset yang memadai.

4. Kemandirian Teknologi

Belanja riset yang tinggi memberikan kedaulatan bagi sebuah negara agar tidak terus menerus menjadi pasar bagi teknologi luar negeri. Dengan mengembangkan solusi domestik, negara dapat menyesuaikan teknologi dengan kebutuhan lokal dan menghemat devisa negara.