periskop.id - Selama ini, Gen Z sering kali mendapat label sebagai generasi yang tidak bisa lepas dari konten video pendek dan hiburan instan. Namun, di tahun 2025, potret konsumsi digital di Indonesia menunjukkan perubahan yang cukup mengejutkan. Berdasarkan laporan terbaru dari Jakpat, terjadi pergeseran besar dalam cara masyarakat menghabiskan waktu luang mereka. Aktivitas membaca menunjukkan grafik yang sangat positif dan mulai mendominasi keseharian anak muda.

Fenomena ini terungkap dalam survei Jakpat yang melibatkan 2.240 responden. Data menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara umum mengalami penurunan sekitar 9% dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, layanan streaming film atau Over-The-Top (OTT) yang dulu sempat merajai pasar, kini merosot tajam dari 48% menjadi hanya 14%. Di tengah tren penurunan ini, membaca buku, komik, atau novel digital justru bertahan dan menjadi pilihan utama bagi banyak orang. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat, khususnya anak muda, mulai mencari bentuk hiburan yang lebih bermakna daripada sekadar menonton tayangan yang lewat begitu saja di layar ponsel. 

Gen Z Memimpin Tren Membaca

Jika kita membedah data berdasarkan kelompok usia, terlihat jelas siapa yang memegang kendali dalam tren literasi saat ini. Gen Z menduduki posisi puncak dengan persentase aktivitas membaca mencapai 26%. Angka ini cukup jauh meninggalkan generasi di atasnya, yaitu kaum Milenial yang berada di angka 20% dan Gen X yang hanya menyentuh 18%. Fakta ini mematahkan anggapan lama yang menyebutkan bahwa generasi senior lebih tekun membaca dibandingkan anak muda. Justru saat ini, anak muda yang lahir di era digital inilah yang paling rajin membaca.

Perbedaan angka ini mencerminkan adanya perubahan prioritas dalam menghabiskan waktu. Gen Z tampak lebih memilih untuk mendalami sebuah cerita atau informasi melalui teks dibandingkan hanya menjadi penonton pasif. Aktivitas membaca ini memberikan ruang bagi mereka untuk lebih berimajinasi dan memproses informasi dengan kecepatan mereka sendiri. Sementara generasi yang lebih tua mungkin masih terjebak dalam rutinitas konten digital yang repetitif, Gen Z sudah melangkah lebih jauh dengan menjadikan buku sebagai pelarian yang produktif. Bagi mereka, membaca bukan lagi sekadar hobi sampingan, melainkan aktivitas utama yang memberikan kepuasan intelektual lebih tinggi dibandingkan sekadar menonton tayangan streaming.

Melawan Konten 15 Detik: Mengapa Gen Z Kembali ke Buku?

Penyebab utama mengapa Gen Z begitu dominan dalam urusan membaca adalah adanya perubahan persepsi yang sangat mendasar. Jika dulu buku sering kali identik dengan tugas sekolah yang membosankan atau tumpukan teks berat yang membuat kantuk, kini bagi Gen Z, buku adalah bagian dari gaya hidup sehat. Membaca telah bertransformasi menjadi sarana untuk mencari ketenangan mental di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Mereka merasa bahwa dengan membaca, mereka bisa mendapatkan kedalaman makna yang tidak ditemukan dalam video berdurasi 15 detik.

Buku kini dianggap sebagai alat untuk mencari jati diri dan memperluas cakrawala berpikir. Tren ini juga sejalan dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat kenaikan indeks minat baca nasional meningkat dari 66,77% pada tahun 2023 menjadi 72,44% pada tahun 2024.

Perubahan ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai sadar akan pentingnya kualitas informasi yang mereka konsumsi. Membaca tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang kaku, melainkan sebuah cara untuk merawat kesehatan pikiran dan emosi. Ketika seseorang membaca, mereka sedang melakukan investasi pada diri sendiri, dan Gen Z adalah kelompok yang paling menyadari hal tersebut saat ini.

Bagaimana Media Sosial Mengubah Membaca Menjadi Aktivitas Paling Keren

Kenaikan minat baca ini uniknya tidak terjadi karena Gen Z meninggalkan teknologi, melainkan karena mereka memanfaatkan teknologi dengan cara yang berbeda. Media sosial seperti TikTok dan Instagram melalui komunitas BookTok dan Bookstagram berperan besar dalam mengemas aktivitas membaca menjadi sesuatu yang sangat keren. Algoritma media sosial berhasil mempromosikan buku dengan cara yang visual dan emosional, membuat siapa pun yang melihatnya merasa bahwa membaca adalah bagian dari identitas sosial yang eksklusif dan menarik.

Dua sub-komunitas besar ini telah mengubah wajah literasi dari kegiatan yang sunyi menjadi tren sosial yang sangat interaktif. Melalui ulasan buku yang menarik, rekomendasi bacaan yang menyentuh perasaan, hingga tantangan membaca bersama, buku kini menjadi simbol status baru. Membaca buku tertentu bisa membuat seseorang merasa terhubung dengan komunitas global yang memiliki minat serupa.