periskop.id - Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Berjangka, Ibrahim Assuabi, merevisi proyeksi harga emas dunia dan logam mulia untuk 2026 seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan keterbatasan pasokan di dalam negeri.
Ibrahim memperkirakan harga emas dunia berpotensi menembus level Rp6.500 per troy ounce pada 2026, setelah sebelumnya telah menyentuh kisaran Rp5.598. Seiring dengan itu, proyeksi harga logam mulia di dalam negeri juga direvisi naik dari sebelumnya Rp3,5 juta menjadi sekitar Rp4,2 juta per gram pada 2026.
"Ingat, logam mulia yang tanggal 24 Desember saya mengatakan akan ke level diprediksi itu di Rp3,5 juta. Ini berubah, saya revisi menjadi Rp4,2 per gram," kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (29/1).
Ia menjelaskan, revisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, ketegangan geopolitik menjadi pendorong utama, mulai dari perang dagang, dinamika politik Amerika Serikat, kebijakan bank sentral AS, hingga potensi konflik di Timur Tengah yang berisiko mengganggu pasokan minyak dunia.
Menurut Ibrahim, meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dan memicu inflasi global. Kondisi ini biasanya mendorong investor mengalihkan aset ke emas sebagai instrumen lindung nilai (safe haven).
"Kalau seandainya terjadi perang kemungkinan besar harga minyak akan melambung tinggi dan ini akan membuat inflasi tinggi," tuturnya.
Selain itu, kebijakan perdagangan dan geopolitik Amerika Serikat, termasuk potensi embargo energi dan memanasnya hubungan dengan sejumlah negara, turut memperbesar risiko ketidakpastian global. Situasi tersebut, kata dia, juga mendorong pelemahan dolar AS dan memperkuat minat investor terhadap emas.
"Sehingga ini akan membuat harga emas dunia terus mengalami kenaikan," ujarnya.
Dari sisi domestik, Ibrahim menyoroti keterbatasan pasokan logam mulia di dalam negeri. Meski pemerintah telah menerapkan bea keluar bijih logam mulia sebesar 7,5% hingga 15%, ekspor tetap berlangsung karena mayoritas tambang emas dikelola oleh investor asing yang terikat kontrak ekspor.
"Karena yang mengeksplorasi tambang emas di dalam negeri kebanyakan adalah investor-investor asing yang mereka sudah mempunyai mempunyai perjanjian ya bahwa pada saat nanti eksplorasi kami yang memiliki dana nanti barang harus dibawa ke saya, ke luar negeri," bebernya.
Ia menambahkan, produksi emas dalam negeri, termasuk dari fasilitas pemurnian yang diperkirakan mulai beroperasi pada Mei 2026 dengan kapasitas sekitar 25 ton, dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan domestik. Kondisi ini semakin memperkuat tekanan kenaikan harga logam mulia di pasar dalam negeri.
"Produksi logam mulia di dalam negeri tidak akan bisa memenuhi ya kuota dari para konsumen. Walaupun ya Indonesia pun juga melakukan impor untuk logam mulia ya dari Singapura, dari Tiongkok, India maupun Malaysia ya tetapi itu pun juga masih belum bisa memenuhi permintaan dari masyarakat," ungkapnya.
Tak hanya itu, Ibrahim bilang faktor domestik juga termasuk dinamika politik dan kebijakan ekonomi di Indonesia yang dinilainya turut memengaruhi sentimen pasar.
"Kebijakan ya perpolitikan di Indonesia pun juga kita melihat semakin memanas ya walaupun kita lihat kebijakan-kebijakan dari Kementerian Keuangan yang kemarin mengatakan bahwa ekonomi Indonesia itu tidak ada kaitannya dengan masalah global ya ini pun juga salah kaprah," ucapnya.
Ia menilai kebijakan-kebijakan ekonomi yang tidak selaras dengan kondisi global berpotensi menimbulkan gangguan pada pasar domestik dan memperbesar ketidakpastian di kalangan pelaku usaha dan investor.
Di sisi lain, Ibrahim memandang independensi Bank Indonesia masih akan tetap terjaga, meskipun terdapat perubahan dalam jajaran pimpinan bank sentral.
"Karena apa? Karena Thomas Diwan Jono pun juga sudah keluar dari Partai Gerindra ya kemudian mereka berkarir di Deputi Gubernur Bank Indonesia," tambahnya.
Lebih lanjut, Ibrahim juga memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak terbatas pada 2026 dan berpotensi berada di kisaran Rp17.500 per dolar AS. Pergerakan rupiah tersebut, menurutnya, turut memengaruhi harga emas dan logam mulia di dalam negeri.
Tinggalkan Komentar
Komentar