periskop.id - Kiswah Ka’bah selama ini dipandang sebagai simbol jutaan doa, harapan, dan air mata umat Islam di seluruh dunia. Namun, dokumen terbaru membuka fakta yang sulit diterima, pada 2017, potongan kain suci ini diduga dikemas dengan label karya seni dan diterbangkan ke Florida untuk Jeffrey Epstein.
Mengapa seorang predator seksual internasional menginginkan artefak sesakral ini? Siapa saja pihak yang menjadi perantara hingga pengiriman tersebut bisa terjadi? Dan benarkah jaringan kekuasaan serta koneksi intelijen global menjadi jalan pintas yang memungkinkan Epstein memiliki benda yang seharusnya nyaris mustahil diakses?
Rangkaian pertanyaan ini membawa kita masuk ke labirin Epstein files, tumpukan dokumen yang perlahan mengungkap fakta-fakta mengejutkan di balik pertemuan antara kesucian, kekuasaan, dan sisi tergelap manusia.
Kenapa Kiswah Begitu Berarti?
Sebelum membahas bagaimana kain itu bisa dikirim, penting untuk memahami dulu mengapa isu ini memicu kemarahan publik. Kiswah bukan kain hitam biasa. Ia adalah simbol kesucian umat Islam sekaligus karya seni bernilai tinggi yang menutupi Ka’bah di Makkah. Kiswah dibuat dari sutra murni dan dihiasi sulaman ayat Al-Qur’an dengan benang emas dan perak. Proses pembuatannya sangat mahal, menelan biaya miliaran rupiah dan berada di bawah pengawasan ketat Kerajaan Arab Saudi.
Setiap tahun, kiswah lama diganti dengan yang baru. Kain yang sudah dilepas tidak diperlakukan sembarangan. Arab Saudi memiliki aturan sangat ketat dalam pengelolaannya. Potongan kiswah lama biasanya hanya diberikan kepada kepala negara, lembaga resmi, atau museum ternama sebagai bentuk penghormatan tingkat tinggi.
Karena itu, publik terkejut ketika dokumen Epstein mengungkap bahwa potongan kiswah justru dikirim ke kediaman seorang terpidana kasus perdagangan anak. Pertanyaan besar pun muncul, bagaimana mungkin protokol seketat itu bisa dilanggar?
Bagi umat muslim, kiswah diyakini menyimpan jutaan doa dan harapan. Dalam salah satu email yang terungkap, pengirim bahkan menyebut kain tersebut telah disentuh oleh lebih dari 10 juta orang yang menitipkan air mata dan doa mereka. Fakta bahwa benda sesuci ini berada di lingkungan yang terkait dengan sejarah kelam Epstein di Florida menciptakan rasa perih dan kontradiksi mendalam bagi banyak orang.
Aktor Kunci Pengiriman Kiswah
Lalu, siapa yang menjadi perantara sehingga Epstein bisa mendapatkan kiswah Ka’bah? Dokumen korespondensi pada Februari–Maret 2017 menyebut dua nama kunci, yaitu Aziza Al-Ahmadi, pengusaha perempuan asal Uni Emirat Arab, dan rekannya, Abdullah Al-Maari. Al-Ahmadi diduga berperan sebagai penghubung utama. Sementara itu, Al-Maari disebut memiliki akses langsung untuk memperoleh kain tersebut dari Arab Saudi.
Data pengiriman menunjukkan bahwa proses ini tidak dilakukan secara diam-diam. Kiswah dikirim menggunakan jalur kargo udara resmi, bukan dibawa secara pribadi. Kain tersebut diterbangkan dari Arab Saudi ke Florida dengan maskapai British Airways. Dokumen pengiriman mencakup faktur, berkas bea cukai, hingga pengaturan pengantaran di Amerika Serikat. Semua ini menunjukkan proses logistik yang rapi dan profesional, layaknya pengiriman barang mewah legal.
Menariknya, kiriman tersebut bukan hanya satu potong kain. Ada tiga jenis kain yang diterima di rumah Epstein. Pertama, satu potong dari bagian dalam Ka'bah. Kedua, satu potong dari kiswah bagian luar yang sebelumnya pernah digunakan untuk menutupi Ka'bah. Ketiga, satu potong lain dari bahan yang sama, tetapi tidak pernah digunakan sebagai penutup Ka'bah.
Dalam dokumen, ketiganya disebut sebagai karya seni. Namun, di balik label tersebut, terdapat pesan-pesan pribadi yang memperlihatkan kedekatan Al-Ahmadi dengan Epstein, termasuk perhatian pribadinya saat pulau milik Epstein diterpa badai.
Tiket Khusus Sang Predator
Membaca deretan email ini rasanya seperti menyusun kepingan teka-teki yang belum lengkap. Muncul pertanyaan besar, untuk apa Epstein menginginkan kain kiswah? Apakah hanya untuk koleksi seni mahal, supaya dianggap terpandang secara sosial, atau ada motif tersembunyi lainnya? Kejanggalan makin terasa saat asisten Epstein, Lesley Groff, mengirimkan alat uji Deoxyribonucleic Acid (DNA) kepada Al-Ahmadi. Sampai detik ini, tidak ada yang tahu pasti untuk apa alat itu dikirim, semuanya masih terkubur misterius di balik jutaan halaman dokumen yang ada.
Namun, isu ini ternyata lebih dalam dari sekadar urusan barang antik. Di akhir dokumen, terungkap sebuah memo Federal Bureau of Investigation (FBI) yang cukup mengejutkan, Epstein diduga bekerja sama dengan intelijen Amerika Serikat dan Israel. Ia diketahui punya hubungan dekat dengan mantan Perdana Menteri (PM) Israel, Ehud Barak, serta tokoh-tokoh dunia seperti Bill Gates hingga Pangeran Andrew dari Inggris. Jaringan kekuasaan yang luar biasa inilah yang diduga menjadi tiket masuk bagi Epstein untuk bisa mendapatkan benda-benda sangat eksklusif, bahkan yang bersifat terlarang sekali pun.
Terbukanya dokumen-dokumen ini di tahun 2026 menjadi tamparan keras bagi dunia. Kita dipaksa melihat kenyataan pahit bahwa uang dan kekuasaan bisa menembus batas-batas kesucian agama. Meski Epstein sudah meninggal sejak 2019, warisan rahasianya terus membongkar jaringan gelap yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan. Kasus kain kiswah ini menjadi bukti bahwa skandal Epstein adalah labirin tanpa ujung yang tidak hanya melukai nilai kemanusiaan, tapi juga martabat budaya dan agama.
proofreader: Silvia Sakinah
Tinggalkan Komentar
Komentar