periskop.id - Nama-nama besar Indonesia mendadak ikut terseret dalam pusaran dokumen hukum Jeffrey Epstein, memicu beragam spekulasi liar di ruang publik. Namun, setelah ditelusuri lebih jauh, tabir misteri itu perlahan terangkat. Dari proposal penulisan buku sejarah tentang Soeharto, hingga analisis kemenangan politik Joko Widodo dalam laporan JP Morgan, kumpulan dokumen ini ternyata berisi arsip yang sangat luas, acak, dan sering kali jauh dari nuansa sensasional.
Alih-alih mengungkap skandal tersembunyi, fakta di lapangan justru menunjukkan bahwa sebagian besar penyebutan Indonesia berkaitan dengan urusan teknis laporan ekonomi dan diplomasi global. Lantas, apa sebenarnya makna di balik 902 kali penyebutan Indonesia dalam Epstein files?
1. Laporan FBI: Nama Hary Tanoe Terkait Relasi Bisnis Trump
Salah satu nama yang langsung menyita perhatian dalam dokumen tersebut adalah pengusaha media ternama, Hary Tanoesoedibjo. Namanya tercatat dalam laporan Federal Bureau of Investigation (FBI) bertanggal Oktober 2020 dengan kop “Federal Bureau of Investigation – CHS Reporting”. Menariknya, dokumen ini berstatus unclassified, artinya bukan dokumen rahasia.
Dalam laporan itu, Hary Tanoe digambarkan sebagai miliarder asal Indonesia yang memiliki hubungan bisnis dengan Donald Trump, khususnya dalam pengembangan proyek hotel mewah. Bagi pengamat bisnis global, kemunculan namanya sebenarnya bukan hal mengejutkan. Saat itu, Trump masih menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat sehingga siapa pun yang memiliki relasi bisnis erat dengannya wajar masuk dalam lingkup pencatatan atau pengumpulan informasi rutin oleh otoritas keamanan Amerika Serikat (AS).
Hal penting yang kerap disalahpahami, yaitu pencantuman nama Hary Tanoe dalam Epstein files tidak berarti ia memiliki hubungan langsung dengan Epstein. Dokumen tersebut lebih menyerupai peta jaringan tokoh-tokoh di sekitar Trump yang secara administratif ikut terlampir dalam kumpulan dokumen hukum terkait penyelidikan Epstein. Dengan kata lain, konteksnya berada di ranah bisnis properti dan diplomasi ekonomi, bukan indikasi keterlibatan dalam aktivitas ilegal yang sedang diselidiki.
2. Pilpres 2014: Alasan Nama Jokowi Tercatat di Dokumen DOJ
Nama Presiden Joko Widodo muncul dalam dokumen yang beredar bukan karena hubungan personal dengan Epstein, melainkan dalam konteks analisis politik dan ekonomi internasional. Jokowi tercatat dalam laporan JP Morgan Global Asset Allocation tertanggal 25 Juli 2014, sebuah dokumen analisis pasar yang membahas kondisi ekonomi global, termasuk negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Pada periode tersebut, JP Morgan tengah menyusun strategi alokasi aset global dan menempatkan Pemilihan Presiden Indonesia sebagai salah satu peristiwa politik paling penting di kawasan Asia. Laporan itu mencatat kemenangan Jokowi berdasarkan pengumuman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan selisih suara yang signifikan. Fakta ini menegaskan bahwa pencantuman nama Jokowi berkaitan dengan meningkatnya perhatian pasar global dan investor internasional terhadap stabilitas Indonesia, bukan karena keterkaitan pribadi atau hubungan apa pun dengan Epstein.
3. Jabatan World Bank: Dasar Nama Sri Mulyani Masuk Arsip
Berbeda konteksnya, nama Sri Mulyani Indrawati ditemukan dalam arsip internal World Bank Group tahun 2014, saat ia menjabat sebagai managing director. Dokumen tersebut membahas isu-isu teknis kelembagaan, termasuk unit kerja seperti President’s Delivery Unit.
Sebagai lembaga keuangan internasional berskala global, World Bank memiliki ribuan laporan, memo, dan korespondensi resmi. Ketika kumpulan dokumen yang dikenal sebagai Epstein Files mencakup arsip dari berbagai institusi internasional, nama pejabat publik seperti Sri Mulyani secara otomatis ikut tercantum karena posisi dan peran institusionalnya. Pencantuman ini tidak berkaitan dengan isu hukum, aktivitas ilegal, maupun skandal apa pun yang melibatkan Epstein.
4. Nama Soeharto Muncul dalam Usulan Proyek Buku Gregory Brown
Ada satu temuan lain yang cukup unik, yakni munculnya nama Presiden ke-2 RI, Soeharto. Namun, kemunculan ini sama sekali tidak perlu dibayangkan sebagai keterlibatan personal dengan Jeffrey Epstein, apalagi dikaitkan dengan kunjungan ke pulau pribadinya.
Nama Soeharto tercantum dalam sebuah usulan proyek penulisan buku yang diajukan oleh seorang penulis bernama Gregory Brown. Brown mengirimkan proposal tersebut kepada Epstein. Proposal itu berisi gagasan penulisan buku sejarah tentang Soeharto.
Penting dicatat, dokumen ini bukan bukti adanya hubungan pribadi antara Soeharto dan Epstein. Soeharto disebut murni sebagai objek kajian sejarah dan politik, bukan sebagai pihak yang terlibat langsung atau memiliki komunikasi dengan Epstein.
Justru dari sini terlihat jelas betapa luas dan acaknya isi yang disebut sebagai Epstein Files. Di dalam kumpulan dokumen tersebut terdapat beragam berkas, mulai dari proposal bisnis yang tak pernah disetujui, draf buku yang tidak pernah terbit, hingga dokumen-dokumen sepele tanpa kaitan hukum. Masuknya nama Soeharto hanyalah satu contoh dari ribuan proposal yang pernah mampir di meja Epstein, tanpa tindak lanjut, tanpa relasi personal, dan tanpa kerja sama nyata.
5. Foto Bali: Dokumentasi Perjalanan Wisata di Tahun 2000-an
Terakhir, kita tidak bisa mengabaikan munculnya nama Bali. Dalam dokumen Epstein Files, ditemukan berkas bernomor EFTA00129111 yang memuat foto seorang perempuan dengan keterangan “Before a group/gang training exercise in Bali”. Selain itu, terdapat pula katalog foto berjudul Clinton Far East yang berisi puluhan gambar dengan nama file seperti Bali09.JPG hingga Bali50.JPG.
Isi foto-foto tersebut menampilkan lanskap Bali yang khas dan indah, mulai dari pantai, pura, hingga kawasan resor mewah. Sekilas, temuan ini memang terdengar mencurigakan. Namun, dokumen yang beredar tidak menyertakan keterangan waktu, lokasi spesifik, maupun informasi apakah foto-foto tersebut diambil langsung oleh Epstein.
Jika melihat konteksnya, kemunculan Bali sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Epstein dikenal memiliki jaringan internasional luas serta jet pribadi yang kerap berpindah dari satu negara ke negara lain. Bali, sebagai destinasi wisata kelas dunia, wajar masuk dalam rute perjalanan Epstein atau lingkaran pergaulannya.
Hingga saat ini, tidak ada konfirmasi resmi dari otoritas yang menyatakan adanya keterkaitan langsung antara aktivitas ilegal jaringan Epstein dengan Bali. Foto-foto tersebut sangat mungkin hanyalah dokumentasi perjalanan wisata atau survei lokasi, praktik yang lazim dilakukan kalangan jet set global, terutama pada era 2000-an.
Tinggalkan Komentar
Komentar