Periskop.id - Kediaman pribadi Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi, mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. 

Bukan karena agenda politik atau kunjungan pejabat, melainkan karena munculnya label tidak biasa di Google Maps. Rumah tersebut ditandai dengan nama “Tembok Ratapan Solo”.

Kemunculan label ini membuat banyak warganet bertanya-tanya. Bagaimana bisa rumah seorang mantan presiden diberi nama yang merujuk pada situs keagamaan di Yerusalem?

Rumah pribadi Jokowi beralamat di Jalan Kutai Utara No. 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah. Sejak Jokowi menyelesaikan masa jabatannya pada Oktober 2024 dan kembali menetap di Solo, kediaman tersebut memang kerap ramai dikunjungi.

Warga dari berbagai daerah datang untuk bersilaturahmi, berfoto, atau sekadar melihat langsung rumah mantan kepala negara. Tidak hanya masyarakat umum, sejumlah pejabat, menteri, hingga tokoh politik juga terlihat beberapa kali berkunjung.

Aktivitas kunjungan ini membuat area sekitar rumah sering menjadi titik kumpul masyarakat.

Asal Mula Julukan “Tembok Ratapan Solo”

Istilah “Tembok Ratapan Solo” mulai ramai dibicarakan setelah beredarnya beberapa video di media sosial. 

Dalam rekaman yang viral, terlihat warga mengantre di depan gerbang rumah Jokowi. Sebagian tampak memegang pagar atau tembok, sementara yang lain terlihat duduk bersila dan melakukan tahlilan.

Cuplikan video tersebut memicu berbagai komentar dan interpretasi dari warganet. Tidak lama kemudian, muncul label “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps pada lokasi rumah tersebut.

Perlu diketahui, penamaan lokasi di Google Maps dapat dilakukan oleh pengguna melalui fitur kontribusi publik. Sistem ini memungkinkan siapa pun mengusulkan perubahan nama atau informasi lokasi. 

Karena bersifat user generated, label seperti ini bisa muncul dan berubah sewaktu-waktu, tergantung proses verifikasi dan kebijakan platform.

Artinya, kemunculan nama tersebut bukan berasal dari otoritas resmi, melainkan dari kontribusi pengguna.

Menurut pantuan Periskop pada Rabu (18/2), label tersebut telah tidak ada di Google Maps. Itu artinya, ketika Anda melakukan pencarian dengan kata kunci “Tembok Ratapan Solo”, sudah tidak akan muncul alamat tersebut.

Mengapa Disebut “Tembok Ratapan”?

Istilah “Tembok Ratapan” merujuk pada Tembok Barat di Kota Lama Yerusalem. Situs ini merupakan sisa dinding Bait Suci yang dibangun pada masa Raja Herodes dan hancur pada tahun 70 Masehi ketika terjadi pemberontakan terhadap Kekaisaran Romawi.

Bagi umat Yahudi, Tembok Barat adalah tempat yang dianggap suci. Mereka datang untuk berdoa, meratap, serta menyisipkan kertas berisi doa di celah-celah dinding. Karena praktik doa dan ratapan inilah, tempat tersebut dikenal luas sebagai Tembok Ratapan.

Analogi ini kemudian digunakan oleh warganet untuk menggambarkan situasi di depan rumah Jokowi. Pagar atau tembok rumah tersebut dianggap menjadi titik temu aspirasi, harapan, atau keluhan masyarakat yang datang dari berbagai daerah.

Penyematan istilah ini bersifat simbolik dan satir, yang lahir dari dinamika percakapan di media sosial.