periskop.id - Banyak orang masih bertanya-tanya apakah boleh menikah di bulan puasa? Apalagi, Ramadan dikenal sebagai bulan suci yang penuh ibadah sehingga muncul anggapan bahwa pernikahan sebaiknya ditunda. Padahal, dalam Islam tidak ada larangan melangsungkan akad nikah di bulan Ramadan. Yang dilarang adalah melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti hubungan suami istri di siang hari. Selama aturan ini dijaga, menikah di bulan puasa tetap sah dan diperbolehkan.

Nikah di Bulan Puasa: Sah atau Tidak?

Tidak ada aturan khusus soal kapan seseorang harus menikah, termasuk jika ingin melangsungkan pernikahan di bulan Ramadan. Pada dasarnya, tidak ada larangan menikah di bulan suci ini. Yang dilarang adalah melakukan hubungan suami istri di siang hari saat berpuasa karena bisa membatalkan puasa.

Menurut cendekiawan Muslim Quraish Shihab dalam bukunya M. Quraish Shihab Menjawab 1001 Soal Keislaman yang Patut kamu Ketahui, pada dasarnya tidak ada larangan menikah di bulan Ramadan. Yang dilarang adalah melakukan hubungan suami istri (jima’) di siang hari saat sedang berpuasa.

Beliau menjelaskan, kekhawatiran biasanya muncul karena pasangan yang baru menikah bisa saja tergoda untuk melakukan hal yang membatalkan puasa. Itulah sebabnya sebagian orang memilih menikah sebelum atau setelah Ramadan. Namun, jika akad tetap dilangsungkan di bulan puasa, hukumnya sah, dan jika mempelai sedang berpuasa, puasanya juga tetap sah selama tidak melanggar ketentuan puasa.

Selain itu, tidak ada dalil khusus yang menyebutkan waktu tertentu lebih utama untuk menikah. Dalam Islam, yang paling penting dari sebuah pernikahan adalah niat dan tujuan yang baik, bukan semata-mata kapan waktunya dilaksanakan.

Pendapat ini juga ditegaskan oleh Muhammad Salih Al-Munajjid. Ia menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada ketentuan yang melarang pernikahan di bulan Ramadan. Yang terpenting dalam sebuah pernikahan bukanlah kapan waktunya dilaksanakan, tetapi niat, kesiapan, dan tujuan baik yang melandasinya.

Meski begitu, perlu diingat bahwa puasa bukan hanya menahan lapar dan haus dari fajar hingga magrib. Umat Islam juga diwajibkan menahan hawa nafsu. Aturan ini berlaku bagi semua orang yang berpuasa, termasuk mereka yang sudah sah sebagai suami istri.

Hal yang Perlu Dipahami Jika Menikah di Bulan Puasa

1. Jaga Kesucian Ramadan

Menjadi pengantin baru tentu penuh gairah. Tapi kalau menikah di bulan Ramadan, kamu dan pasangan harus ekstra menahan diri. Hubungan suami istri tidak boleh dilakukan di siang hari karena bisa membatalkan puasa.

Hal ini ditegaskan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 187 bahwa hubungan intim diperbolehkan pada malam hari hingga sebelum waktu fajar.

Jika tetap nekat melakukan jima di siang hari saat puasa, bukan hanya berdosa, tapi juga wajib membayar kaffarat (denda), yaitu:

  • Memerdekakan budak (jika memungkinkan),
  • Atau berpuasa 60 hari berturut-turut,
  • Atau memberi makan 60 orang fakir miskin.

2. Tantangan Menggelar Resepsi

Mengadakan resepsi di bulan Ramadan tentu tidak semudah bulan biasa. Tidak bisa dilakukan siang hari karena tamu sedang berpuasa. Jika dilakukan saat berbuka, waktunya terbatas karena setelah magrib ada salat Tarawih.

Karena itu, banyak pasangan memilih hanya melangsungkan akad terlebih dahulu, lalu resepsi diadakan setelah Ramadan.

3. Ada Keberkahan di Bulan Ramadan
Ramadan dikenal sebagai bulan penuh ampunan dan doa yang mudah dikabulkan. Rasulullah Saw. bersabda bahwa setiap hari di bulan Ramadan Allah membebaskan hamba dari api neraka dan doa orang yang berpuasa dikabulkan.

Artinya, menikah di bulan ini bisa menjadi momen penuh doa dan keberkahan, apalagi pernikahan sendiri adalah ibadah.

4. Fokus pada Sahnya Akad dan Ibadah

Jika memilih menikah di bulan Ramadan, sebaiknya fokus pada:

  • Keabsahan akad secara agama
  • Legalitas di KUA
  • Menjaga ibadah puasa tetap sempurna

Sementara resepsi atau perayaan bisa dilakukan di waktu lain agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.

Tips Menikah di Bulan Puasa

1. Tentukan Waktu yang Pas
Ramadan punya ritme yang berbeda dari bulan biasa. Karena ada sahur, puasa, dan tarawih, sebaiknya pilih waktu akad yang tidak mengganggu ibadah. Momen menjelang berbuka atau setelah salat Tarawih bisa jadi pilihan yang lebih nyaman.

2. Susun Acara Tanpa Ganggu Ibadah
Rencanakan rangkaian acara dengan bijak agar tidak bentrok dengan waktu sahur, berbuka, atau Tarawih. Pastikan tamu tetap bisa menikmati acara tanpa terburu-buru meninggalkan ibadahnya.

3. Pilih Konsep Sederhana tapi Bermakna
Suasana Ramadan sudah terasa sakral dan penuh kekhusyukan. Jadi, nggak perlu pesta berlebihan. Konsep sederhana justru bisa membuat akad terasa lebih hangat, intim, dan berkesan.

4. Jadikan Momen untuk Banyak Berdoa
Ramadan dikenal sebagai bulan mustajab doa. Manfaatkan momen pernikahan untuk berdoa bersama keluarga dan tamu agar rumah tangga yang dibangun mendapat perlindungan dan keberkahan.

5. Ganti Hidangan dengan Bingkisan Ramadan
Karena tamu sedang berpuasa, sajian makanan bisa diganti dengan bingkisan atau hampers Ramadan. Isinya bisa berupa kue kering, kurma, air mineral, sirup, atau paket sembako sederhana. Selain lebih praktis, bingkisan juga terasa lebih relevan dengan suasana Ramadan dan bisa dibawa pulang untuk dinikmati saat berbuka.