Periskop.id - Kurma telah menjadi komoditas pangan yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia, terutama menjelang momen besar seperti Ramadan dan Idul Fitri.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, ketergantungan terhadap impor buah dari pohon palma ini tetap tinggi karena faktor iklim yang membuat produksi lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat hal menarik pada negara asal impor kurma Indonesia sepanjang tahun 2025. Mesir tercatat masih menjadi pemasok utama yang mendominasi pasar, baik dari sisi nilai ekonomi maupun volume barang.
Dominasi Tiga Besar: Mesir, Arab Saudi, dan Emirat Arab
Mesir mengokohkan posisinya di peringkat pertama dengan total volume pengiriman mencapai 24,23 ribu ton. Nilai perdagangan dari Negeri Piramida ini menembus angka US$22,39 juta.
Tingginya angka ini disebabkan oleh preferensi konsumen Indonesia terhadap varietas kurma asal Mesir yang dinilai memiliki harga kompetiti, namun dengan kualitas yang baik.
Di posisi kedua, Arab Saudi menyusul dengan volume sebesar 11,51 ribu ton dan nilai impor mencapai US$13,05 juta. Sebagai negara yang identik dengan kurma kualitas premium seperti Ajwa atau kurma nabi, Arab Saudi tetap memegang pangsa pasar yang kuat di tanah air.
Emirat Arab berada di peringkat ketiga dengan kontribusi sebesar 7,65 ribu ton senilai US$10,04 juta. Ketiga negara ini secara kolektif menguasai sebagian besar pasokan kurma yang beredar di supermarket hingga pasar tradisional di Indonesia.
Tunisa dan Palestina: Harga Tinggi untuk Volume Kecil
Fenomena menarik terlihat pada posisi keempat yang ditempati oleh Tunisia. Meskipun secara volume hanya mengirimkan 3,29 ribu ton yang jauh di bawah Emirat Arab, namun nilai impornya mencapai angka yang fantastis yaitu US$9,79 juta.
Hal ini menunjukkan bahwa kurma asal Tunisia, seperti varietas Deglet Nour, memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi atau masuk dalam kategori kelas premium di pasar Indonesia.
Palestina menduduki peringkat ketujuh dalam daftar ini. Meskipun volumenya relatif kecil yakni 418,4 ton, nilai impornya mencapai US$2,39 juta Dolar AS.
Ini mengindikasikan bahwa produk kurma dari Palestina, seperti jenis Medjool, memiliki nilai ekonomi yang tinggi per kilogramnya di pasar domestik.
Peringkat Menengah dan Keragaman Negara
Di jajaran peringkat menengah, Iran menempati posisi kelima dengan volume 2,53 ribu ton senilai US$3,81 juta, disusul oleh Aljazair di posisi keenam dengan volume 2,77 ribu ton senilai US$3,27 juta.
Data juga memperlihatkan keberagaman asal impor yang mencapai luar wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Amerika Serikat menempati posisi kedelapan dengan pengiriman kurma premium sebanyak 143,4 ton.
Selain itu, negara-negara seperti India, Afrika Selatan, bahkan negara tetangga di Asia Tenggara seperti Myanmar, juga turut masuk dalam daftar pemasok kurma untuk pasar Indonesia.
Berikut adalah rincian lengkap 15 negara asal impor kurma Indonesia pada tahun 2025:
| Peringkat | Negara | Nilai (US$) | Volume (Kg) |
| 1 | Mesir | 22.386.649 | 24.232.105 |
| 2 | Arab Saudi | 13.052.718 | 11.511.914 |
| 3 | Emirat Arab | 10.039.384 | 7.654.871 |
| 4 | Tunisia | 9.787.468 | 3.292.821 |
| 5 | Iran | 3.808.080 | 2.535.389 |
| 6 | Aljazair | 3.272.058 | 2.771.235 |
| 7 | Palestina | 2.387.702 | 418.435 |
| 8 | Amerika Serikat | 1.412.106 | 143.378 |
| 9 | Libya | 1.340.745 | 1.567.228 |
| 10 | India | 120.093 | 63.143 |
| 11 | Yordania | 92.097 | 31.139 |
| 12 | Pakistan | 85.674 | 128.015 |
| 13 | Irak | 35.453 | 70.960 |
| 14 | Afrika Selatan | 17.360 | 8.680 |
| 15 | Myanmar | 13.888 | 16.055 |
Tinggalkan Komentar
Komentar