Periskop.id - Seekor bayi kera Jepang bernama Punch menjadi perhatian global setelah video dirinya dirundung monyet lain dan ditolak oleh induknya viral di media sosial. 

Melansir The Guardian pada Senin (23/2), kisah Punch memicu simpati sekaligus diskusi luas tentang kesejahteraan satwa, teori keterikatan, hingga etika penelitian primata.

Punch adalah kera Jepang atau Japanese macaque yang lahir pada Juli lalu di Kebun Binatang Kota Ichikawa, Prefektur Chiba, utara Tokyo. Ia mendapat perhatian internasional setelah penjaga kebun binatang memberinya boneka orangutan sebagai pengganti induk yang meninggalkannya sejak lahir.

Tanpa bimbingan induk untuk membantunya berintegrasi dengan kelompok, Punch mencari kenyamanan pada boneka tersebut. Dalam sejumlah video awal, ia terlihat berjalan sendirian sambil membawa boneka setelah didorong menjauh oleh monyet lain. Ia juga beberapa kali terekam diseret dan dikejar kera Jepang yang lebih tua di dalam kandang. Saat diganggu, Punch terlihat memeluk bonekanya dengan erat.

Penonton sempat merasa lega ketika video lain memperlihatkan seekor monyet yang merawat dan menghiburnya. Namun beberapa hari kemudian, rekaman baru menunjukkan Punch kembali menjadi sasaran agresi. Kali ini ia diseret berputar dengan agresif oleh monyet yang jauh lebih besar sebelum berlari dan bersembunyi di balik batu sambil tetap memeluk bonekanya.

Mengapa Induk Meninggalkan Anak?

Video tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai alasan induk meninggalkan anaknya. Alison Behie, pakar primatologi dari Australian National University, menjelaskan bahwa penelantaran bayi monyet tidak umum, tetapi bisa terjadi dalam kondisi tertentu.

Menurut Behie, faktor usia, kesehatan, dan kurangnya pengalaman dapat memengaruhi keputusan induk. Dalam kasus Punch, induknya merupakan induk pertama kali sehingga kemungkinan kurang berpengalaman. 

Penjaga kebun binatang juga menyebut Punch lahir saat gelombang panas, menciptakan lingkungan penuh tekanan.

Dalam kondisi tekanan eksternal yang mengancam kelangsungan hidup, induk dapat memprioritaskan kesehatan diri dan peluang reproduksi di masa depan dibanding merawat bayi yang kesehatannya mungkin terdampak lingkungan.

Setelah ditinggalkan, penjaga kebun binatang mencoba beberapa alternatif untuk membantu Punch merasa aman. Mereka menggulung handuk dengan ketebalan berbeda agar dapat ia pegang sebelum akhirnya memberinya boneka orangutan.

“Bayi kera Jepang langsung bergantung pada tubuh induknya setelah lahir untuk membangun kekuatan otot dan rasa aman. Namun karena ia ditinggalkan, Punch tidak memiliki sesuatu untuk digenggam,” kata penjaga kebun binatang, Kosuke Shikano.

Shikano menambahkan bahwa boneka yang menyerupai monyet diharapkan membantu Punch berintegrasi kembali dengan kelompoknya.

Behie menyebut boneka tersebut mungkin berfungsi sebagai figur keterikatan. Pada usia enam bulan, Punch kemungkinan masih membutuhkan asuhan induk. 

Ia juga menegaskan bahwa perilaku monyet lain terhadap Punch bukan perundungan atau perilaku abnormal, melainkan bagian dari interaksi sosial biasa dalam kelompok.

Kera Jepang memiliki hierarki matrilineal yang ketat. Keluarga dengan peringkat lebih tinggi mendominasi yang lebih rendah. Bahkan jika bersama induknya, Punch tetap berpotensi menghadapi agresi tersebut. 

Namun tanpa induk, ia mungkin belum mengembangkan respons tunduk yang tepat untuk menunjukkan kepatuhan terhadap dominasi. Hal ini dapat memengaruhi proses integrasinya saat dewasa.

Lonjakan Pengunjung dan Sorotan Media Sosial

Dalam beberapa hari terakhir, Kebun Binatang Ichikawa mengalami lonjakan pengunjung yang ingin melihat Punch. 

Pengelola memperketat pembatas di sekitar kandang dan meminta pengunjung tetap tenang. Penggunaan tangga kecil dan tripod untuk fotografi dilarang, serta waktu melihat dibatasi demi kenyamanan satwa.

Carla Litchfield, psikolog konservasi dari Universitas Adelaide, menyoroti kecerdasan kera Jepang yang membuatnya populer dalam eksperimen biomedis dan neurosains di Jepang. Ia juga mengingatkan bahwa kera sering dimusnahkan karena dianggap merusak tanaman pertanian.

Menurut Litchfield, kisah Punch the Monkey menyoroti dampak hilangnya habitat, perubahan iklim, kesejahteraan satwa kebun binatang, serta kekuatan media sosial dalam membangun empati manusia terhadap hewan.

Namun ia juga mengingatkan potensi risiko. Ia berharap jutaan tanda suka dan perhatian publik tidak mendorong perdagangan ilegal bayi monyet sebagai hewan peliharaan eksotis.

“Monyet tumbuh dengan cepat—Punch akan dewasa dalam empat tahun—dan orang tak lagi menganggap mereka lucu atau mudah dirawat. Monyet seharusnya hidup bersama sesamanya. Mereka makhluk sosial yang membutuhkan spesiesnya sendiri untuk berkembang secara mental dan fisik,” ujarnya.

Punch bukan satwa pertama yang menjadi fenomena global. Moo Deng, seekor anak kuda nil kerdil di Thailand, mencuri perhatian publik pada 2024 berkat sikap keras kepala dan pesonanya.

Kaitan dengan Eksperimen Harlow

Melansir laman resmi University of Queensland pada Senin (23/2), foto dan video Punch bersama bonekanya yang beredar di media sosal yang memperlihatkan bayi monyet yang ditinggalkan induknya menemukan kenyamanan pada boneka orangutan dapat dijelaskan oleh sebuah temuan studi. 

Kisah Punch mengingatkan pada eksperimen psikologi terkenal yang dilakukan pada 1950-an oleh peneliti Amerika Serikat, Harry Harlow. Eksperimen tersebut menjadi dasar teori keterikatan modern.

Dalam eksperimennya, Harlow memisahkan bayi monyet rhesus dari induknya sejak lahir. Mereka dibesarkan di kandang dengan dua induk pengganti. Satu berupa rangka kawat yang menyediakan makanan dan minuman. Satu lagi berupa boneka berbentuk monyet yang dibungkus kain lembut tetapi tidak menyediakan makanan.

Menurut teori behaviorisme yang dominan saat itu, bayi akan membentuk keterikatan dengan siapa pun yang memenuhi kebutuhan biologis mereka. Namun hasil eksperimen menunjukkan bayi monyet lebih banyak memeluk induk kain lembut dibanding induk kawat yang menyediakan makanan.

Temuan ini menjadi dasar teori keterikatan modern yang menyatakan bahwa perkembangan sehat terjadi ketika anak memiliki ikatan aman dengan pengasuh melalui kasih sayang, perhatian, dan responsivitas. Tanpa kehangatan dan cinta, pemenuhan kebutuhan fisik saja tidak cukup.

Situasi Punch di kebun binatang memang bukan eksperimen. Namun kondisinya mencerminkan temuan Harlow dalam konteks alami. Punch memilih boneka lembut sebagai sumber rasa aman.

Kini eksperimen Harlow dianggap tidak etis dan kejam. Banyak pihak menilai primata memiliki hak yang dalam beberapa hal setara dengan manusia. Pemisahan bayi dari induk untuk penelitian semacam itu tidak lagi dapat diterima.

Respons IKEA dan Dampak Global

Melansir USA Today pada Jumat (20/2), perusahaan furnitur asal Skandinavia, IKEA, menyumbangkan boneka ke Kebun Binatang Kota Ichikawa setelah kisah Punch viral. Boneka orangutan yang dipeluk Punch diduga merupakan produk IKEA bernama Djungelskog.

Pada 17 Februari, Wali Kota Ichikawa Ko Tanaka mengunggah foto di platform X bersama Presiden IKEA Jepang Petra Färe, memperlihatkan banyak boneka yang disumbangkan untuk Punch dan hewan lain di kebun binatang.

Akun resmi IKEA di berbagai negara turut merespons fenomena Punch the Monkey. IKEA Spanyol mengunggah foto editan boneka Djungelskog yang tampak memeluk Punch. Sementara IKEA Swiss membagikan gambar serupa dengan boneka simpanse Sandlöpare yang memegang boneka orangutan tersebut.

Kisah Punch bukan sekadar cerita viral. Ia menjadi simbol pentingnya nutrisi emosional, baik bagi manusia maupun hewan. Di tengah derasnya arus media sosial, Punch the Monkey mengingatkan bahwa kebutuhan akan rasa aman dan kehangatan sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan fisik.