Periskop.id - Kita semua pernah merasakannya: gumpalan di tenggorokan, sensasi perih di mata, hingga air mata hangat yang mulai menggenang. Entah itu dipicu oleh rasa bahagia, duka, takjub, atau sesuatu yang sulit dijelaskan, pengalaman ini terasa sangat manusiawi. 

Namun, pernahkah Anda bertanya mengapa kita menangis secara emosional? Mengapa hanya manusia, di antara jutaan spesies hewan di bumi, yang menghasilkan air mata sebagai respons terhadap kondisi batin?

Melansir laporan Forbes, penelitian menunjukkan bahwa tangisan emosional jauh dari sekadar reaksi acak yang tidak berguna. Sebaliknya, air mata tampaknya terjalin erat dalam struktur kehidupan sosial dan emosional kita. 

Bagi sebagian orang, dorongan untuk menangis mungkin lebih mudah terpicu dibanding yang lain. Dalam dunia psikologi, terdapat kuis Highly Sensitive Person berbasis sains yang dapat membantu individu mengetahui apakah mereka termasuk dalam kelompok yang memiliki sensitivitas tinggi tersebut.

Tidak Semua Air Mata Itu Sama

Para ilmuwan membagi air mata ke dalam tiga kategori besar berdasarkan fungsinya:

  1. Air Mata Basal: Cairan yang terus diproduksi secara konsisten untuk menjaga kelembapan dan kesehatan mata.
  2. Air Mata Refleks: Air mata yang muncul secara otomatis sebagai respons terhadap iritasi fisik, seperti debu atau uap saat memotong bawang.
  3. Air Mata Emosional: Air mata yang dipicu oleh perasaan mendalam seperti sedih, bahagia, atau empati.

Air mata emosional bersifat unik pada manusia. Fakta ini mengisyaratkan bahwa ia memiliki peran khusus bagi spesies kita. Air mata jenis ini bukan sekadar pelumas, melainkan berfungsi sebagai alat komunikasi nonverbal yang memberikan sinyal penting kepada siapa pun yang melihatnya.

Ilmu saraf modern mengungkapkan bahwa melihat air mata orang lain dapat mengaktifkan sirkuit otak yang terkait dengan empati. Sebuah studi tahun 2022 yang dipublikasikan dalam NeuroImage Reports berjudul “The Power of Tears: Observers' Brain Responses Show That Tears Provide Unambiguous Signals Independent Of Scene Context”, menguji hal ini menggunakan fMRI. 

Peneliti menampilkan wajah dengan dan tanpa air mata dalam berbagai latar emosi. Hasilnya menunjukkan bahwa air mata secara konsisten mengaktifkan otak pengamat dengan cara yang mengindikasikan pengenalan intuitif terhadap keadaan emosional, terlepas dari konteksnya. Artinya, air mata itu sendiri adalah sinyal sosial yang kuat, bukan sekadar pelengkap situasi sedih.

Akar Evolusi Tangisan

Dari perspektif evolusi, air mata emosional adalah fenomena unik. Ia tidak meningkatkan penglihatan, tidak melindungi mata dari iritasi, dan tidak memiliki fungsi fisiologis langsung.

Ahli saraf Michael Trimble dan psikolog Ad Vingerhoets menjelaskan bahwa air mata berfungsi sebagai bahasa nonverbal tentang kerentanan dan kebutuhan. Ia mendorong dukungan sosial dan memperkuat ikatan.

Penelitian dalam jurnal Motivation and Emotion menunjukkan bahwa orang yang terlihat menangis dinilai lebih membutuhkan pertolongan dan lebih terhubung secara sosial. Hal ini meningkatkan keinginan orang lain untuk membantu atau memberi kenyamanan.

Efek tersebut bukan sekadar persepsi bahwa seseorang tampak ramah. Air mata menyentuh naluri sosial yang dalam untuk merawat dan mendukung.

Sebagai makhluk sosial, manusia hidup dalam kelompok, keluarga, sekolah, dan komunitas. Dalam dunia seperti ini, sinyal emosi yang terlihat memiliki fungsi penting. Air mata menyiarkan kerentanan secara universal dan melampaui bahasa serta budaya. Ia mengurangi persepsi ancaman dan menyampaikan kepercayaan.

Studi berskala besar lintas negara menunjukkan bahwa melihat seseorang menangis meningkatkan niat memberi dukungan. Efek ini dimediasi oleh persepsi kehangatan dan empati, bahkan jika pengamat tidak mengenal orang tersebut.

Mengapa evolusi mempertahankan perilaku yang secara energi mahal seperti menangis. Jawabannya mungkin terletak pada ekologi sosial manusia. Bayi manusia yang rapuh menangis untuk memicu pengasuhan. Naluri ini tidak hilang saat dewasa, melainkan berubah fungsi.

Air mata menjadi sinyal di dunia sosial yang kompleks. Ia dapat berarti saya kewalahan, saya terhubung, atau saya peduli. Sebagai balasannya, ia memicu respons emosional pada orang lain. Area otak yang memproses emosi turut aktif saat melihat air mata, membentuk dasar empati.

Dampaknya nyata dalam hubungan, negosiasi, hingga penyelesaian konflik. Air mata dapat melunakkan persepsi agresi dan meningkatkan persepsi kerentanan, sehingga respons yang muncul lebih berupa bantuan daripada konfrontasi.

Apakah Menangis Benar Memberi Kelegaan

Gagasan bahwa menangis selalu memberikan kelegaan emosional ternyata lebih kompleks.

Sebagian orang melaporkan merasa lega setelah menangis, terutama jika mendapat dukungan atau waktu untuk memproses emosi. Namun penelitian menunjukkan suasana hati tidak selalu membaik secara langsung setelah menangis. Manfaatnya sering muncul kemudian, ketika dukungan sosial datang atau respons stres fisiologis mereda.

Menangis juga dapat memicu pelepasan oksitosin dan endorfin yang mendukung keterikatan serta regulasi emosi. Proses ini mungkin menjelaskan mengapa menangis terasa membersihkan ketika dilihat kembali, meskipun terasa tidak nyaman saat terjadi.

Menariknya, air mata emosional tidak hanya muncul dalam kesedihan. Ia juga hadir dalam kebahagiaan, kekaguman, kelegaan, bahkan apresiasi terhadap seni. Air mata bahagia menunjukkan kompleksitas emosi manusia. Ia bukan hanya penanda kesedihan, melainkan sinyal intensitas pengalaman.

Sejak pemikiran awal Charles Darwin hingga ilmu saraf modern, tangisan emosional terus diteliti dan masih menyimpan misteri. Namun kombinasi ilmu otak, psikologi sosial, dan teori evolusi mulai menjelaskan mengapa air mata begitu penting.

Air mata bukan sekadar produk sampingan dari emosi. Ia adalah bagian dari emosi itu sendiri. Ia menghubungkan manusia satu sama lain, memberi sinyal kebutuhan, dan mengundang orang lain masuk ke dunia batin kita.

Dalam banyak hal, kemampuan menangis secara emosional adalah salah satu hal yang membuat kita menjadi manusia.