periskop.id - Di Indonesia, banyak anak muda kini sudah memasuki dunia kerja dan memiliki penghasilan sendiri. Namun, tidak sedikit dari mereka yang merasa kondisi finansial mereka tetap pas-pasan meski bekerja setiap hari. Gaji yang diterima sering kali langsung habis untuk berbagai kebutuhan dasar.

Sebagai contoh, sebagian besar pendapatan harus digunakan untuk membayar kos atau tempat tinggal, transportasi, makan, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. Setelah semua kebutuhan tersebut terpenuhi, sisa uang yang ada sering kali sangat sedikit, bahkan sulit untuk ditabung.

Fenomena Working Poor

Fenomena working poor adalah ketika orang yang sudah bekerja, tetapi penghasilannya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak. Semakin terasa di tengah kondisi biaya hidup yang terus meningkat sementara upah masih terbatas.

Hal ini karena masalah ketenagakerjaan di Indonesia saat ini bukan hanya soal ada atau tidaknya pekerjaan. Lebih dari itu, tantangan utamanya adalah kualitas pekerjaan yang tersedia serta apakah gaji yang diterima pekerja sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Banyak dari mereka bekerja di sektor informal, misalnya sebagai asisten rumah tangga (ART) atau karyawan di usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pekerjaan ini memang ada dan dijalani setiap hari, tetapi sering kali penghasilannya masih sangat terbatas.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang sebenarnya sudah bekerja secara rutin menghabiskan waktu dan tenaga untuk menjalankan tugasnya. Namun, imbalan yang diterima belum tentu sebanding dengan usaha yang dikeluarkan, bahkan ada yang tidak mendapatkan bayaran yang layak. Akibatnya, secara statistik mereka tetap tercatat sebagai pekerja, tetapi dari sisi kesejahteraan hidupnya masih jauh dari kata cukup.

Karena itu, yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat bukan sekadar adanya pekerjaan. Akan tetapi, masyarakat memerlukan pekerjaan yang layak dengan upah yang mampu memenuhi kebutuhan hidup setiap bulan sehingga bekerja benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan, bukan hanya sekadar menambah angka pekerja dalam data statistik.

Ironi Kerja Keras dan Fenomena Working Poor

Ironi di Zaman Produktivitas Tinggi
Di zaman yang sangat menghargai produktivitas, banyak orang yang bekerja keras justru tetap kesulitan secara finansial. Fenomena ini menunjukkan bahwa kerja keras saja tidak selalu menjamin kehidupan yang layak, bahkan bagi mereka yang bekerja penuh waktu.

Working Poor: Masalah Global, Bukan Hanya di Indonesia
Menurut International Labour Organization (ILO), ratusan juta pekerja di seluruh dunia masih hidup dalam atau di ambang kemiskinan, meski mereka aktif bekerja. Kondisi ini menegaskan bahwa isu working poor bukan hanya persoalan lokal, tetapi fenomena global yang membutuhkan perhatian serius.

Sektor Informal dan Pendapatan Stagnan
Di Indonesia, kelompok pekerja dengan pendapatan stagnan sering berasal dari sektor informal. Meski globalisasi membuka pasar dan mempercepat aliran modal, posisi tawar mereka tidak otomatis lebih kuat. Akibatnya, meski ekonomi tumbuh dan investasi meningkat, penghasilan mereka belum tentu naik sesuai harapan.

Mitos “Kurang Kerja Keras” yang Perlu Diluruskan
Beberapa konten kreator kerap menyalahkan kurangnya kesuksesan seseorang pada faktor “tidak kerja keras” atau “tidak mau cari penghasilan tambahan.” Padahal kenyataannya, banyak orang sudah bekerja keras dan mengambil pekerjaan sampingan, tapi penghasilan mereka tetap belum cukup untuk hidup layak.

Ketimpangan Kesempatan dan Solusi Ekonomi

Ketimpangan Nilai di Ekonomi Modern
Di ekonomi modern, “nilai” sering diukur secara sempit. Pekerjaan atau sektor yang sebenarnya membawa manfaat sosial sering tidak dihargai setara, sementara beberapa aktivitas finansial bisa menghasilkan keuntungan besar tanpa benar-benar meningkatkan kesejahteraan banyak orang. Oleh karena itu, penting untuk menilai apakah sistem ekonomi benar-benar memberi kesempatan bagi kerja keras untuk membuahkan hasil yang adil.

Perintis vs Pewaris: Kesenjangan Kesempatan Sejak Awal
Perbedaan antara perintis dan pewaris semakin jelas. Perintis harus memulai dari nol dan menghadapi risiko sendiri, sedangkan pewaris sudah memiliki fondasi yang kuat sejak awal. Hal ini membuat peluang sukses tidak merata, meski kerja keras dilakukan.

Lebih dari Sekadar Lapangan Kerja
Fenomena working poor menunjukkan bahwa sekadar menciptakan lapangan kerja tidak cukup. Dibutuhkan pekerjaan dengan kualitas lebih baik, perlindungan sosial yang memadai, distribusi aset yang adil, dan kebijakan ekonomi yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan kesejahteraan.

Kerja Keras Belum Tentu Hidup Layak
Jika hal ini tidak diperbaiki, penghasilan pas-pasan bisa menjadi identitas sosial bagi banyak pekerja. Fenomena ini sekaligus menjadi kritik nyata terhadap mitos “kerja keras pasti sukses,” terutama di era ketika pewaris bisa melaju lebih cepat dibandingkan perintis.