Saya Capek Menjadi Manajer di Rumah Sendiri
Suami saya bukan pemalas. Ia membantu pekerjaan rumah. Tapi saya tetap lelah karena urusan mengingat, merencanakan, dan memastikan semuanya berjalan ada di kepala saya.

Periskop.id - Saya adalah perempuan menikah berusia 33 tahun dengan dua anak masing-masing 10 tahun dan 4 tahun. Saya dan suami sama-sama bekerja dan mengurus rumah bersama tanpa asisten rumah tangga. Poin utama yang ingin saya ceritakan adalah “perasaan terkurasnya energi sekalipun memiliki suami yang pengertian dan siap membantu.”
Dia mau mencuci piring. Dia kadang memasak. Kalau saya sedang sibuk, dia bisa mengantar atau menjemput anak. Dia juga tidak pernah mengatakan bahwa mengurus rumah adalah pekerjaan perempuan.
Tapi entah kenapa, saya tetap sering merasa kelelahan.
Belakangan saya baru menyadari bahwa mungkin masalahnya bukan pada siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah, melainkan siapa yang memikirkan semua pekerjaan itu sejak awal.
Saya yang tahu kapan stok susu anak hampir habis. Saya yang ingat besok anak harus memakai seragam olahraga. Saya yang memasukkan jadwal dokter ke kalender. Saya yang ingat tagihan mana yang belum dibayar. Dan jujur saja, baru kepenuhan pikiran dengan hal-hal itu saja saya merasa sudah cukup melelahkan.
Di sisi lain, suami memang membantu kalau saya meminta. Beruntung dia bukan pria patriarki berlebih, yang mana bisa benar-benar menyentuh pekerjaan yang juga saya lakukan. Namun, saya pun bingung dengan rasa beruntung tadi, karena tak juga membuat suasana keseharian saya rasanya lebih mudah.
Masalahnya, pak suami ini butuh komando, saya harus meminta.
“Besok tolong jemput anak, ya.”
“Jangan lupa bayar listrik.”
“Kayaknya susu tinggal sedikit.”
“Anak besok ada tugas.”
Jadi, seringnya saya merasa seperti bukan sedang berbagi tanggung jawab dengan pasangan, tetapi sedang membagi tugas kepada seorang bawahan yang menunggu instruksi.
Saya pernah mencoba berhenti mengingatkan. Bukan untuk menguji suami, apalagi menghukumnya. Saya hanya ingin tahu apa yang terjadi kalau saya tidak menjadi orang yang selalu mengingat semuanya.
Hasilnya, beberapa hal benar-benar terlewat.
Anak hampir lupa membawa perlengkapan sekolah. Beberapa tagihan skip dibayar. Stok kebutuhan rumah habis tanpa ada yang menyadarinya sampai saya kembali turun tangan.
Okay then, pilihannya hanya satu, saya kembali ke puncak komando di rumah.
Ya, komplikasi utama perasaan saya jelas, saya kebingungan dengan kelelahan yang rasanya semua keseharian soal rumah tangga ada di kepala dan terus berputar. Suami pun rasanya tak bisa disalahkan, karena tak pernah sekalipun dia absen mengerjakan tugas-tugas yang saya delegasikan.
Jadi, seringnya saya merasa tidak pantas mengeluh.
Dengan situasi rumah tangga seperti ini, jika saya ngobrol dengan teman tentu saja yang saya dapatkan adalah pujian dan dorongan untuk bersyukur karena punya suami yang kooperatif. Saya memang bersyukur, sangat, tapi bukan itu poin yang ingin saya bagikan.
Saya punya keinginan suami juga menyadari pekerjaan yang perlu dilakukan tanpa harus menunggu komando. Saya ingin dia tahu kapan stok rumah perlu dibeli. Saya ingin dia memperhatikan jadwal anak. Saya ingin dia sesekali menjadi orang yang mengingatkan saya, bukan “selalu” sebaliknya.
Mungkin selama ini saya terlalu fokus menghitung berapa banyak pekerjaan rumah yang dilakukan masing-masing. Siapa yang mencuci lebih banyak, siapa yang memasak lebih sering, siapa yang lebih sering mengantar anak. Padahal ada pekerjaan lain yang tidak masuk hitungan itu: memikirkan semuanya.
Pekerjaan itu tidak selalu terlihat. Tidak ada tumpukan pakaian yang bisa menunjukkan bahwa seseorang sedang lelah karena memikirkan jadwal laundry. Tidak ada piring kotor yang bisa menunjukkan bahwa seseorang sudah sejak pagi memikirkan menu makan malam.
Saya tidak ingin menjadikan suami saya sebagai orang yang salah. Saya juga tidak ingin menganggap diri saya sebagai korban. Saya hanya ingin kita berdua duduk bersama, memikirkan banyak hal bersama, diskusi, dan berbagi tanggung jawab bersama.
Bukan lagi saya yang memikirkan apa yang harus dilakukan lalu suami membantu mengerjakannya.
Apakah perasaan ini juga banyak dirasakan oleh perempuan menikah bekerja lain?
Apakah saya kurang tepat meminta kebersamaan berpikir karena memang mungkin saja kodrat seorang suami seperti itu?
Catatan: Tulisan ini diadaptasi dari pengalaman nyata. Beberapa bagian disesuaikan untuk kebutuhan alur dan konteks tulisan, tanpa mengubah fakta utama dari pengalaman yang diceritakan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai ibu rumah tangga, dan Rumah Tangga dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.