periskop.id - Bagi banyak ibu, rasa bersalah sering hadir tanpa diundang. Terutama ketika waktu harus dibagi antara tanggung jawab di rumah dan tuntutan pekerjaan. Di balik rutinitas harian itu, terselip pertanyaan yang sama, apakah keputusan untuk bekerja akan memengaruhi masa depan anak? Namun, temuan ilmiah justru menunjukkan bahwa kehadiran emosional dan kualitas pengasuhan memiliki peran yang jauh lebih besar dibandingkan durasi kebersamaan semata.

Riset Harvard: Ibu Bekerja Bukanlah Penghalang Kesuksesan Anak

Banyak ibu pekerja diliputi rasa bersalah karena khawatir kehadiran mereka yang terbagi antara rumah dan pekerjaan akan berdampak buruk pada masa depan anak. Kekhawatiran ini sering muncul dari anggapan bahwa keberhasilan anak ditentukan oleh seberapa sering ibu berada di rumah. Namun, temuan ilmiah justru menunjukkan gambaran yang berbeda.

Sebuah penelitian dari Harvard Business School yang dipimpin oleh Profesor Kathleen McGinn memberikan perspektif baru. 

Studi ini melibatkan lebih dari 50.000 responden dewasa dari 25 negara dan menelusuri dampak jangka panjang dari ibu yang bekerja terhadap kehidupan anak-anak mereka saat dewasa.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak perempuan yang tumbuh dengan ibu bekerja cenderung memiliki tingkat partisipasi kerja lebih tinggi, lebih sering menempati posisi manajerial, serta memperoleh penghasilan yang lebih baik. 

Sementara itu, anak laki-laki berkembang menjadi individu yang lebih empatik, lebih terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, dan lebih aktif dalam peran pengasuhan keluarga.

Temuan ini memperlihatkan bahwa bekerja bukan berarti mengabaikan anak. Justru, ibu yang bekerja memberi contoh nyata tentang etos kerja, kemandirian, dan nilai kesetaraan gender. Pilihan untuk berkarya dapat menjadi bekal penting bagi pembentukan karakter anak di masa depan.

Ibu Rumah Tangga: Profesi 24 Jam Tanpa Istirahat

Jika ibu pekerja kerap dihakimi karena dianggap meninggalkan anak, ibu rumah tangga justru sering diremehkan karena dinilai hanya berada di rumah dan memiliki banyak waktu luang. Padahal, kenyataan sehari-hari menunjukkan hal yang sebaliknya. Menjalani peran sebagai ibu rumah tangga merupakan pekerjaan dengan beban fisik dan mental yang sangat berat.

Mari kita melihat data. Sebuah studi yang dilakukan oleh Welch’s terhadap 2.000 ibu menemukan fakta yang mengejutkan. Hasil survei menyimpulkan bahwa beban kerja rata-rata seorang ibu (terutama yang mengurus rumah tangga penuh waktu) setara dengan 2,5 kali lipat pekerjaan full-time.

Rata-rata ibu memulai hari sekitar pukul 06.23 dan baru bisa beristirahat menjelang pukul 20.31. Artinya, mereka bekerja sekitar 14 jam setiap hari atau hampir 98 jam dalam seminggu. Semua itu dijalani tanpa uang lembur, tanpa cuti sakit, dan sering kali tanpa apresiasi yang setimpal.

Di luar kelelahan fisik, ibu rumah tangga juga menghadapi tantangan isolasi sosial yang berisiko memengaruhi kesehatan mental. Rutinitas yang berulang dan minimnya ruang untuk diri sendiri membuat beban emosional kerap terabaikan.

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa anggapan menjadi ibu rumah tangga sebagai peran yang ringan dan santai adalah mitos. Peran ini menuntut dedikasi penuh, konsistensi, dan ketahanan yang luar biasa setiap hari.

Status Pekerjaan Bukan Penentu Utama Kebahagiaan Anak

Setelah melihat dua sisi di atas, muncul pertanyaan tentang mana yang terbaik bagi anak. Faktanya, status pekerjaan ibu bukanlah faktor utama yang menentukan kebahagiaan anak.

Sering kali perhatian terpusat pada durasi waktu atau kuantitas kebersamaan. Ibu pekerja merasa kekurangan waktu, sementara ibu rumah tangga kerap merasa waktunya habis tersita urusan domestik dengan interaksi yang terbatas. Padahal, sebuah penelitian berjudul Mothers’ Time, the Parenting Package, and Links to Healthy Child Development menunjukkan bahwa jumlah waktu yang dihabiskan ibu bersama anak usia 3–11 tahun bukan satu-satunya, dan sering kali bukan faktor terkuat, dalam menentukan prestasi akademik, perilaku, maupun kesejahteraan emosional anak.

Faktor yang lebih berpengaruh adalah kualitas interaksi serta kondisi kesehatan mental ibu. Anak mendapatkan manfaat lebih besar dari waktu singkat yang dijalani dengan kehadiran penuh, suasana hati yang positif, dan keterlibatan emosional, dibandingkan kebersamaan panjang yang diwarnai stres atau distraksi.

Stres yang dialami ibu, baik akibat tekanan pekerjaan maupun kelelahan urusan rumah tangga, dapat berdampak negatif pada anak. Karena itu, menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental ibu menjadi prioritas penting dalam pengasuhan. Prinsip bahwa ibu yang bahagia berperan besar dalam membesarkan anak yang bahagia bukan sekadar ungkapan populer, melainkan refleksi dari temuan psikologis.