periskop.id - Di tengah gempuran teknologi disruptif seperti kecerdasan buatan (AI), blockchain, dan Web3, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh melihat perubahan ini sebagai ancaman. Sebaliknya, era digital justru membuka peluang besar bagi bangsa untuk tampil kompetitif di panggung global.
“Di era disrupsi digital yang ditandai oleh AI, blockchain, Web3, dan platform global, kita tidak boleh melihat ini sebagai ancaman. Justru inilah peluang besar,” ujar Irene dikutip dari Antara, Rabu (27/8).
Irene menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Global Human Capital (GHC) Summit 2025, sebuah forum internasional yang mempertemukan pemimpin dari sektor pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas. Ia menekankan bahwa kekuatan terbesar Indonesia terletak pada budaya, kreativitas, dan talenta manusianya.
“Talenta ekonomi kreatif adalah kunci agar Indonesia bisa kompetitif dan bahkan memimpin di panggung dunia,” tambahnya.
Lebih lanjut, Irene menyoroti peran strategis diaspora Indonesia sebagai jembatan menuju pasar internasional. Menurutnya, diaspora bukan hanya pembuka akses global, tetapi juga berfungsi sebagai mentor dan kolaborator bagi talenta lokal. Dengan jejaring yang luas dan pengalaman lintas budaya, diaspora dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.
Senada dengan Irene, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Rahayu Saraswati menekankan pentingnya membangun ekosistem yang mendukung talenta muda Indonesia. Ia menyebut bonus demografi sebagai aset besar yang harus dimanfaatkan secara optimal.
“Jika generasi muda kita dipersiapkan dengan baik, mereka bukan hanya akan menjadi penonton, tetapi pemain utama dalam transformasi digital dan ekonomi kreatif global,” ujar Rahayu.
Kementerian Ekraf sendiri telah mengusung pendekatan kolaboratif berbasis hexahelix, yang melibatkan enam elemen utama: pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan diaspora. Kolaborasi ini diwujudkan melalui program pendidikan, inkubasi, dan kebijakan pendukung yang dirancang untuk memperkuat kapasitas talenta nasional.
Optimisme pemerintah terhadap masa depan ekonomi kreatif tercermin dalam visi besar menuju Indonesia Emas 2045. Kementerian Ekraf percaya bahwa disrupsi digital bukanlah hambatan, melainkan peluang inovasi yang dapat mendorong daya saing global.
Tinggalkan Komentar
Komentar