periskop.id - Jika Anda berjalan menyusuri jalanan sempit di Cavite atau Laguna, Filipina, pemandangan logo merah-kuning Alfamart mungkin terasa familiar, namun dengan sentuhan yang berbeda.
Di sana, Alfamart bukan sekadar tempat membeli air mineral atau rokok; ia adalah "kulkas komunitas" yang menyediakan daging beku, beras karungan, hingga layanan keuangan digital.
Transformasi lanskap ritel di Filipina sedang mengalami pergeseran besar. Di tengah dominasi sari-sari store (warung tradisional) dan mal raksasa, Alfamart berhasil mencuri perhatian dengan konsep hibrida yang unik. Melalui kemitraan strategis dengan konglomerat ritel terbesar di negara itu, SM Investments Corporation (SMIC), Alfamart telah tumbuh menjadi raksasa dengan lebih dari 2.300 gerai pada tahun 2025.
Bagaimana strategi di balik kesuksesan Alfamart, perang harga melawan hard discounter baru seperti Dali, dan peluang emas dalam program waralaba terbarunya?
Aliansi Raksasa: Sinergi SM Group dan Alfamart Indonesia
Masuknya Alfamart ke Filipina pada tahun 2014 bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari perhitungan matang.
SM Investments, yang didirikan oleh mendiang Henry Sy, menyadari adanya celah di pasar yang tidak bisa dijangkau oleh format Hypermarket atau Supermarket mereka yang besar. Mereka membutuhkan kendaraan untuk menembus area permukiman padat.
Di sinilah PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) berperan. Joint venture ini menggabungkan kekuatan logistik properti SM dengan keahlian manajemen stok mikro dari Alfamart.
Menurut laporan media saat kemitraan awal terbentuk, strategi ini memungkinkan Alfamart berekspansi tanpa beban biaya sewa yang tinggi karena memanfaatkan land bank milik SM Group.
Sinergi ini menciptakan parit pertahanan (moat) yang kuat: Alfamart mendapatkan akses ke rantai pasok SM Markets, memungkinkan mereka menjual barang dengan harga kompetitif yang sulit ditandingi oleh pemain independen.
Konsep "Super Minimart": Mengapa Ibu Rumah Tangga Menyukainya?
Berbeda dengan 7-Eleven yang fokus pada makanan siap saji (ready-to-eat) untuk pekerja kantoran, Alfamart Filipina memposisikan dirinya sebagai Super Minimart. Fokus utamanya adalah konsumsi terencana (planned consumption).
Apa yang membuat konsep ini berhasil?
- Daging & Ikan Beku: Alfamart menyediakan freezer berisi ayam, daging sapi, dan ikan, menjawab kebutuhan ibu rumah tangga yang ingin memasak tanpa harus pergi ke pasar basah yang jauh.
- Produk Ukuran Keluarga: Tersedia beras dalam kemasan karung dan minyak goreng literan, bukan hanya kemasan sachet.
- Lokasi Strategis: Gerai ditempatkan jauh di dalam area residensial (subdivisi), mendekatkan "supermarket" ke depan pintu rumah pelanggan.
Strategi ini terbukti efektif. Dalam rilis pers terkait pencapaian 2.000 toko, manajemen menekankan bahwa misi utama mereka adalah melayani komunitas yang underserved (kurang terlayani) oleh ritel modern.
Medan Perang Baru: Alfamart vs. Dali Everyday Grocery
Dominasi Alfamart kini menghadapi tantangan serius dari model bisnis hard discount yang dibawa oleh Dali Everyday Grocery.
Jika Alfamart adalah "Super Minimart" dengan kenyamanan AC dan variasi merek, Dali adalah "Gudang Diskon" yang memangkas segala kemewahan demi harga terendah.
- Alfamart: Menawarkan kenyamanan, merek ternama (Unilever, P&G), dan layanan pembayaran tagihan.
- Dali: Menawarkan harga barang pokok (gula, minyak) yang jauh lebih murah dengan mengandalkan private label dan operasional minim biaya (terkadang tanpa AC, staf minimal).
Diskusi hangat di komunitas daring seperti Reddit Philippines sering membandingkan kedua ritel ini. Konsumen cenderung ke Dali untuk berhemat pada barang komoditas, namun tetap kembali ke Alfamart untuk kenyamanan dan merek spesifik yang tidak tersedia di hard discounter.
Meski Dali tumbuh eksplosif, laporan keuangan menunjukkan bahwa model hard discount membakar uang dengan cepat, sementara Alfamart yang didukung SM Retail Food Group telah mencatatkan profitabilitas yang lebih stabil.
Pivot Strategis 2025: Peluang Waralaba (Franchise)
Merespons kompetisi yang kian ketat dan kebutuhan untuk ekspansi cepat, Alfamart akhirnya membuka keran waralaba pada akhir 2024 dan 2025. Ini adalah perubahan besar dari model sebelumnya yang company-owned.
Langkah ini memiliki dua tujuan:
- Akselerasi Ekspansi: Menggunakan modal mitra untuk membuka gerai baru lebih cepat daripada pesaing.
- Pemberdayaan UMKM: Mengubah pemilik ruko (landlord) menjadi pengusaha ritel.
Berita terbaru mencatat bahwa SM mulai menguji coba waralaba Alfamart di Laguna dengan hasil yang menjanjikan. Mitra waralaba pertama, seperti Ir. Leovino Datario, melaporkan kesuksesan awal yang menarik minat banyak investor lokal.
Skema ini juga membuka peluang bagi bisnis lain. Alfamart kerap menyewakan teras depannya kepada UMKM lain seperti Laundry Express atau gerai minuman, menciptakan ekosistem mikro yang saling menguntungkan.
Siapa Pemenang Ritel Masa Depan?
Alfamart di Filipina adalah studi kasus brilian tentang adaptasi. Mereka tidak sekadar menjiplak model Indonesia, tetapi menyesuaikannya dengan budaya tingi dan kebutuhan logistik kepulauan Filipina.
Dengan dukungan finansial SM Investments yang solid dan strategi pivot ke waralaba, Alfamart berada di posisi kuat untuk memenangkan perang jangka panjang melawan hard discounter. Bagi investor atau pengamat bisnis, pertempuran antara "Kenyamanan Terjangkau" (Alfamart) versus "Harga Terendah" (Dali) akan menjadi tontonan menarik dalam satu dekade ke depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar