periskop.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti ironi Indonesia sebagai produsen timah terbesar di dunia yang justru tidak memiliki kendali atas harga pasar global. Ia menyebut penentuan harga komoditas strategis tersebut saat ini malah dikendalikan oleh negara tetangga, Singapura, sebuah kondisi yang dinilai tidak wajar.
"Seperti timah kita produsen terbesar timah dunia tapi yang mengendalikan harga bukan kita, di pasar Singapura kalau enggak salah marketnya, itu agak aneh," kata Purbaya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Jakarta, Rabu (4/2).
Pemerintah tidak tinggal diam melihat ketimpangan tata niaga yang merugikan tersebut. Purbaya menegaskan upaya pembersihan dan penertiban sektor pertambangan sedang gencar dilakukan dengan melibatkan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Langkah ini diambil untuk mengembalikan kedaulatan sumber daya alam nasional. Satgas PKH bertugas menyisir praktik-praktik ilegal yang selama ini melemahkan posisi tawar Indonesia.
"Untuk saya sekarang sedang dibersihkan oleh Satgas PKH," tambahnya.
Persoalan kendali harga ini ternyata tidak hanya terjadi pada sektor pertambangan timah semata. Komoditas unggulan lain seperti minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga mengalami nasib serupa di pasar internasional.
Purbaya menilai posisi Indonesia sebagai penguasa pangsa pasar CPO global seharusnya memberikan daya tawar tinggi. Negara ini semestinya mampu menyetir pergerakan harga, bukan sekadar menjadi pengikut yang didikte pasar luar.
Selain timah, Purbaya menilai, untuk komoditas yang dikuasai Indonesia seperti crude palm oil (CPO), seharusnya Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat dalam memengaruhi harga pasar global.
Namun, selama ini, meski menguasai pangsa pasar dunia, Indonesia dinilai belum mampu mengendalikan harga secara optimal, yang menurutnya patut menjadi bahan evaluasi serius terhadap tata kelola dan kepentingan di sektor tersebut.
"Kita bisa mengendalikan harga pasar tapi selama ini kalau kita punya barang majoritas yang menguasai pasar dunia kita selalu nggak bisa mengendalikan harga pasar karena kita bodoh atau orang kita sebagian dibayar," tutup Purbaya.
Tinggalkan Komentar
Komentar