periskop.id – Ketimpangan penguasaan pasar menjadi isu krusial dalam ekosistem game nasional yang bernilai triliunan rupiah. Peneliti Center of Industry, Trade, and Investment (CITI) Indef Agung Satria Permana menyoroti ironi besarnya potensi pasar Indonesia yang justru mayoritas dinikmati oleh pengembang asing.

"Dari US$2 miliar tadi itu kayak 95% dikontribusikan oleh developer luar. Sedangkan developer lokal kita cuma mendapatkan 5% pangsa pasarnya," ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Agung dalam diskusi What's On Economy Ep.39 di kanal Youtube Indef pada Selasa (3/2). Ia menilai kondisi ini menjadi tantangan berat bagi pelaku industri kreatif tanah air, mengingat Indonesia sebenarnya memiliki basis pasar yang sangat masif.

Indonesia menempati peringkat pertama di Asia Tenggara dan posisi ke-15 di level global dalam hal jumlah pemain. Total pemain di dalam negeri tercatat mencapai sekitar 154 juta orang.

Agung menjelaskan, salah satu penyebab utama ketimpangan ini adalah kesenjangan teknologi dan kualitas visual. Pengembang global memiliki keunggulan pada game engine yang mampu menghasilkan tampilan visual jauh lebih realistis.

"Mungkin kalau teman-teman lihat kan kalau developer game luar mungkin kelihatannya sudah HD. Tampilannya itu sudah kayak asli," katanya.

Faktor lain yang menghambat adalah skala ekonomi pengembang lokal yang belum efisien. Biaya produksi yang tinggi seringkali menyedot anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk strategi pemasaran dan promosi.

Akibatnya, dana untuk memperkenalkan produk ke pasar menjadi sangat terbatas. Hal ini membuat game buatan anak bangsa sulit bersaing secara visibilitas dengan game asing yang didukung modal besar.

Perilaku konsumen di Indonesia juga menunjukkan tren spesifik dengan dominasi mobile gaming sebesar 60%. Pengguna PC menempati porsi 25%, sedangkan sisanya merupakan pengguna konsol.

Masyarakat lebih memilih bermain di ponsel karena model bisnis free to play yang inklusif. Pengguna tidak perlu mengeluarkan biaya besar di awal untuk membeli perangkat khusus atau kaset permainan.

"Kenapa sih game mobile itu lebih banyak dipakai? Nah ini mungkin karena sifatnya game mobile itu lebih ke free to play," tuturnya.

Selain dominasi asing, industri ini juga menghadapi tantangan klasik berupa pembajakan. Laporan Asosiasi Game Indonesia (AGI) tahun 2022 mencatat 46% dari seribu responden pernah menggunakan produk bajakan.

Masalah ini menjadi disinsentif bagi investor untuk menanamkan modal di sektor pengembangan game. Risiko kerugian akibat pembajakan membuat pelaku usaha ragu untuk berekspansi lebih jauh.

"Jangan-jangan sudah capek-capek buat, tapi uangnya malah enggak masuk ke kita," ucapnya.

Industri game tetap memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi nasional meski diadang berbagai kendala. Data Kementerian Komunikasi dan Digital tahun 2024 mencatat kontribusi sektor ini terhadap PDB berkisar Rp30 triliun hingga Rp70 triliun.