Periskop.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI semakin agresif memperluas dan memperkuat layanan angkutan logistik berbasis rel guna menekan tingginya biaya distribusi nasional yang selama ini menjadi tantangan besar bagi industri dalam negeri.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, biaya logistik Indonesia saat ini masih berada di kisaran 15 hingga lebih dari 20% terhadap produk domestik bruto (PDB), jauh di atas standar global yang berada di level 7–8%.
"Penguatan angkutan logistik berbasis rel menjadi penting mengingat biaya logistik Indonesia saat ini masih berada di kisaran 15 hingga di atas 20% terhadap produk domestik bruto, sementara standar global berada di kisaran 7–8%," kata Anne dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (23/5).
Menurut Anne, kondisi tersebut menunjukkan peluang efisiensi biaya logistik nasional masih sangat besar. Jika distribusi barang dapat dibuat lebih efisien, maka biaya produksi industri juga akan ikut turun sehingga daya saing produk nasional bisa meningkat, baik di pasar domestik maupun internasional.
“Efisiensi logistik akan berdampak langsung pada biaya produksi industri. Ketika distribusi barang menjadi lebih efektif maka rantai pasok nasional juga akan bergerak lebih kompetitif,” ujarnya.
KAI mencatat tren positif pada layanan angkutan barang ritel sepanjang Januari hingga April 2026. Dalam periode tersebut, volume angkutan ritel mencapai 82.129 ton atau naik 4,86% dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 78.323 ton.
Jika dibandingkan Januari-April 2024 yang berada di angka 66.654 ton, pertumbuhan angkutan ritel bahkan melonjak hingga 23,22%. Sementara khusus April 2026, volume angkutan ritel tercatat mencapai 21.844 ton atau meningkat 22,87% dibanding April 2025 yang sebesar 17.778 ton.
Menurut Anne, peningkatan tersebut menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang mulai beralih menggunakan moda kereta api untuk distribusi barang karena dinilai lebih efisien, stabil, dan memiliki kapasitas besar.
“Kereta api semakin dipilih sebagai moda distribusi barang karena memiliki kapasitas besar, waktu tempuh yang lebih terukur, serta mendukung efisiensi biaya logistik dalam rantai pasok nasional,” ucap Anne.
Peningkatan Kapasitas
Untuk mendukung penguatan logistik nasional, KAI kini juga terus meningkatkan kapasitas angkutan barang. Saat ini satu gerbong kereta logistik rata-rata mampu mengangkut hingga 50 ton muatan dan sedang ditingkatkan menjadi 70 ton per gerbong.
Dengan satu rangkaian kereta yang terdiri dari hingga 60 gerbong, kapasitas angkut total bisa mencapai sekitar 4.200 ton dalam satu perjalanan. Selain memperbesar kapasitas, KAI juga mulai mengintegrasikan layanan logistik dengan kawasan industri, pergudangan, hingga pelabuhan guna mempercepat proses distribusi barang dari hulu ke hilir.
KAI menilai Pulau Jawa masih menjadi pusat utama aktivitas logistik nasional dengan porsi sekitar 60% dari total aktivitas logistik Indonesia. Nilai biaya logistik di Pulau Jawa sendiri diperkirakan mencapai Rp2.400 triliun hingga Rp2.500 triliun per tahun.
Menurut Anne, jika efisiensi logistik nasional dapat ditekan sekitar 30% saja, maka potensi penghematan ekonomi bisa mencapai sekitar Rp1.000 triliun. "Efisiensi sebesar 30% saja diperkirakan dapat menghasilkan penghematan hingga sekitar Rp1.000 triliun," serunya.
KAI menilai moda transportasi berbasis rel memiliki peluang besar untuk menjadi tulang punggung distribusi logistik nasional. Pasalnya, moda transportasi ini mampu mengurangi hambatan lalu lintas jalan raya, lebih stabil dari sisi waktu tempuh, dan dapat mengangkut barang dalam volume besar secara berkelanjutan.
“Dengan jaringan operasional yang luas dan kapasitas angkut yang besar, kereta api memiliki potensi besar untuk mendukung distribusi logistik nasional yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” jelas Anne.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan juga terus mendorong pengembangan angkutan barang berbasis rel untuk mengurangi kepadatan kendaraan logistik di jalan tol serta menekan biaya distribusi nasional yang selama ini menjadi salah satu faktor mahalnya harga barang di Indonesia.
Bank Dunia dalam beberapa laporan logistik global juga beberapa kali menyoroti tingginya biaya logistik Indonesia dibanding negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi daya saing industri manufaktur dan efisiensi rantai pasok nasional.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar