Periskop.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memperluas jangkauan penerima manfaat di seluruh Indonesia. Hingga 22 Mei 2026, jumlah penerima manfaat program unggulan pemerintah itu tercatat mencapai 62,4 juta orang, mulai dari peserta didik, balita, ibu menyusui, ibu hamil, hingga santri.

Pemerintah menyebut perluasan cakupan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan gizi nasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Berdasarkan data Badan Gizi Nasional (BGN), kelompok peserta didik menjadi penerima manfaat terbesar dalam program tersebut.

Advertisement

“Dari total penerima manfaat tersebut, kelompok peserta didik menjadi penerima terbesar dengan jumlah mencapai 48.350.393 orang. Angka ini setara dengan 76,1% dari total data induk peserta didik sebanyak 63.574.421 jiwa,” demikian keterangan Badan Komunikasi Pemerintah RI di Jakarta, Sabtu (23/5). 

Selain pelajar, program MBG juga telah menjangkau 6.303.775 balita atau sekitar 37,7% dari total data induk balita nasional. Sementara itu, penerima manfaat dari kelompok ibu menyusui tercatat mencapai 2.066.533 orang atau sekitar 75,2% dari total sasaran nasional.

Untuk kategori ibu hamil, jumlah penerima manfaat telah mencapai 868.259 orang atau sekitar 35,3% dari total sasaran. Sedangkan penerima manfaat dari kalangan santri tercatat sebanyak 644.664 orang atau sekitar 44,2% dari target nasional.

Program ini juga melibatkan sekitar 4.220.440 guru dan tenaga pendidik sehingga total penerima manfaat secara keseluruhan mencapai 62.454.064 orang di berbagai daerah Indonesia. Pemerintah menyebut keberhasilan perluasan program MBG turut ditopang oleh penguatan infrastruktur layanan gizi di daerah. 

8,3 Miliar Porsi Makan
Hingga kini, jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) operasional telah mencapai 29.225 unit di seluruh Indonesia. Sejak pertama kali dijalankan pada 6 Januari 2025, program tersebut telah menyalurkan sekitar 8,3 miliar porsi makanan bergizi kepada masyarakat penerima manfaat. Program MBG juga telah menjangkau 374.175 sekolah di berbagai wilayah.

Selain berdampak pada sektor kesehatan dan pendidikan, program MBG juga dinilai mulai menggerakkan ekonomi daerah melalui keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok pangan.

BGN mencatat terdapat 142.387 penyuplai yang terlibat dalam program ini, terdiri atas 59.921 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), 13.306 koperasi, 690 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), 1.410 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), 157 BUMDesma, serta 66.903 penyuplai lainnya.

Keterlibatan pelaku usaha lokal tersebut dinilai penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memperluas dampak ekonomi program MBG di tingkat daerah.

Sekadar mengingatkan, pemerintah melalui Badan Gizi Nasional juga menyatakan program MBG menjadi salah satu prioritas nasional dalam upaya menekan angka stunting dan memperbaiki kualitas gizi masyarakat Indonesia. Program ini sekaligus diarahkan untuk mendukung visi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam sejumlah kesempatan, Presiden Prabowo Subianto menegaskan program pangan dan pemenuhan gizi menjadi bagian penting dalam pembangunan nasional, karena berkaitan langsung dengan kualitas generasi masa depan Indonesia.