periskop.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mencurigai adanya unsur kesengajaan atau sabotase di balik insiden kebakaran yang sempat menghambat penyelesaian proyek kilang Pertamina RDMP Balikpapan, demi melanggengkan praktik impor minyak.

“Saya tidak mengerti apakah dibakar karena terbakar atau dibakar karena ada faktor lain. Ternyata barang ini, Pak, ada udang di balik batu,” ungkap Bahlil dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto saat peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1).

Bahlil mensinyalir masih terdapat pihak-pihak tertentu yang tidak rela jika Indonesia memiliki cadangan energi memadai dan mencapai swasembada. Tujuannya jelas, agar keran impor bahan bakar minyak terus terbuka dan menguntungkan segelintir kelompok.

Proyek strategis nasional ini sejatinya ditargetkan rampung pada awal Mei 2024. Namun, insiden kebakaran yang terjadi sebelumnya memaksa jadwal penyelesaian mundur hingga akhirnya baru bisa diresmikan pada awal 2026.

Kecurigaan tersebut bukan tanpa dasar. Pada Agustus lalu, mantan Menteri Investasi ini mengaku telah memerintahkan Inspektorat Jenderal Kementerian ESDM untuk melakukan investigasi mendalam terkait insiden yang disebutnya penuh "drama" tersebut.

“Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita itu mempunyai cadangan dan swasembada energi, agar impor terus, impor terus,” tegasnya dengan nada tinggi.

Meski menghadapi resistensi dari para pemburu rente, Bahlil menegaskan tidak akan gentar. Ia berjanji di hadapan Presiden untuk menuntaskan segala hambatan demi kepentingan Merah Putih dan kedaulatan energi nasional.

Proyek RDMP Balikpapan sendiri menelan investasi fantastis mencapai USD 7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Kilang ini menjadi infrastruktur pengolahan minyak terbesar dalam sejarah Indonesia pasca-Orde Baru yang diresmikan setelah 32 tahun.

Revamping ini berhasil mendongkrak kapasitas pengolahan dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari. Kualitas produk yang dihasilkan pun meningkat setara standar Euro 5 yang lebih ramah lingkungan dan mendukung target net zero emission.

Operasional penuh kilang ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga lebih dari Rp60 triliun per tahun. Penambahan kapasitas produksi bensin dan solar secara signifikan akan menekan angka impor dan ketergantungan pada pasokan luar negeri.

“Kita harus hadapi dan kita selesaikan. Demi Merah Putih, jangankan harta, nyawa pun kita kasih karena kita semua ini orang Merah Putih,” pungkas Bahlil.