Periskop.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, pemerintah berencana menghentikan impor avtur mulai 2027, dan hanya mengimpor minyak mentahnya.

“Avtur juga 2027, Insya Allah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan, kami akan dorong atas perintah Pak Presiden, kita hanya mengimpor crude (minyak mentah) saja,” ujar Bahlil dalam peresmian proyek RDMP Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, Senin (12/1). 

Dengan demikian, Indonesia perlahan-lahan mulai merealisasikan ambisi untuk swasembada energi atau tidak lagi bergantung terhadap impor. Bahlil juga telah mengumumkan, Indonesia berhenti mengimpor solar pada 2026, utamanya untuk solar jenis CN48.

Untuk mengurangi impor solar jenis CN51, Bahlil memerintahkan Pertamina mulai membangun fasilitasnya pada semester II 2026. “Kalau ini mampu kita lakukan maka gerakan-gerakan tambahan ini semakin tipis dan setelah ini pasti ramai di media sosial karena dianggap Menteri ESDM potong-potong jalur para importir,” ucapnya.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam peresmian proyek RDMP (refinery development master plan) atau revitalisasi Kilang Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto. Proyek RDMP Balikpapan ini memiliki nilai investasi sekitar US$7,4 miliar atau setara Rp124,79 triliun (kurs Rp16.864).

Melalui pembangunan RDMP, kapasitas produksi BBM meningkat dari sebelumnya 260 ribu barel per hari (KBPD) menjadi 360 KBPD setara Euro V. Selain itu, proyek ini menaikkan Indeks Kompleksitas Kilang dari 3,7 menjadi 8, dan persentase nilai produk meningkat menjadi 91,8% dari sebelumnya 75,3%.

Pengembangan kilang Balikpapan sendiri menjadi langkah penting untuk mewujudkan swasembada energi sesuai program Astacita. Dengan begitu, Indonesia tidak lagi mengandalkan impor bahan bakar minyak (BBM) dan Liqufied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan dalam negeri.

“Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, maka kita dapat mengurangi ketergantungan impor BBM dan LPG, serta dapat menghasilkan produk dengan kualitas setara EURO V yang tentunya lebih ramah lingkungan," ujar Bahlil.

32 Tahun Lalu
Sementara itu, saat meresmikan proyek Pertamina RDMP Balikpapan, Presiden Prabowo Subianto menyebut, pembangunan infrastruktur energi berskala besar seperti ini terakhir kali dilakukan sekitar 32 tahun lalu.

"Tadi kita sudah disebut bahwa acara seperti ini pernah dilakukan tahun 1994. Berarti 32 tahun yang lalu, ya lumayan cukup bersejarah," kata Prabowo dalam sambutannya pada acara yang berlangsung di Refinery Unit (RU) V Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin.

Diketahui, pada 1994, Presiden ke-2 RI Soeharto meresmikan kilang Pertamina di Balongan, Indramayu, Jawa Barat "Tentunya saya menyambut bahagia dan merasa sangat bangga Atas yang kita hasilkan hari ini dengan peresmian ini," imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penyelesaian proyek. Mulai dari para insinyur, pekerja, aparat keamanan, pemerintah daerah, manajemen, hingga masyarakat Balikpapan dan Kalimantan Timur.

Kepala Negara memandang keberhasilan RDMP Balikpapan sebagai capaian penting bagi negara dan bangsa,. Apalagi, sektor energi merupakan salah satu kebutuhan mendasar yang menopang kehidupan modern dan kemandirian nasional.

"Ini adalah prestasi yang sangat penting bagi negara dan bangsa. Kita mengerti bahwa peradaban modern itu tergantung hal-hal yang esensial bagi berdirinya sebuah negara merdeka," ucapnya.

Menurut Prabowo, negara merdeka harus mampu menghasilkan pangan sendiri sebagai syarat paling mendasar. Selain pangan, kemampuan memproduksi energi secara mandiri juga menjadi faktor penting bagi kedaulatan dan ketahanan nasional.

Dalam konteks energi, Presiden menyoroti besarnya potensi sumber daya yang dimiliki Indonesia. Cadangan batu bara nasional disebut termasuk yang terbesar di dunia dan dapat diolah menjadi berbagai bentuk energi, termasuk gas dan bahan bakar.

Selain itu, Indonesia juga memiliki kemampuan memproduksi energi dari tanaman, seperti kelapa sawit yang dapat diolah menjadi biodiesel dan solar.

Presiden juga menyinggung potensi produksi dimethyl ether (DME) yang dapat menggantikan impor LPG. Begitu juga dengan pemanfaatan panas bumi yang merupakan salah satu terbesar di dunia namun belum dimaksimalkan, serta pengembangan energi dari air dan tenaga surya.

"Juga kemampuan kita di energi dari air, dan juga saudara-saudara ke depan kita juga akan mengembangkan tenaga surya. Dengan panel-panel kita akan listrifikasi sehingga kita sungguh-sungguh dapat menghasilkan energi kita sendiri. Tidak perlu kita impor energi dari luar," kata Presiden.

Prabowo mengatakan, pemerintah menargetkan kemampuan menghasilkan energi secara mandiri dapat dicapai dalam beberapa tahun ke depan melalui kerja keras dan kesinambungan pembangunan, dengan harapan hasilnya dapat dicapai lebih cepat dari target yang ditetapkan.

"Ini sasaran kita, kita harapkan dalam 5 tahun kita bisa mencapai ini. Tapi tidak ada masalah kalau tidak 5 tahun, tahun ke-6. Kalau tidak tahun ke-6, tahun ke-7, yang penting kita harus menuju ke situ. Tapi siapa tahu dengan kerja keras kita bisa menghasilkan lebih cepat," pungkasnya.