Periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berupaya terus memperkuat regulasi dan upaya memfasilitasi industri film, agar ekosistem perfilman Jakarta tumbuh lebih maju, berdaya saing dan berkelanjutan.
"Karena itu, Jakarta Kota Sinema bukan sekadar slogan, melainkan agenda pembangunan kota," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno di Jakarta, Selasa (3/2).
Upaya ini diwujudkan melalui kemudahan produksi dan tata kelola lokasi syuting. Termasuk penataan ruang publik, integrasi perizinan, perlindungan karya dan pelaku industri, serta dukungan terhadap perhelatan Jakarta Youth Film Festival (JYFF) 2026.
JYFF, kata Rano, menjadi langkah strategis untuk memperkuat subsektor perfilman dan konten audiovisual di Jakarta. Dia meyakini dalam dua tahun ke depan, JYFF mampu berkembang menjadi ajang film anak muda berskala internasional.
"Kami berharap lahir karya-karya yang menyuarakan Jakarta dengan segala keberagaman dan dinamika. Saya sangat yakin dalam waktu dua tahun ini yang disebut Jakarta Youth Festival ini akan menjadi youth international," kata Rano.
Jakarta Youth Film Festival 2026 yang mengusung tema "Jakarta Kota Kita", merupakan ruang kreatif generasi muda untuk berproses dalam ekosistem perfilman. Sekaligus sebagai wadah aktualisasi talenta muda Jakarta yang sejalan dengan pengembangan ekonomi kreatif, sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru perekonomian DKI Jakarta.
Dalam kesempatan itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Iwan Setiawan mengatakan, JYFF 2026 merupakan rangkaian dari Jakarta Creative Festival yang akan berlangsung hingga awal Juli 2026.
"Jakarta Youth Film Festival merupakan ide orisinil dari Pak Wagub. Kami eksekusi, karena BI punya kepentingan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Jakarta, mendukung visi dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta," ucapnya.
Iwan meyakini melalui film, tidak hanya terbangun industri kreatif, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Mari kita dukung bersama visi menjadikan Jakarta sebagai Kota Sinema dunia,” tuturnya.
Kota Tua
Merespon hal tersebut, Rano Karno mengungkapkan asal muasal pemilihan Kota Tua Jakarta, sebagai lokasi syuting film laga yang salah satunya dibintangi Lisa dari grup idola K-pop BLACKPINK.
"Kenapa mereka syuting di situ? Itu lahir dari Festival Film Cannes (Prancis). Kami tahun lalu, buka booth (stan) di Festival Film Cannes. Mei 2025, kami ikut lagi," kata Rano.
Rano mengatakan, semula ingin menutup rapat informasi terkait syuting film berjudul "Extraction: Tygo" di kawasan Kota Tua, mulai akhir Januari hingga Februari 2026.
Dia bahkan sudah minta jajarannya untuk tak memberikan informasi apapun terkait film. Ini lantaran Rano paham ada unsur kerahasiaan dalam pembuatan sebuah film.
"Saya tahu, film harus dilahirkan confidential. Kalau mau promo, Jakarta lebih berhak promo tentang kehadiran Lisa BLACKPINK. Saya sudah bilang ke dinas, tidak boleh satu orang pun bicara, akan ada syuting Korea, bintangnya siapa," kata Wagub.
Namun informasi tersebut akhirnya diketahui publik pekan lalu atau akhir Januari 2026. Hal itu terjadi setelah kabar adanya pengalihan lalu lintas pada 28 dan 29 Januari 2026 serta 1-7 Februari 2026 di Jalan Cengkeh.
Simpang Jalan Kunir hingga simpang Jalan Nelayan Timur ditutup pada pukul 05.00–19.00 WIB. Spanduk pengumuman rekayasa lalu lintas pun masih terpasang di ujung Jalan Kunir yang sempat digunakan sebagai lokasi syuting.
Adapun dijadikannya Jakarta sebagai lokasi syuting film internasional diakui pihak Jakarta Experience Board (JXB), berdasarkan arahan Wagub Rano yang ingin menjadikan Jakarta sebagai kota sinema. salah satu lokasinya adalah Kota Tua.
Tinggalkan Komentar
Komentar