periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive.
Bulan Ramadhan itu ibarat training camp buat kita semua. Ada yang udah jago puasanya, ada yang lagi semangat-semangatnya belajar baca Al-Qur'an, dan ada juga yang lagi berjuang mati-matian buat ngebangun kebiasaan salat lima waktu.
Jujur aja, ngebangun dua kebiasaan besar, yaitu puasa seharian dan salat fardhu on time, di saat yang bersamaan itu emang nggak gampang. Kadang kita sukses nahan lapar dan haus dari Subuh sampai Maghrib, tapi entah kenapa, pas denger azan Zuhur atau Ashar, rasanya badan berat banget buat sekadar melangkah ke tempat wudhu.
Sering dengar kan curhatan kayak gini: "Gue lagi belajar pelan-pelan nih. Seenggaknya gue udah bisa puasa full, salatnya nanti nyusul deh, bertahap."
Di titik ini, mungkin banyak orang yang langsung nge-judge. "Percuma puasa kalau nggak salat!" Wah, kalau denger kalimat kayak gitu, rasanya mental langsung down, kan? Niatnya mau berproses, eh malah disuruh udahan sekalian.
Nah, di Halalive, kita nggak mau saling menghakimi. Kita semua lagi sama-sama belajar. Tapi, biar proses belajar kita makin terarah, yuk kita obrolin bareng-bareng gimana sih pandangan fiqih soal hal ini. Biar kita tahu value ibadah kita di mata Allah.
Secara Fiqih: Puasanya Sah Nggak Sih?
Ini kabar baiknya buat kamu yang lagi berjuang. Kalau kita tanya ke mayoritas ulama (Jumhur Ulama), termasuk dari mazhab Syafi’i yang jadi mayoritas di Indonesia, jawabannya: Secara fiqih, puasanya tetap SAH.
Kenapa? Karena dalam hukum Islam, syarat sah dan rukun puasa itu jalurnya beda sama salat. Selama kamu udah niat puasa di malam hari, beragama Islam, dan sukses nahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa (kayak makan dan minum) dari terbit fajar sampai terbenam matahari, maka kewajiban puasa kamu hari itu sudah gugur. Sah. Kamu nggak wajib qadha (mengganti puasa) di bulan lain.
Jadi, tenang aja. Perjuanganmu menahan lapar seharian itu nggak sia-sia secara hukum. Puasa tetaplah kebaikan besar yang patut diapresiasi.
Tapi, Yuk Kita Bicara Soal Pahala dan Esensi
Puasanya emang sah, tapi sebagai bestie sesama muslim, kita juga harus ngomongin soal pahala dan keberkahannya.
Coba kita pakai analogi sederhana. Bayangin kamu lagi ngebangun sebuah rumah impian. Puasa itu ibarat atapnya yang megah, melindungi kita dari panas dan hujan atau hawa nafsu. Nah, salat lima waktu itu adalah tiang pondasinya.
Rasulullah SAW pernah bersabda: رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
(Latin: Ra'sul amri al-islamu, wa 'amuuduhush shalaatu) Artinya: "Pokok dari segala urusan adalah Islam, dan tiangnya adalah salat." (HR. Tirmidzi)
Kebayang nggak, sayang banget kan kalau atapnya udah dibikin susah payah sedemikian indah, tapi tiangnya rapuh atau bahkan belum dibangun? Atapnya bingung mau bersandar di mana.
Allah itu sangat menghargai ibadah puasa kita. Tapi, salat adalah "tali pusar" yang menghubungkan kita langsung sama Allah lima kali sehari. Di akhirat nanti, amalan pertama yang bakal Allah cek dari kita itu adalah salatnya.
Nabi SAW ngasih tahu kita: أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ
(Latin: Awwalu maa yuhaasabu bihil 'abdu yaumal qiyaamatish shalaatu, fa in shalahat shalaha lahu saa-iru 'amalihi, wa in fasadat fasada saa-iru 'amalihi) Artinya: "Amal hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya. Jika salatnya rusak, maka rusaklah seluruh amalnya." (HR. Thabrani)
Jadi, sedih rasanya kalau puasa yang udah kamu tahan dengan susah payah seharian, pahalanya jadi kurang maksimal cuma karena kita lupa ngebangun "tiang" utamanya.
Satu-Satu Dulu Boleh Nggak?
Kalau sekarang kamu ngerasa: "Jujur, gue belum sanggup kalau harus langsung 5 waktu full, berat banget."
It's okay. Jangan biarkan pikiran "Ah, gue belum bisa salat 5 waktu, mending gue nggak usah puasa sekalian" menang. Itu bisikan yang salah banget. Jangan pernah meninggalkan kebaikan yang udah bisa kamu lakukan, hanya karena ada kebaikan lain yang belum sanggup kamu kerjakan.
Kaidah fiqih bilang: "Maa laa yudraku kulluhu, laa yutraku julluhu" (Apa yang tidak bisa diraih semuanya, jangan ditinggalkan semuanya).
Kalau kamu baru bisa puasa, pertahankan puasamu! Jangan sampai lepas. Jadikan puasamu itu sebagai jembatan buat melembutkan hati biar pelan-pelan mau salat.
Kamu bisa mulai berproses dengan langkah kecil. Misalnya:
Hari ini, karena pas buka puasa pasti wudhu dan minum air, yuk sekalian salat Maghrib!
Besoknya, tambah salat Isya sekalian nyambung Tarawih bareng temen.
Pelan-pelan, coba bangun lebih awal pas sahur biar bisa sekalian salat Subuh.
Allah itu Maha Tahu kok seberapa keras usaha kita buat ngelawan rasa malas. Setiap langkah kecilmu buat wudhu, meski dengan badan lemes karena puasa, itu nilainya luar biasa di mata Allah.
Sobat Halalive, puasa dan salat itu ibarat dua sahabat baik yang bakal gandengan tangan nemenin kita di akhirat nanti. Puasamu sah dan sangat berharga, tapi akan jadi jauh lebih sempurna, lebih kuat, dan lebih berkah kalau ditemani sama salat.
Nggak perlu nunggu jadi manusia sempurna buat mulai salat. Justru, salat itulah yang pelan-pelan bakal ngebantu kita jadi pribadi yang lebih baik.
Yuk, jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik. Nggak apa-apa mulai dari satu atau dua waktu dulu, yang penting grafiknya naik. Kita support satu sama lain, ya! Semangat puasanya, semangat juga pelan-pelan nyicil salatnya!
Sumber Rujukan
- Hadits amal pertama yang dihisab adalah salat (HR. Thabrani / At-Tirmidzi): https://sunnah.com/tirmidhi:413
- Hadits salat sebagai tiang agama (Jami' at-Tirmidzi): https://sunnah.com/tirmidhi:2616
Tinggalkan Komentar
Komentar