Periskop.id - Kebiasaan minum kopi saat sarapan ternyata membawa lebih dari sekadar efek melek pagi. Kafein di dalamnya memicu setidaknya enam reaksi berbeda pada tubuh, mulai dari perubahan hormon sampai gangguan pencernaan.
Dalam laporan terbarunya, Very Well Health menjelaskan dampak kopi pagi hari bisa positif maupun negatif tergantung kondisi tubuh masing-masing orang.
Secangkir kopi hitam standar mengandung kafein hingga 250 miligram. Kafein bekerja sebagai stimulan pada sistem saraf dan otak, sehingga tubuh terasa lebih segar dan fokus meningkat.
Efek dorongan energi ini biasanya muncul sekitar satu jam setelah kopi diminum. Rentang efeknya bisa bertahan empat hingga enam jam, meski tidak berlangsung selamanya.
Selain energi, kafein juga memengaruhi kadar hormon kortisol dalam tubuh. Konsumsi kopi dengan kandungan kafein sekitar 80-120 miligram saja sudah cukup memicu kenaikan kortisol secara signifikan.
Kortisol dikenal sebagai hormon utama yang berperan dalam respons tubuh terhadap stres. Kenaikannya bersifat sementara dan lebih terasa pada orang yang belum terbiasa minum kopi secara rutin.
Sistem pencernaan turut kena imbas dari kebiasaan ngopi pagi. Kafein berfungsi sebagai pencahar alami yang merangsang pergerakan usus, sehingga bisa membantu buang air besar lebih cepat, terutama saat diminum setelah sarapan.
Di sisi lain, sifat asam pada kopi juga bisa memicu produksi asam lambung berlebih. Sebagian orang bisa mengalami sakit perut, nyeri ulu hati atau heartburn, perut kembung, gas berlebih, hingga iritasi pada lapisan lambung akibat kondisi ini.
Penyerapan nutrisi penting seperti kalsium, zat besi, magnesium, dan vitamin D juga bisa terganggu oleh kafein. Konsumsi kafein dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan kadar vitamin D yang lebih rendah, diduga akibat proses metabolisme kafein dalam tubuh.
Meski begitu, konsumsi kopi dalam jumlah sedang umumnya tidak berdampak berarti bagi orang dengan kadar nutrisi yang seimbang. Orang yang berisiko kekurangan vitamin atau rutin mengonsumsi suplemen disarankan mengatur jadwal minum suplemen agar tidak bersamaan dengan waktu minum kopi.
Tekanan darah juga bisa terpengaruh, khususnya bagi mereka yang jarang mengonsumsi kopi. Kafein merangsang sistem saraf pusat, tubuh merespons dengan menyempitkan pembuluh darah, detak jantung pun meningkat diikuti kenaikan tekanan darah sementara.
Namun beberapa penelitian justru menunjukkan konsumsi kopi rutin bisa membantu menurunkan risiko hipertensi dalam jangka panjang. Penderita tekanan darah tinggi tetap disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan soal batas aman konsumsi kopi.
Kadar gula darah pun tak luput dari pengaruh kafein, terutama bila kopi diminum sebelum sarapan. Rangsangan kafein pada sistem saraf memicu pelepasan glukosa yang tersimpan ke aliran darah, sehingga kadar gula darah bisa naik sementara.
Respons insulin setiap orang berbeda-beda, tergantung faktor genetika, metabolisme, dan kondisi tubuh masing-masing. Sejumlah penelitian tetap menunjukkan konsumsi kopi dalam jumlah sedang secara jangka panjang berpotensi mendukung kesehatan metabolisme tubuh.
Tinggalkan Komentar
Komentar