Periskop.id - Bagi banyak orang, kopi adalah "bahan bakar" wajib sebelum memulai aktivitas. Namun, sebuah penelitian besar yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications pada 2026 berjudul “Habitual Coffee Intake Shapes The Gut Microbiome and Modifies Host Physiology and Cognition” mengungkapkan bahwa dampak kopi jauh lebih dalam daripada sekadar mengusir rasa kantuk. 

Kopi terbukti secara nyata mengubah susunan bakteri di dalam usus kita, yang kemudian memengaruhi kesehatan mental hingga cara kita bereaksi terhadap emosi.

Penelitian ini menyoroti fenomena yang disebut dengan Poros Mikrobiota–Usus–Otak (Microbiota–Gut–Brain Axis). Istilah teknis ini sebenarnya merujuk pada "kabel komunikasi" dua arah antara sistem pencernaan dan otak. 

Artinya, apa yang terjadi di perut kita, terkait bakteri usus, bisa mengirim sinyal yang memengaruhi suasana hati dan cara kerja otak, begitu pula sebaliknya.

Dalam studi ini, para ahli menemukan bahwa peminum kopi rutin memiliki jenis bakteri usus yang berbeda dibandingkan mereka yang tidak minum kopi. Bakteri bernama Cryptobacterium dan Eggerthella ditemukan lebih banyak pada peminum kopi. 

Meskipun terdengar asing, perubahan jenis bakteri ini penting karena mereka bertugas memproses zat-zat dari kopi menjadi senyawa kimia yang bisa masuk ke aliran darah.

Namun, ada temuan unik: peminum kopi ternyata memiliki kadar GABA yang lebih rendah di kotoran mereka. 

GABA adalah sebuah neurotransmiter atau senyawa kimia pembawa pesan di otak yang fungsinya memberikan efek tenang dan rileks. Penurunan ini menjelaskan mengapa peminum kopi cenderung memiliki sisi psikologis yang berbeda.

Sederhananya, GABA memiliki fungsi layaknya "rem" di kendaraan. Senyawa ini menenangkan saraf agar tidak terlalu kencang bereaksi. 

Penelitian menemukan kadar GABA di feses, yang mencerminkan produksi di usus, lebih rendah pada peminum kopi. Artinya, "rem" alaminya sedang blong atau tipis.

Karena remnya kurang kuat, peminum kopi jadi lebih mudah "ngegas" secara emosional.

Inilah mengapa secara perilaku, penelitian ini menemukan bahwa orang yang rutin minum kopi cenderung lebih impulsif atau sering bertindak cepat tanpa pikir panjang dan memiliki reaktivitas emosional yang lebih tinggi atau lebih mudah bereaksi terhadap pemicu emosi. 

Sebaliknya, mereka yang jarang atau tidak minum kopi justru menunjukkan kemampuan memori atau daya ingat yang lebih stabil.

Menariknya, efek ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh kafein. Saat peserta penelitian diminta berhenti minum kopi selama dua minggu, beberapa kondisi bakteri usus mereka kembali normal. 

Namun, ketika mereka mulai minum kopi lagi, baik kopi biasa maupun kopi dekafein atau yang kafeinnya sudah dihilangkan, perubahan bakteri usus tetap terjadi. 

Ini membuktikan bahwa ada zat lain dalam biji kopi, seperti polifenol yang merupakan zat antioksidan, bekerja secara mandiri tanpa bantuan kafein.

Kabar baik bagi peminum kopi, studi ini juga menemukan bahwa kopi memiliki sifat anti-inflamasi atau anti-peradangan. Tubuh peminum kopi menunjukkan kadar protein peradangan yang lebih rendah. 

Ini diduga karena kopi membantu meningkatkan sistem imun tubuh dalam mengelola stres fisik, sehingga tubuh tidak mudah mengalami peradangan kronis yang sering menjadi sumber penyakit.