Periskop.id - Salah satu kios kopi di Pasar Santa, Jakarta Selatan, membuka pelatihan barista atau ahli peracik minuman kopi. Biaya yang dipatok mulai dari Rp500 ribu per orang untuk masyarakat umum.

"Kita kan jadi konsultan juga buat yang belajar kopi itu kalau mau buka kafe segala macam gitu kan dari sini juga. Kalau mau belajar juga cuma Rp500 ribu di sini," kata Suradi, pemilik kios Dunia Kopi, saat ditemui di Pasar Santa Jakarta, Selasa (28/4), seperti dilansir Antara.

Suradi mengatakan, pelatihan tersebut terbuka untuk berbagai kalangan, termasuk anak yatim, santri, maupun penyandang disabilitas. Pelatihan dapat diikuti setiap hari dengan metode belajar dan waktu yang fleksibel.

Menurut Suradi, pelatihan tersebut bertujuan mendorong lahirnya pelaku usaha kopi baru, bahkan untuk pemula yang ingin membuka usaha kafe. “Kalau mau buka kafe, duit Rp6 juta aja asal ada meja sudah bisa,” katanya.

Nantinya, kebutuhan awal usaha tersebut sudah mencakup peralatan dasar seperti mesin kopi dan grinder atau penggiling biji kopi. Kebanyakan peminat yang ingin belajar tentang kopi dan menjadi barista didominasi kalangan anak muda, bahkan dari mancanegara. 

Hal itu karena kopi memiliki segmentasi khusus. “Anak muda sih rata-rata yang mau-mau belajar kopi,” ujarnya.

Maka itu, dia berharap pengembangan kopi Indonesia terus meningkat, baik di dalam negeri maupun di pasar global. “Pokoknya cita-cita ke depan kopi Indonesia itu harus bersinar di dalam negeri dan di luar negeri,” ucapnya.

Dunia Kopi di Pasar Santa merupakan usaha milik Suradi yang didirikan pada tahun 2000. Setiap biji kopinya berasal dari petani lokal yang kini dikenal sampai ke luar negeri.

Segmentasi Pasar
Asal tahu saja, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan mengenalkan Pasar Santa sebagai pusat belanja biji kopi dalam upaya mendongkrak perekonomian kawasan. Adapun kegiatan pemerintah itu meliputi pelatihan tenaga kerja dan bazar UMKM agar warga khususnya Jakarta Selatan lebih mengenal seputar bisnis kopi.

Tercatat, ada 25 pedagang biji kopi di Pasar Santa yang menjual beragam kopi dari dalam maupun luar negeri. Pasar Santa, Jakarta Selatan memang mengandalkan kopi sebagai daya tarik utama sebagai strategi dalam menyasar segmentasi pasar, sehingga memiliki karakter berbeda dibanding pasar lainnya.

"Kan harusnya memang semua pasar itu punya keunggulan, punya produk ciri khas," kata Suradi.

Suradi mengatakan aktivitas usaha kopi di Pasar Santa tetap ramai meskipun muncul anggapan, pasar tersebut sepi konsumen. Di sisi lain menurut keterangan beberapa pedagang, keberadaan tenan kopi yang ramai turut mendorong aktivitas di kios lain dalam pasar.

"Kalau satu toko ramai ini tetangga-tetangga juga ikut kebagian. Kan enggak mungkin orang cuma beli kopi doang kan, pasti ya makan ya beli camilan, nanti belanja baju dan celana seperti di lantai atas. Ya pasti pembeli muter," ungkapnya.

Oleh karena itu, setiap pasar harus memiliki ciri khas atau keunggulan masing-masing, termasuk Pasar Santa yang kini dikenal dengan kopi sebagai ikon utama.

“Ya kan harusnya memang semua pasar itu punya ruh ya atau unggulan. Misalkan kayak Pasar Cipulir dan Tanah Abang gitu kan baju kain berarti fesyen," imbuhnya. 

Lebih lanjut, ketahanan usaha kopi di Pasar Santa didukung oleh ekosistem yang dibangun langsung dari hulu ke hilir, termasuk kemitraan dengan petani.

Biji kopi yang dijual berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Barat, Temanggung, hingga Aceh, dibanderol dengan harga berkisar Rp130 ribu hingga Rp800 ribu per kilogram. Para pembeli, kata Suradi, dipastikan mendapat kualitas kopi yang segar.

Seiring tren kopi yang terus berkembang, kalangan anak muda juga menikmati kopi infused. "Apalagi ngetren anak-anak muda kopi infused,” serunya. 

Sebagai informasi, Pasar Santa berdiri di atas lahan seluas 10.953 meter persegi (m²). Pada Mei 2007, pasar ini mulai direnovasi menjadi gedung tiga lantai dengan luas bangunan 7.328 m².

Area basement Pasar Santa didominasi oleh tenant kopi, sementara lantai atas diisi berbagai jenis usaha, termasuk makanan, pakaian, dan barang jaman dahulu (vintage).