Periskop.id - Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak kembali mengingatkan, fungsi petugas haji adalah memberi pelayanan kepada jamaah, bukan malah ikut nebeng berhaji.
“Kami itu ingin memastikan petugas haji itu niat utamanya itu adalah menjadi petugas haji, bukan orang-orang yang nebeng naik haji. Karena mereka sudah dilatih cukup lama sebagai sebuah tim,” ujar Wamenhaj Dahnil dalam pengukuhan petugas haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Jumat (30/1).
Para Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah menjalani pelatihan dan pendidikan selama 20 hari di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Selanjutnya mereka akan menjalani diklat secara daring selama 10 hari.
Menurut Wamenhaj, profil para petugas haji tahun ini berbeda-beda latar belakang, mulai dari dokter, aparat keamanan, jurnalis, bahkan profesor hingga akademisi. Semuanya mesti dalam satu bendera yang sama yakni sebagai petugas haji.
Mereka juga harus menanggalkan setiap identitas yang melekat pada dirinya ketika bertugas melayani tamu-tamu Allah. Ia menegaskan, tidak ada perlakuan istimewa yang diberikan, semua berlaku setara.
“Nah, kita harapkan dengan pola ini kita bisa menjawab kritik publik selama ini untuk menghindari ada orang-orang yang nebeng naik haji,” serunya.
Ia menegaskan pendidikan semi militer yang diterapkan selama diklat bertujuan membangun kekompakan, kedisiplinan, serta membentuk komando yang terarah. Dengan demikian tugas-tugas selama di Tanah Suci akan lebih mudah.
“Jadi jangan kemudian mereka memposisikan diri sebagai jamaah. Karena banyak yang terjadi sebelum-sebelumnya, petugas haji itu jadi minta dilayani malah,” kata Dahnil.
Wajah Negara
Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf menambahkan, menjadi petugas haji merupakan amanah besar negara yang tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, tetapi juga menyangkut kehormatan bangsa, kepercayaan umat, serta wibawa Indonesia.
“Setiap tahun Indonesia mengirimkan jamaah haji dengan jumlah terbesar di dunia. Karena itu, tata kelola yang tertib serta kualitas petugas yang andal menjadi kunci untuk mewujudkan penyelenggaraan ibadah haji yang kita harapkan,” tuturnya.
Ia mengatakan petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) menempati posisi yang sangat strategis karena menjadi wajah negara, baik di hadapan jamaah maupun di hadapan dunia internasional. Menurut dia, wajah negara tidak hanya tercermin dari pekerjaan yang diselesaikan, tetapi juga dari sikap, keteguhan, serta kepekaan dalam melayani.
Di tengah kepadatan aktivitas, perbedaan latar belakang jamaah, serta tantangan fisik dan emosional di Tanah Suci, katanya, para petugas dituntut untuk tetap tenang, sigap, dan bertanggung jawab.
Pekerjaan tersebut, kata dia, tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga menuntut integritas, kedisiplinan, serta kesadaran bahwa setiap tindakan berhubungan langsung dengan keselamatan dan kenyamanan jamaah.
Oleh karena itu, Gus Irfan menekankan pentingnya pembekalan bagi para petugas sebagai sarana untuk memahami tugas, memperkuat koordinasi, serta menyatukan langkah dalam satu misi pelayanan.
“Saya menekankan disiplin dalam menjalankan peran dan kewenangan, disiplin waktu, serta disiplin dalam etika dan integritas. Tanpa disiplin, pelayanan akan kehilangan arah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, setiap bantuan yang diberikan, setiap masalah yang diselesaikan, dan setiap kesabaran yang ditunjukkan petugas bagian dari kebahagiaan jamaah sekaligus tanggung jawab keagamaan. Ia mengajak seluruh petugas untuk menjadikan amanah tersebut sebagai ruang belajar, memperbaiki diri, dan menunjukkan komitmen sebagai wakil negara.
“Jaga kepercayaan Indonesia, jaga keamanan, dan laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab,” tandasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar