periskop.id - Maskapai nasional Garuda Indonesia mengerahkan sedikitnya 1.085 awak pesawat, untuk melayani penerbangan calon jamaah haji 1447 Hijriah yang akan dimulai pada pada 21 April 2026. Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan di Tangerang, Rabu (15/4) mengatakan, pengerahan ratusan pilot dan crew cabin pesawat ini dilakukan sebagai peningkatan layanan bagi calon jamaah haji dari dan menuju Tanah Suci.

Dari 1.085 awak pesawat yang dikerahkan, terdiri dari 731 awak kabin dan 354 awak kokpit. Termasuk 139 petugas darat haji yang akan mendukung kelancaran mobilisasi jemaah di seluruh embarkasi. "Total kita kerahkan 15 pesawat. Krunya atau pilot ada 300-an dan 700-an cabin crew," kata Glenny.

Selain itu, pihaknya menyediakan 15 armada pesawat berbadan lebar (wide-body) milik Garuda untuk mengangkut sebanyak 102 ribu lebih jemaah haji. Penerbangan terbagi dalam 278 kelompok terbang (kloter) dari 10 embarkasi, yaitu Jakarta, Banda Aceh, Medan, Padang, Solo, Yogyakarta, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, dan Lombok.

"Pemberangkatan jemaah akan dilaksanakan secara bertahap mulai 21 April hingga 21 Mei 2026, dengan fase keberangkatan menuju Madinah pada 21 April hingga 6 Mei 2026 dan menuju Jeddah pada 7 hingga 21 Mei 2026. Sementara itu, fase pemulangan jemaah dijadwalkan berlangsung pada 1 hingga 30 Juni 2026," jelasnya.

Penerbangan perdana akan diawali dengan keberangkatan kloter pertama dari embarkasi Yogyakarta, Selasa (21/4) pukul 23.40 WIB, dengan nomor penerbangan GA 6501 menggunakan armada Airbus A330-300.

Jamaah Lansia
Garuda Indonesia, lanjutnya, memastikan kesiapan operasional secara menyeluruh, dengan menitikberatkan pada aspek keselamatan penerbangan (safety). Hal ini sejalan dengan meningkatnya proporsi jemaah haji lansia pada tahun ini.

"Untuk mendukung operasional haji tahun ini, ada 15 pesawat terdiri dari 8 pesawat milik Garuda Indonesia dan 7 pesawat sewa, mencakup 6 Boeing 777-300ER, 6 Airbus A330-300, dan 3 Airbus A330-900neo," ujarnya.

Kata Glenny, seluruh armada tersebut merupakan generasi pesawat dengan usia terbilang kompetitif yang dioptimalkan untuk penerbangan jarak jauh. Armada juga dipastikan dalam kondisi prima melalui penerapan prosedur perawatan berlapis dengan program Aircraft Health Program. Ttermasuk pemenuhan sertifikasi dari otoritas penerbangan Arab Saudi sebagai prasyarat utama operasional haji.

"Kepercayaan ini kami jawab melalui penguatan kesiapan operasional secara end-to-end, dengan memastikan seluruh aspek safety, keandalan armada, serta kualitas layanan berjalan optimal di setiap titik perjalanan jemaah," ujarnya.

Glenny menambahkan, penguatan layanan pada tahun ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan jemaah lansia, yang jumlahnya mencapai sekitar 18 ribu orang atau sekitar 18% dari total jemaah yang dilayani. Termasuk sejumlah jemaah berkebutuhan khusus.

"Hal ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan layanan haji yang tidak hanya aman, namun juga penuh empati dan kemudahan bagi seluruh jemaah," ucapnya.

Sebagai bagian dari penguatan layanan tersebut, pihaknya menyiapkan berbagai fasilitas penunjang. Di antaranya penyediaan wheelchair di setiap embarkasi, ambulift di embarkasi Jakarta dan Solo, bus jemaah dengan fasilitas toilet, penggunaan garbarata di sejumlah embarkasi, layanan penanganan bagasi khusus, hingga fasilitas buggy car di Bandara Internasional King Abdulaziz.