Periskop.id - Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah H. Amodi menegaskan, pihaknya menjamin kelancaran dan keamanan para jamaah calon haji selama menjalankan ibadah di negaranya.

"Kami menegaskan peran penting daripada Kerajaan Arab Saudi dalam memberikan pelayanan kepada seluruh umat Islam di dunia, termasuk Indonesia, yang merupakan jamaah haji terbanyak di dunia," ucap Dubes Faisal Abdullah dalam konferensi pers di Tangerang, Sabtu (25/4) malam.

Ia mengatakan, selama ini jamaah haji asal Indonesia terbanyak pertama di dunia dalam menjalani ibadah di Tanah Suci, Makkah. Raja Salman bin Abdulaziz dan juga Putra Mahkota Mohammed bin Salman bin Abdulaziz, lanjutnya, berkomitmen untuk terus memberikan layanan terbaik bagi jamaah haji.

Hal ini, kata dia, telah dibuktikan melalui kerja sama yang baik antarkedua negara dengan menciptakan inisiatif baru, yakni menghadirkan pelayanan Makkah Route secara luas di Indonesia.

"Tujuan daripada inisiatif ini adalah untuk memberikan kemudahan kepada sebagian jamaah haji seluruh dunia, termasuk Indonesia, sebelum mereka berangkat dari negaranya masing-masing menuju Arab Saudi," jelasnya.

Ia mengatakan, seluruh prosedur masuk ke Kerajaan Arab Saudi telah diselesaikan di setiap bandara keberangkatan, termasuk prosedur keimigrasian, kesehatan, serta pengaturan bagasi.

Setibanya jamaah haji di Arab Saudi mereka akan langsung menuju tempat tinggal melalui jalur khusus, tanpa harus mengantre lagi untuk prosedur masuk.

"Dan tentu kembali lagi kami mendoakan kepada para jamaah haji Indonesia, semoga mereka diberikan kesehatan dan kemudahan dalam kelancaran melaksanakan ibadah haji dan kembali ke tanah air dengan selamat tanpa ada rasa capek," tuturnya. 

Sementara Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengatakan, hingga saat ini terdapat 56 kloter yang meliputi 25.200 orang calon haji asal Indonesia sudah diterbangkan ke Arab Saudi.

"Dan Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar berkat kerja sama ini," ucap dia.

Ring Utama

Untuk diketahui, seluruh jemaah haji reguler Indonesia tahun ini ditempatkan di kawasan markaziyah atau ring utama di sekitar Masjid Nabawi. Kawasan ini menjadi lokasi paling dekat dengan pusat ibadah di Kota Madinah.

Kepala Seksi Akomodasi Daker Madinah PPIH Arab Saudi Zaenal Muttaqin, mengatakan, kawasan markaziyah merupakan area favorit bagi jamaah dari berbagai negara. Ini karena letaknya yang strategis, sehingga ketersediaan hotel di wilayah tersebut sangat terbatas.

“Seluruh jamaah haji reguler Indonesia, sekitar 203 ribu orang, seluruhnya bisa ditempatkan di daerah markaziyah,” ujar Zaenal dikutip dari rekaman yang diterima pewarta, Sabtu.

Ia menjelaskan, meski kapasitas hotel terbatas dan menjadi rebutan banyak negara, Indonesia berhasil memperoleh alokasi penuh di kawasan tersebut untuk seluruh jamaahnya.

Menurut Zaenal, karakter hotel di markaziyah cukup bervariasi, dengan kapasitas kamar mulai dari dua hingga lebih dari empat orang. Namun, penempatan tersebut mengutamakan kemudahan akses bagi jamaah untuk beribadah.

“Yang paling utama adalah jamaah bisa setiap waktu salat di Masjid Nabawi tanpa harus bersusah payah, cukup berjalan kaki,” tuturnya. 

Terkait potensi keluhan jamaah terhadap akomodasi, Zaenal memastikan PPIH telah menyiapkan berbagai kanal pengaduan, mulai dari tim krisis, tim sigap, hingga layanan berbasis digital seperti WA Center dan aplikasi Kawal Haji.

Ia menambahkan, setiap laporan yang masuk akan segera ditindaklanjuti oleh petugas di daerah kerja (daker) Madinah bersama tim sektor di lapangan.

Meski demikian, ia mengakui tidak semua permasalahan dapat diselesaikan secara instan karena memerlukan koordinasi dengan pihak penyedia layanan di Arab Saudi, termasuk pemilik hotel dan pengelola setempat.

“Kalau semua berjalan lancar, proses penempatan jamaah dari menerima kunci hingga masuk kamar bisa selesai dalam 15 menit. Namun jika ada kendala, tentu membutuhkan proses,” ujarnya.

Zaenal juga menegaskan, petugas secara rutin melakukan pemantauan harian dengan berkeliling ke hotel-hotel, guna memastikan layanan akomodasi, konsumsi, dan kesehatan jamaah berjalan optimal.

Ia pun meminta masyarakat dan keluarga jamaah di Indonesia untuk memahami, setiap proses penanganan keluhan memiliki waktu penyelesaian yang bervariasi, tergantung pada jenis permasalahan yang dihadapi.