periskop.id - Putra Tri Ramadani mencetak sejarah bagi panjat tebing Indonesia. Pemanjat berusia 20 tahun yang akrab disapa Srondeng itu merebut medali emas nomor lead putra di World Climbing Series Praha, Republik Ceko.

Ia mengakhiri final di posisi teratas dengan koleksi 43 poin, mengalahkan dua rival beratnya. Neo Suzuki dari Jepang harus puas dengan perak usai mengumpulkan 39 poin, sementara perunggu jatuh ke tangan Jakob Schubert dari Austria dengan 37 poin.

Advertisement

"Srondeng menjadi pemanjat Indonesia pertama yang memenangkan medali emas World Climbing Series di luar nomor speed," tulis World Climbing dalam pernyataan resminya usai final lead putra berlangsung di Praha.

Capaian ini bukan sekadar kemenangan pribadi. Srondeng menjadi atlet Indonesia pertama yang naik podium tertinggi di seri bergengsi tersebut di luar nomor speed, kategori yang selama ini mendominasi raihan emas Merah Putih di kancah panjat tebing dunia.

Di klasemen World Climbing atau Federasi Panjat Tebing Internasional, posisi Srondeng kini bertengger di peringkat keenam dunia dengan total 3.075 poin. Ia masih terpaut cukup jauh dari pemuncak klasemen, Alberto Gines Lopez asal Spanyol, yang memimpin dengan 5.130 poin.

Peringkat dua ditempati Lee Dohyun dari Korea Selatan dengan 4.875 poin, disusul Suzuki di posisi ketiga dengan 4.765 poin. Dua atlet Jepang lainnya, Satone Yoshida dengan 4.740 poin dan Sorato Anraku dengan 4.400 poin, mengisi peringkat empat dan lima.

Tampil di Praha kali ini merupakan keikutsertaan kedua Srondeng dalam seri World Climbing sepanjang 2026. Sebelumnya, ia turun di seri Wujiang, Tiongkok, pada Mei lalu.

Performa Srondeng di Wujiang belum semengkilap Praha. Langkahnya terhenti di babak semifinal setelah menempati peringkat kesembilan, jauh dari podium yang akhirnya berhasil ia capai di seri berikutnya.

Lompatan performa dari Wujiang ke Praha menunjukkan progres signifikan dalam waktu singkat. Kemenangan di Republik Ceko itu kini menjadi pencapaian paling bersejarah dalam karier kompetisi internasional Srondeng hingga saat ini.

Ke depan, posisi keenam dunia yang ia sandang membuka peluang bagi Srondeng untuk terus bersaing di papan atas klasemen lead putra, seiring bergulirnya seri-seri World Climbing berikutnya.