periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit perbankan sebesar 7,70% secara tahunan (year on year/yoy) pada September 2025. Total kredit yang disalurkan pada periode tersebut mencapai Rp8.162,82 triliun.

Peningkatan terutama ditopang oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi sebesar 15,18% yoy, diikuti oleh kredit konsumsi yang naik 7,42% yoy. Pertumbuhan ini menunjukkan optimisme sektor keuangan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

“Ini didorong oleh kredit investasi yang tumbuh tinggi sebesar 15,18% yoy dan diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 7,42% yoy,” ujar Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam konferensi pers Hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV di Jakarta, ditulis Selasa (4/11).

Mahendra menjelaskan, kinerja intermediasi perbankan tetap stabil dengan profil risiko yang terjaga. Selain itu, kredit modal kerja juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 3,37% yoy.

Sementara itu, kualitas kredit perbankan dinilai tetap sehat. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat sebesar 2,24%, sedangkan NPL net berada di level 0,87%.

"Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,24% dan NPL net sebesar 0,87%," imbuhnya.

Loan at Risk (LaR), yang mencerminkan potensi risiko kredit di masa mendatang, juga terjaga pada level 9,52%. Angka ini menunjukkan kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit di tengah dinamika ekonomi global.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 11,18% yoy menjadi Rp9.695 triliun. 

Pertumbuhan ini didukung oleh peningkatan pada seluruh komponen penghimpunan dana.

Secara rinci, giro tumbuh 14,58%, tabungan meningkat 6,45%, dan deposito naik 12,37% yoy. Kondisi ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan masih kuat.

"Dengan giro, tabungan, dan deposito masing-masing tumbuh sebesar 14,58%, 6,45%, dan 12,37% yoy," tutupnya.