periskop.id – Kejaksaan Agung (Kejagung) menyatakan tengah melakukan pemantauan intensif terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat mengalami kejatuhan drastis. Fenomena fluktuasi pasar tersebut dinilai bersinggungan langsung dengan kepentingan masyarakat luas.

“Kita Kejaksaan juga tetap memantau atau memonitor adanya kejadian-kejadian. Seperti salah satunya adalah kejatuhan atau anjloknya IHSG secara mendadak dalam waktu satu-dua hari itu,” kata Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Syarief Sulaeman Nahdi di Gedung Kejagung, Jumat (31/1).

Syarief menegaskan bahwa Korps Adhyaksa menaruh perhatian serius terhadap segala peristiwa yang berdampak pada publik. Pengawasan dilakukan secara menyeluruh terhadap anjloknya bursa saham, meski langkah ini belum tentu langsung bermuara pada penyelidikan pidana.

Fungsi pemantauan ini, menurut Syarief, merupakan bagian integral dari tugas kejaksaan dalam menjaga stabilitas kepentingan umum. Timnya akan menelaah setiap dinamika yang muncul dari volatilitas pasar tersebut.

“Itu tetap dalam pantauan kami. Semua kami telaah. Pokoknya semua yang bersangkutan dengan kepentingan masyarakat umum, itu pasti kita pantau,” tegasnya.

Mengenai potensi adanya unsur pidana di balik kejatuhan indeks, Syarief menjelaskan posisi kejaksaan saat ini masih dalam tahap monitoring. Ia mensejajarkan urgensi pengawasan ini dengan penanganan kasus-kasus kakap lainnya.

Ia mencontohkan penegakan hukum di sektor strategis seperti kelapa sawit (CPO) dan pertambangan timah. Sektor-sektor tersebut menjadi prioritas karena menyangkut hajat hidup orang banyak, sama halnya dengan pasar modal.

“Makanya kita masuk di kelapa sawit, masuk di CPO, masuk di Timah. Itu adalah untuk kepentingan masyarakat. Ya, masyarakat besar. Nah, semua yang masuk ke kepentingan masyarakat itu, masuk dalam monitor kita. Termasuk yang IHSG,” papar Syarief.

Sebagai konteks, pasar modal Indonesia memang sempat terguncang hebat. Pada perdagangan Kamis (29/1) pagi, IHSG terjun bebas hingga 665,89 poin atau 8,00% ke level 7.654,66.

Kepanikan pasar yang ekstrem tersebut bahkan memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan penghentian perdagangan sementara atau trading halt pada sesi pagi. Indeks akhirnya ditutup melemah 1,06% di level 8.232,20 pada hari itu.

Namun, pasar mulai menunjukkan tanda pemulihan pada perdagangan Jumat (30/1). IHSG berhasil rebound dengan kenaikan 97,404 poin atau 1,18%, menutup pekan di level 8.329,606.

Gejolak pasar yang luar biasa ini turut memicu efek domino pada struktur kepemimpinan regulator keuangan. Direktur Utama BEI Iman Rachman memutuskan mundur, disusul oleh langkah serupa dari Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Wakil Ketua OJK Mirza Adityaswara.