periskop.id – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memperingatkan secara keras para mantan pimpinan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terindikasi mempermainkan pengelolaan aset negara agar bersiap menghadapi proses hukum di Kejaksaan jika terbukti melakukan praktik korupsi.

“Pimpinan-pimpinan BUMN yang dulu harus bertanggung jawab. Jangan enak-enak. Siap-siap kau dipanggil kejaksaan,” tegas Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Senin (2/2).

Kepala Negara menegaskan komitmennya terhadap penegakan hukum bukanlah isapan jempol belaka. Pernyataan ini sekaligus menepis anggapan miring yang menyebut pidatonya hanya sekadar retorika panggung atau "omon-omon" tanpa aksi nyata.

Prabowo mengungkapkan langkah konkret pemerintahannya dalam membenahi tata kelola aset melalui pembentukan sovereign wealth fund. Lembaga ini menghimpun seluruh kekuatan ekonomi negara ke dalam satu manajemen terpadu agar lebih efisien dan transparan.

Total aset di bawah pengelolaan manajemen baru ini tercatat sangat fantastis. Angkanya menembus lebih dari US$1 triliun atau setara US$1.040 miliar.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan situasi sebelumnya. Aset-aset vital negara dulunya tercecer di lebih dari seribu entitas perusahaan pelat merah dengan pengawasan yang lemah dan rawan penyimpangan.

Prabowo mempertanyakan efektivitas pengelolaan ribuan perusahaan tersebut di masa lampau. Ia menduga banyaknya jumlah perusahaan justru menjadi celah bagi praktik-praktik tidak terpuji.

“Bayangkan, seribu perusahaan. Siapa yang bisa mengelola seribu perusahaan tanpa akal-akalan?” sindirnya.

Mantan Danjen Kopassus ini juga merespons pihak-pihak yang meragukan nyalinya dalam menindak elite bermasalah. Ia memastikan tidak akan gentar menghadapi tekanan politik maupun kekuatan ekonomi dari para oknum.

“Jangan nantang gue. Saya hanya takut sama rakyat Indonesia dan Tuhan Yang Maha Besar,” ujarnya.

Meski tampil garang, Presiden mengaku tetap memiliki sisi kemanusiaan saat melihat dampak hukum bagi para koruptor. Ia merasa prihatin ketika melihat pejabat negara harus mengenakan borgol dan baju tahanan.

Prabowo memikirkan nasib keluarga, anak, dan istri para pelaku yang harus menanggung malu akibat perbuatan tersebut.

“Saya paling kasihan kalau lihat orang diborgol. Kasihan anak istrinya,” ucapnya.

Namun, rasa kasihan tersebut tidak boleh mengalahkan kepentingan negara yang lebih besar. Prabowo menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh pejabat untuk meninggalkan praktik kotor dan fokus mengabdi kepada masyarakat.

“Lebih baik berbuat kebaikan, lebih baik membela rakyat,” pungkasnya.