Periskop.id - Lanskap industri pariwisata pada 2026 tidak hanya berbicara mengenai peningkatan jumlah kunjungan objek wisata, melainkan juga menyoroti perubahan pola pikir dan metode para pelancong dalam menentukan destinasi impian mereka. 

Gambaran mengenai masa depan pariwisata ini berhasil diungkap oleh aliansi merek hotel independen terbesar di dunia, Global Hotel Alliance (GHA), melalui survei besar yang dirilis pada November 2025. 

Mengandalkan basis data kuat dari program loyalitas global GHA DISCOVERY yang memiliki anggota lebih dari 32 juta pelancong di seluruh dunia, riset ini membedah apa saja faktor penentu dan alat bantu utama yang digunakan para pelancong modern saat ini.

Saat para pelancong dihadapkan pada keputusan untuk memilih negara atau kota tujuan wisata, aspek keselamatan kini berada di garis terdepan. Sebanyak 57% responden sepakat menempatkan faktor keamanan dan kenyamanan sebagai prioritas utama yang tidak dapat ditawar. 

Faktor penentu berikutnya diikuti oleh rasa ingin tahu yang tinggi terhadap kebudayaan lokal dengan persentase sebesar 41%, serta aspek kesehatan (wellness) yang mencatatkan angka sebesar 38%. 

Kendati demikian, karakteristik unik ditunjukkan oleh kelompok pelancong Gen Z, di mana rasa ingin tahu terhadap hal-hal baru tetap keluar sebagai faktor utama yang paling mendominasi setiap keputusan perjalanan mereka.

Kehadiran Pelancong Berbasis Teknologi

Ciri khas lain yang melekat erat pada industri pariwisata tahun 2026 adalah eksistensi para pelancong yang berbasis teknologi cerdas. 

Penggunaan peranti digital bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan telah menjadi instrumen utama dalam merancang rencana perjalanan yang efisien. 

Fenomena ini tercermin dari data di mana 6 dari 10 anggota loyalitas pariwisata mengaku telah aktif memanfaatkan alat berbasis kecerdasan buatan atau AI, seperti robot chat ChatGPT atau Gemini, untuk menyusun rencana perjalanan mereka.

Adopsi teknologi canggih ini menunjukkan persebaran yang sangat bervariasi apabila ditinjau dari latar belakang kelompok usia para penggunanya.

Pemanfaatan kecerdasan buatan untuk merancang agenda wisata mencapai angka tertinggi di kalangan Gen Z, dengan persentase fantastis mencapai 79% dari total responden. Generasi ini terbukti sangat adaptif dan memercayakan penyusunan rute serta rekomendasi wisata kepada algoritma pintar.

Kontras dengan generasi muda, pemanfaatan alat bantu kecerdasan buatan terendah tercatat berada di kalangan generasi Boomers dengan angka hanya sebesar 31%. Kelompok senior ini dinilai masih lebih nyaman menggunakan metode perencanaan konvensional dibandingkan mengandalkan instruksi dari AI.

Melalui data-data tersebut, dapat disimpulkan bahwa kombinasi antara jaminan keamanan di lokasi tujuan serta kecakapan dalam memanfaatkan teknologi digital mutakhir menjadi kunci sukses bagi industri pariwisata global untuk dapat memikat hati para pelancong modern di tahun 2026 ini.