periskop.id - Assalamualaikum, Sobat Halalive!

Jujur-jujuran aja, deh. Kapan terakhir kali kamu merasa benar-benar excited menyambut Ramadan? Maksudnya, excited yang sampai menghitung hari, nyiapin mukena atau baju koko terbaik, dan rasanya nggak sabar buat dengar suara tarhim sahur?

Mungkin memori itu adanya waktu kita SD atau SMP. Waktu agenda utama Ramadan adalah perang sarung, main petasan (jangan ditiru ya!), atau berburu tanda tangan imam tarawih di buku kegiatan amaliah.

Tapi sekarang, kok rasanya beda, ya? Ramadan sudah di depan mata, tinggal hitungan hari, tapi rasanya... flat. Datar. Biasa aja.

Rutinitas kantor jalan terus, deadline numpuk, cicilan tetap harus dibayar, dan pikiran kita malah lebih sibuk mikirin: "Nanti bukber sama geng SMA di mana?" atau "Duh, harga tiket mudik udah naik belum ya?"

Kalau kamu merasakan hal ini, tenang dulu. Jangan langsung nge-judge diri sendiri sebagai "pendosa" atau "ahli neraka". Chill. Perasaan "biasa aja" ini sebenarnya adalah alarm. Tubuh dan jiwamu lagi ngasih kode kalau ada sesuatu yang perlu di-restart.

Yuk, kita ngobrolin ini sambil ngopi (sebelum puasa beneran mulai!).

Kenapa Sih Vibes-nya Ilang?

Sobat Halalive, ada istilah psikologis yang namanya hedonic adaptation. Sederhananya, ketika kita terbiasa dengan sesuatu yang berulang, respons emosional kita bakal menurun. Ramadan datang setahun sekali, dan karena kita sudah melewatinya belasan atau puluhan kali, otak kita bilang: "Oh, ini lagi. Oke, skip sahur, puasa, buka, repeat."

Kita terjebak dalam jebakan rutinitas. Ibadah yang harusnya jadi momen recharge spiritual, berubah jadi to-do list.

Sahur? Cuma biar nggak laper siang-siang.

Puasa? Cuma mindahin jam makan.

Tarawih? Cuma kalau lagi nggak lembur (atau kalau diajak teman).

Akibatnya, esensi Ramadan sebagai bulan "penyucian" lewat begitu saja. Kita sibuk secara fisik, tapi kosong secara batin.

Hati-Hati, Gejala "Futur" Mengintai

Dalam kacamata iman, perasaan "biasa aja" atau malas beribadah padahal momen emas sudah di depan mata, sering disebut sebagai Futur. Ini adalah kondisi di mana iman lagi lowbat, semangat lagi kendor, dan hati mulai mengeras.

Rasulullah SAW sendiri sudah mengingatkan kita bahwa iman itu sifatnya fluktuatif (naik-turun). Beliau bersabda:

إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ

Latin: Innal iimana layakhlaqu fii jawfi ahadikum kamaa yakhlaquts-tsaubul khaliqu, fas-alullaha an yujaddidal iimana fii quluubikum.

Artinya: "Sesungguhnya iman itu bisa pudar di dalam hati salah seorang di antara kalian sebagaimana baju yang bisa usang. Maka, mohonlah kepada Allah agar Dia memperbaharui iman di dalam hati kalian." (HR. Al-Hakim dan At-Thabrani)

Bayangin iman kayak baju kesayangan kamu. Kalau dipakai terus-terusan, kena debu, kena keringat, pasti jadi kucel dan usang. Hati kita juga gitu. Kena debu dosa, kena polusi ghibah, kena distraksi media sosial, lama-lama jadi "kucel" dan nggak peka lagi sama sinyal-sinyal kebaikan.

Ketika Ramadan, tamu agung yang bawa diskon pahala besar-besaran datang, hati yang kucel tadi nggak bisa merespons dengan gembira. Rasanya hambar.

Distraksi Duniawi yang Berisik Banget

Penyebab lain kenapa Ramadan terasa biasa aja adalah karena "kebisingan" di kepala kita. Kita hidup di era di mana notifikasi HP lebih sering dilihat daripada Al-Qur'an.

Sobat Halalive, coba cek screen time kamu. Kalau kita bisa scrolling TikTok atau Instagram berjam-jam, tapi merasa berat baca satu halaman Qur'an, itu tandanya reseptor kebahagiaan kita sudah "rusak" oleh dopamin murah dari media sosial.

Kita jadi sulit menikmati ketenangan (tuma'ninah). Kita nggak betah duduk lama di atas sajadah karena merasa FOMO (Fear Of Missing Out) sama apa yang terjadi di luar sana. Padahal, Ramadan adalah momen untuk JOMO (Joy Of Missing Out) dari urusan dunia dan fokus ke "koneksi" langit.

Allah pernah menegur orang-orang beriman yang hatinya mulai keras karena terlalu lama lalai:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

Latin: Alam ya'ni lillaziina aamanuu an takhsya'a quluubuhum lidzikrillaahi wa maa nazala minal haqq...

Artinya: "Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka)..." (QS. Al-Hadid [57]: 16)

Ayat ini kayak tamparan halus tapi kena banget di hati. "Halo? Udah mau Ramadan nih. Belum saatnya balik, ya?"

Cara Mengembalikan "Spark" Ramadan

Terus, kalau udah terlanjur merasa hambar, gimana dong? Apa pasrah aja menjalani Ramadan mode zombie? Jangan dong, Sobat Halalive. Sayang banget. Ibarat ada buffet makanan mewah gratis, masa kita cuma ambil kerupuknya doang?

Berikut beberapa langkah kecil buat balikin vibes itu:

Akui dan Minta Tolong 

Langkah pertama adalah admission. Ngaku aja sama Allah pas lagi sujud atau doa sendiri. "Ya Allah, jujur hamba lagi males banget. Hati hamba lagi keras. Tolong lembutkan lagi. Tolong kasih rasa rindu sama bulan-Mu." Doa yang jujur itu lebih ngena daripada doa hafalan tapi nggak pakai hati.

Pemanasan Sebelum "Pertandingan" 

Jangan nunggu hari H puasa baru mau buka Qur'an. Kaget nanti. Mulai dari sekarang, coba "pemanasan". Baca Qur'an satu ain (beberapa ayat) aja sehari. Puasa sunnah senin-kamis sekali aja. Ibarat atlet, otot spiritual kita butuh stretching biar nggak kram pas Ramadan masuk.

Kurangi "Sampah" Visual dan Audio

Coba deh, kurangi intake konten yang nggak penting seminggu sebelum Ramadan. Kurangi lagu-lagu galau, ganti sama podcast berfaedah atau murottal. Bersihin following akun gosip. Kasih ruang buat hati kamu bernapas, biar nanti pas Ramadan masuk, sinyalnya lebih jernih.

Cari Circle yang "Satu Frekuensi" 

Iman itu menular. Kalau teman-temanmu cuma ngomongin menu bukber dan baju lebaran, kamu bakal kebawa arus itu. Cari (atau buat) circle yang saling ngingetin target ibadah. Nggak usah kaku, bisa lewat grup WhatsApp yang isinya saling setor bacaan Qur'an atau saling bangunin sahur.

Set Goal yang Realistis (Jangan Muluk-muluk) 

Seringkali kita jadi down karena target ketinggian. "Tahun ini harus khatam 5 kali!" Eh, hari ketiga udah gagal, terus langsung nyerah total. Sobat Halalive, Allah itu suka amalan yang sedikit tapi konsisten (istiqamah). Targetin yang masuk akal buat jadwal kamu yang sibuk. Misal: "Ramadan ini, aku nggak mau ketinggalan shalat Isya berjamaah" atau "Minimal baca 2 lembar Qur'an tiap habis shalat."

Penutup: Mumpung Masih Ada Waktu

Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus. Itu mah level dasar banget. Ramadan adalah momen detoksifikasi jiwa. Momen buat kita bilang ke dunia, "Bentar ya, gue mau 'me time' sama Tuhan gue dulu."

Kalau sekarang rasanya masih biasa aja, paksa sedikit. Kadang, rasa cinta itu datang karena terbiasa. Kadang, vibes itu muncul karena kita yang ciptakan, bukan kita yang tunggu.

Semoga Ramadan tahun ini nggak cuma jadi ritual tahunan yang numpang lewat, tapi bener-bener jadi titik balik buat hati kita yang mulai karatan.

Selamat menyambut bulan suci dengan strategi baru, Sobat Halalive!

Kamu pernah ngerasa gini juga? Atau punya cara ampuh buat balikin semangat pas lagi futur? Ceritain dong di kolom komentar, siapa tahu tips kamu bisa ngebantu teman lain yang lagi "mati rasa".

Sumber Rujukan

  1. Hadits tentang iman bisa usang (HR. Al-Hakim & At-Thabrani): https://hadeethenc.com/id/browse/hadith/65020
  2. Surah Al-Hadid Ayat 16 (Tentang hati yang khusyuk): https://quran.com/id/57:16