Periskop.id - Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) kini menjadi salah satu mitra ekonomi strategis Indonesia di kawasan Timur Tengah.

Hubungan ekonomi kedua pihak disebut terus berkembang dengan peluang kerja sama yang semakin luas.

Menurutnya, hubungan bilateral Indonesia dan negara-negara anggota GCC tidak lagi hanya berfokus pada perdagangan.

Roro menjelaskan, kolaborasi kini juga mencakup investasi, energi, ketahanan pangan, hingga pengembangan sektor industri.

“Selain sebagai tujuan ekspor yang penting, GCC kini telah bertransformasi menjadi sumber investasi, kerja sama energi, kolaborasi ketahanan pangan, dan pengembangan industri yang kian signifikan. Kami meyakini, masih terdapat banyak peluang besar untuk memperdalam hubungan ekonomi yang saling menguntungkan ini,” ujar Wamendag Roro saat bertemu GCC General Coordinator Raja Almarzoqi di Jakarta, Rabu (29/7).

Ia menjelaskan struktur ekonomi Indonesia dan GCC saling melengkapi. Indonesia memiliki daya saing pada sektor manufaktur dan industri berbasis pertanian, sedangkan negara-negara GCC unggul di bidang energi, logistik, pembiayaan infrastruktur, serta investasi negara.

Menurut Wamendag Roro, Indonesia juga melihat peluang besar untuk memperluas ragam komoditas ekspor ke negara-negara anggota GCC.

Sejumlah produk yang dinilai berpotensi antara lain minyak kelapa sawit beserta turunannya, komponen otomotif, makanan dan minuman olahan, produk perikanan, produk halal, tekstil, furnitur, kertas, produk berbahan karet, farmasi, hingga peralatan listrik.

Di sisi lain, ia menyampaikan Indonesia terbuka terhadap impor komoditas dari GCC, khususnya minyak mentah, gas alam cair, pupuk, aluminium, plastik, dan berbagai bahan baku industri. Komoditas tersebut dinilai dapat mendukung kebutuhan sektor manufaktur nasional.

“Untuk itu, hadirnya Indonesia–GCC Free Trade Agreement tidak hanya akan memfasilitasi arus perdagangan yang lebih besar, tetapi juga mendorong kemitraan investasi yang lebih kuat, kerja sama industri, alih teknologi, serta rantai pasok regional yang lebih tangguh,” imbuhnya.

Roro mengungkapkan sekitar 86,7% naskah Indonesia-GCC Free Trade Agreement (I-GCC FTA) telah diselesaikan.

Menurutnya, capaian itu mencerminkan komitmen dan semangat konstruktif dari kedua tim perunding.

“Melalui momentum positif ini, kami sangat berharap kedua belah pihak akan terus bersinergi dengan baik agar dapat mencapai tujuan bersama untuk merampungkan perundingan dalam jangka waktu yang telah disepakati,” ungkapnya.

Di akhir pernyataannya, Roro menegaskan Indonesia tetap membuka peluang bagi investasi berkualitas yang mendukung pengembangan industri, hilirisasi, alih teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

“Kami percaya, melalui dialog dan rasa saling pengertian, kita akan mampu meraih kepercayaan investor, sekaligus penyelesaian IGCC FTA secara tepat waktu,” pungkas Wamendag Roro.

Sementara itu, GCC General Coordinator Raja Almarzoqi menilai Indonesia memegang peran penting dalam transformasi ekonomi kawasan.

Menurutnya, negara-negara GCC memandang Indonesia sebagai mitra strategis untuk memperkuat perdagangan dan investasi.

“GCC memandang Indonesia sebagai mitra strategis bagi transformasi ekonomi negara-negara Arab Saudi, Persatuan Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Qatar. Lebih luas, IGCC FTA akan meningkatkan perdagangan dan investasi di kedua belah pihak secara signifikan,” urai Raja.

Sebagai konteks, I-GCC FTA diharapkan menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia.

Perjanjian tersebut diproyeksikan mampu mendorong pertumbuhan ekspor hingga 17,4%, terutama pada sektor peralatan elektronik, kulit, produk logam, manufaktur, dan tekstil, sekaligus memperluas ekspor jasa perhubungan udara serta jasa bisnis ke Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.