Periskop.id - Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah menyebut penggunaan skema belanja sekarang bayar nanti atau buy now pay later (BNPL) di kalangan masyarakat Indonesia masih dalam batas wajar. Menurutnya, mekanisme itu tak jauh berbeda dari fasilitas cicilan kartu kredit yang selama ini menopang penjualan ritel nasional.

Budihardjo menyampaikan pandangan itu untuk menanggapi temuan Mandiri Spending Index yang mencatat masyarakat semakin banyak berbelanja dengan dana pinjaman, termasuk paylater. Ia menjelaskan, Hippindo selama ini juga menjalin kerja sama dengan penerbit kartu kredit demi menggenjot penjualan lewat promo bunga 0%.

"Nah, di Hippindo ini kan ada kartu kredit. Kalau lagi ada promo 0%, ya itu ramai penjualan kami. Jadi konsumen beli barang elektronik tuh jarang yang mau cash langsung. Jadi sebenarnya paylater tuh mirip itulah," kata Budihardjo saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (6/8).

Budihardjo menambahkan, pihaknya bakal ikut mempromosikan produk pembiayaan baru selama menawarkan skema bunga 0%. Baginya, penggunaan paylater masih tergolong normal selama tidak disalahgunakan seperti judi online.

"Kalau memang ada produk baru, bahkan kalau ada satu produk yang bisa di-0%-kan, kita akan promosiin juga. Yang nggak normal tuh kalau judol. Kalau paylater mah normal itu ya," sambungnya.

Pandangan senada disampaikan Sekretaris Jenderal Hippindo Haryanto Pratantara. Ia menilai skema cicilan, termasuk paylater, justru mendorong konsumsi masyarakat karena memberi fleksibilitas dalam berbelanja.

"Malah itu membantu meningkatkan konsumsi kan, karena orang bisa belanja dengan cicilan, atau dengan skala yang lebih kecil ketimbang langsung bayar di muka," kata Haryanto.

Meski begitu, Budihardjo mengaku belum mencermati kondisi tabungan masyarakat yang belakangan disebut menurun. Ia berharap pemerintah segera menggulirkan stimulus untuk mengerek daya beli.

"Nah, itu saya belum cek ya kalau tabungan. Memang saat ini kita harapkan stimulus segera diturunkan agar daya beli naik, ya itu kita harapkan segera," ucap Budihardjo.

Laporan Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri mencatat Mandiri Spending Index pada Juni 2026, yang mencakup pinjaman online (P2P lending), kartu kredit, dan paylater dari perusahaan pembiayaan nonbank, mencapai 157,7. Angka itu tumbuh 24,6% secara tahunan.

"Hal ini menunjukkan belanja masih tumbuh positif meskipun tingkat tabungan melemah. Bersamaan dengan itu penggunaan pembiayaan meningkat," tulis laporan tersebut.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) mencatat total outstanding pinjaman online, kartu kredit, dan paylater nonbank mencapai Rp160,7 triliun pada Mei 2026. Pinjaman online mendominasi dengan Rp103,7 triliun (65%), disusul kartu kredit Rp43,8 triliun (27%), dan paylater Rp13,2 triliun (8%).

Meski porsinya paling kecil, paylater tercatat sebagai jenis pembiayaan dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 53,6% yoy. Pinjaman online tumbuh 25,7% yoy, sementara kartu kredit naik 15,6% yoy.

Porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif juga naik menjadi 86% pada April 2026, dari 78% pada April 2025 dan 68% pada April 2024. Sebaliknya, porsi pinjaman untuk kegiatan produktif turun menjadi hanya 14%. Di sisi lain, Mandiri Saving Index pada Juni 2026 berada di level 84,8 atau terkontraksi 5,7% yoy.

"Pergeseran ini menunjukkan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, sementara permintaan pembiayaan untuk aktivitas usaha menjadi lebih terbatas," tulis laporan tersebut.