Periskop.id - Kurs rupiah di pasar spot menguat tipis 0,01% ke level Rp18.082 per dolar Amerika Serikat pada Rabu (29/7) siang, tepatnya pukul 12.10 WIB. Penguatan ini terjadi setelah mata uang Garuda sempat melemah di awal perdagangan.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai peluang rupiah kembali tertekan masih cukup besar. Ia menyoroti lonjakan harga komoditas energi, terutama minyak mentah dunia, yang naik menyusul kabar serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah.

"Outflow asing di pasar ekuitas juga semakin membebani rupiah," ujar Lukman Leong, Rabu (29/7).

Selain faktor eksternal, rupiah juga masih dibayangi sentimen negatif dari dalam negeri. Mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo beberapa hari sebelumnya disebut turut memengaruhi kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan moneter Indonesia.

Lukman menyebutkan, sentimen domestik sebenarnya cukup baik dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi itu berubah setelah muncul gejolak di internal BI akibat pengunduran diri sang gubernur.

Dalam jangka pendek, menurutnya, sentimen tersebut masih akan menjadi pengganjal laju pergerakan rupiah. Tekanan berpotensi bertambah jika konflik geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dan mendorong harga minyak dunia naik lebih tinggi.

Kombinasi faktor eksternal dan domestik ini membuat pergerakan rupiah rentan berbalik arah dalam waktu dekat. Pasar disebut masih mencermati perkembangan di Timur Tengah sekaligus arah kebijakan BI pascapergantian kepemimpinan.

Berkaca pada kondisi pasar terkini, Lukman memproyeksikan kurs rupiah idealnya berada di kisaran Rp17.700 hingga Rp18.300 per dolar AS hingga akhir 2026. Rentang tersebut mencerminkan keseimbangan antara tekanan eksternal dan potensi pemulihan sentimen domestik.

Proyeksi itu juga menunjukkan bahwa meski rupiah berpeluang melemah dalam jangka pendek, ruang penguatan masih terbuka jika sentimen pasar membaik. Faktor kunci yang perlu diperhatikan yakni kejelasan arah kebijakan moneter pasca-pergantian gubernur BI.

Sepanjang perdagangan siang itu, rupiah bergerak dinamis, sempat melemah sebelum akhirnya berbalik menguat tipis ke level Rp18.082. Pergerakan ini mencerminkan tarik-menarik antara sentimen negatif global dan upaya pasar mencari titik keseimbangan baru.