Periskop.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan potensi gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter di sejumlah perairan Indonesia pada 4–7 Agustus 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi Bibit Siklon Tropis 94W dan 95W yang berkembang di sekitar Laut Filipina.

Dalam peringatan yang berlaku mulai Selasa (4/8) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (7/8) pukul 07.00 WIB, BMKG mencatat 36 wilayah perairan berada dalam kategori gelombang tinggi. Sebanyak 169 perairan lainnya berpotensi mengalami gelombang sedang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter.

Pelaksana Tugas Direktur Meteorologi Maritim BMKG Agie Wandala Putra mengatakan kedua sistem berada di sisi timur dan barat Filipina.

"Bibit Siklon Tropis 94W berada di Laut Filipina timur Filipina, sementara Bibit Siklon Tropis 9SW terpantau di Laut Filipina barat Filipina," kata dia.

Dalam naskah awal, kode sistem kedua tertulis 9SW. Namun, buletin resmi BMKG mencatatnya sebagai Bibit Siklon Tropis 95W, sehingga penulisan berikutnya menggunakan kode tersebut. BMKG menempatkan 94W di sekitar 17,4 derajat Lintang Utara dan 122,8 derajat Bujur Timur, sedangkan 95W berada di sekitar 16,6 derajat Lintang Utara dan 120,2 derajat Bujur Timur.

Angin di Perairan Selatan Tembus 38 Knot

Keberadaan dua bibit siklon tersebut memengaruhi pola dan kecepatan angin di perairan Indonesia meskipun pusat sistem berada di luar wilayah Indonesia.

Di wilayah utara, angin umumnya bergerak dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 10–27 knot. Sementara di wilayah selatan, angin bertiup dari timur hingga tenggara dengan kecepatan mencapai 38 knot.

Kecepatan angin tertinggi terpantau di Selat Malaka bagian utara, Samudra Hindia barat Aceh hingga Kepulauan Mentawai, Selat Makassar bagian tengah dan selatan, Laut Banda, Laut Seram, serta Laut Arafuru.

Angin yang bertiup kuat dan konsisten di atas permukaan laut dapat meningkatkan pembentukan gelombang. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar pusat bibit siklon, tetapi juga menjalar ke perairan yang berada jauh di sebelah selatan.

Gelombang Tinggi Membentang dari Aceh hingga NTB

Gelombang setinggi 2,5–4 meter diperkirakan terjadi di Selat Malaka bagian utara serta Samudra Hindia barat Aceh, Kepulauan Nias, Kepulauan Mentawai, Bengkulu, dan Lampung.

Ancaman serupa membentang di Samudra Hindia selatan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, hingga Nusa Tenggara Barat.

Dalam peringatan regional, BMKG juga memetakan gelombang tinggi di sejumlah perairan Nusa Tenggara Timur, seperti Selat Sumba bagian barat dan perairan selatan Sumba. Angin di wilayah NTT diperkirakan mencapai 35 knot.

Di Maluku, gelombang dengan kategori yang sama berpotensi terjadi di perairan Kepulauan Kai, Kepulauan Tanimbar, serta Laut Arafuru bagian barat dan tengah. Kecepatan angin maksimum di beberapa wilayah tersebut diperkirakan mencapai sedikitnya 25 knot.

Sementara gelombang sedang setinggi 1,25–2,5 meter berpeluang muncul di Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Flores, Teluk Bone, Laut Banda, Laut Maluku, Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua, serta Laut Arafuru.

Kapal Feri dan Perahu Nelayan Perlu Waspada

Gelombang tinggi dapat meningkatkan risiko bagi perahu nelayan, kapal tongkang, kapal feri, hingga kapal kargo. Kapal berukuran kecil menjadi lebih rentan ketika menghadapi kombinasi gelombang, angin kencang, dan perubahan cuaca mendadak.

BMKG menetapkan kewaspadaan bagi perahu nelayan ketika kecepatan angin melebihi 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter. Kapal tongkang menghadapi peningkatan risiko pada angin lebih dari 16 knot dan gelombang di atas 1,5 meter.

Untuk kapal feri, risiko keselamatan meningkat ketika angin melampaui 21 knot dan gelombang lebih tinggi dari 2,5 meter. Kondisi yang diperkirakan terjadi pada 4–7 Agustus telah melampaui sejumlah ambang tersebut.

"Potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah tersebut dapat berisiko terhadap keselamatan pelayaran," kata Agie dalam peringatan gelombang tinggi sebelumnya.

Nelayan dan operator kapal diminta memeriksa informasi cuaca, kecepatan angin, serta tinggi gelombang sebelum berlayar. Pelayaran sebaiknya tidak dipaksakan apabila kondisi laut melampaui kemampuan dan batas keselamatan kapal.

Musim Kemarau Tak Menghilangkan Risiko Cuaca Buruk

Peringatan gelombang tinggi muncul ketika sebagian besar wilayah Indonesia sedang mengalami musim kemarau. BMKG memperkirakan 92,59 persen wilayah Indonesia menerima curah hujan kategori rendah pada dasarian pertama Agustus 2026.

Namun, kondisi kering tidak berarti seluruh wilayah bebas dari hujan dan angin kencang. Pada 4–7 Agustus, hujan intensitas sedang masih berpotensi terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.

Angin kencang juga perlu diwaspadai di sejumlah wilayah Sumatera, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, serta Papua.

Masyarakat pesisir diminta menghindari aktivitas terlalu dekat dengan garis pantai ketika gelombang meningkat. Pembaruan kondisi dua bibit siklon dan peringatan pelayaran perlu terus dipantau karena posisi, kekuatan angin, dan wilayah terdampak dapat berubah dalam waktu singkat.

Perkembangan dua bibit siklon ini bisa dipantau dan dikabarkan kembali apabila status atau wilayah terdampaknya berubah.