Periskop.id – Sebanyak 150 personel gabungan dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang terus meluas. Petugas disebar ke sejumlah sektor untuk melokalisasi titik api dan mencegah kebakaran merambat lebih jauh.

Tim gabungan terdiri atas personel Polres Probolinggo, Balai Besar TNBTS, Koramil Sekarpuro, BPBD Kabupaten Probolinggo, serta relawan dan masyarakat sekitar. Kapolres Probolinggo AKBP Asmida Rizki Siregar mengatakan pembagian personel ke beberapa sektor diperlukan agar pergerakan api dapat dikendalikan lebih cepat.

“Personel kami tempatkan di beberapa sektor agar penyebaran api dapat dikendalikan secepat mungkin sekaligus melokalisir titik api agar tidak merambat ke kawasan yang lebih luas,” kata Asmida di Gunung Bromo, Rabu (5/8). 

Berdasarkan pembaruan Polda Jawa Timur, kebakaran telah menghanguskan sekitar 86 hektare vegetasi kering yang tersebar di kawasan kaldera, lereng, hingga kaki Gunung Bromo. Luasan itu masih dapat berubah karena proses pemadaman dan pemetaan lapangan terus dilakukan.

Pemadaman Dilakukan Secara Manual

Asmida mengatakan keselamatan petugas tetap menjadi prioritas karena lokasi kebakaran memiliki medan terjal dan sebagian areanya sulit dijangkau kendaraan pemadam.

“Sedikitnya 150 personel gabungan terdiri dari anggota Polres Probolinggo, Balai Besar TNBTS, Koramil Sekarpuro, BPBD Probolinggo serta relawan diterjunkan untuk melakukan pemadaman sekaligus mencegah api semakin meluas,” tuturnya.

Petugas melakukan pemadaman menggunakan alat pemukul api serta membuat sekat bakar untuk memutus jalur rambatan. Metode tersebut dipilih karena kendaraan dan peralatan berat tidak dapat mencapai seluruh lokasi terdampak. “Upaya pemadaman dilakukan secara manual dengan menggunakan alat pemukul api dan pembuatan sekat bakar,” cetusnya. 

Wakapolres Probolinggo Kompol Yanuar Rizal Ardhianto menjelaskan angin kencang dan vegetasi kering menjadi hambatan utama. Rumput serta semak belukar yang mengering selama musim kemarau membuat api mudah berpindah ke titik lain, terutama di area lereng dan kaldera.

Laporan BPBD Probolinggo sebelumnya menyebut sebagian alat pemukul api mengalami kerusakan akibat digunakan secara intensif. Petugas kemudian memanfaatkan ranting pohon dan alat semprot punggung untuk menangani titik yang tidak terjangkau kendaraan tangki.

Api Meluas dari Lumajang ke Probolinggo dan Malang

Kebakaran pertama kali terpantau di Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, pada Senin, 3 Agustus 2026, sekitar pukul 17.00 WIB.

Api kemudian merambat menuju Watu Gede di wilayah Kabupaten Probolinggo dan terus bergerak ke kawasan hutan Bromo yang mengarah ke Kabupaten Malang. Polda Jawa Timur menyatakan pergerakan api telah melintasi tiga wilayah kabupaten di sekitar kawasan Bromo.

Sehari sebelumnya, BPBD Probolinggo memperkirakan luas kebakaran mencapai 7,9 hektare. Perbedaan angka tersebut menunjukkan perkembangan kebakaran yang berlangsung cepat sekaligus pembaruan hasil pemetaan dari berbagai sektor penanganan.

Petugas masih berupaya memastikan seluruh bara benar-benar padam. Angin kencang dapat kembali menyalakan sisa bara dan menggerakkan api menuju vegetasi kering di sekitarnya.

BNPB Siapkan Dua Helikopter

Selain mengandalkan operasi darat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyiapkan dua helikopter pengebom air untuk mempercepat pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau.

“Sementara kami akan mendukung dengan dua unit ya,” kata Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto.

BNPB menargetkan operasi pemadaman udara dapat dimulai paling lambat Kamis, 6 Agustus 2026. Jenis helikopter yang digunakan akan disesuaikan dengan ketersediaan armada, termasuk kemungkinan menggunakan tipe Mi atau Sikorsky.

Pengerahan helikopter dilakukan bersamaan dengan asesmen lapangan untuk menentukan apakah dua unit sudah mencukupi. BNPB juga telah berkoordinasi dengan BMKG mengenai kemungkinan operasi modifikasi cuaca, tetapi belum terdapat pertumbuhan awan hujan yang mendukung pelaksanaannya.

Sebagian Akses Wisata Masih Ditutup

Balai Besar TNBTS menutup sementara pintu wisata melalui Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta Senduro di Kabupaten Lumajang. Penutupan diberlakukan sejak Senin malam hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Wisatawan masih dapat memasuki kawasan Gunung Bromo melalui Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan. Namun, pengunjung hanya diperbolehkan mengakses kawasan Lautan Pasir dan tidak boleh menuju savana karena berdekatan dengan area kebakaran.

Yanuar meminta masyarakat dan wisatawan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, termasuk membuang puntung rokok atau menyalakan api di area vegetasi kering.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kawasan Bromo dengan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. Jika menemukan titik api, segera laporkan kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat,” ujarnya.

Operasi gabungan akan terus dilakukan hingga titik api dan bara dinyatakan padam. Setelah itu, pemetaan lanjutan diperlukan untuk memastikan luas kerusakan serta menentukan langkah pemulihan ekosistem kawasan TNBTS.