Periskop.id - Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) mulai bergerak dari sekadar eksperimen menjadi alat kerja bagi penjual online di Indonesia. Lazada Indonesia mencatat 90% seller yang disurvei menilai AI penting untuk meningkatkan produktivitas, termasuk dalam membuat tampilan produk lebih menarik dan mempercepat pengelolaan toko.

Tren tersebut mendorong Lazada memperluas penggunaan AI untuk proses pembuatan dan optimalisasi listing produk. Teknologi itu dapat membantu seller menyusun judul dan deskripsi, memilih kata kunci hingga memperbaiki visual produk yang menjadi salah satu titik awal konsumen sebelum memutuskan berbelanja.

Temuan tersebut merujuk riset Bridging the AI Gap: Online Seller Perceptions and Adoption Trends in Southeast Asiayang dikembangkan Lazada bersama Kantar. Survei dilakukan pada Februari 2025 terhadap 1.214 seller e-commerce di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, termasuk 208 responden dari Indonesia.

Head of Business Growth and Operations Lazada Indonesia Amelia Tediarjo mengatakan, kualitas listing tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan mengunggah produk ke marketplace.

Listing produk bukan sekadar menampilkan barang yang dijual, tetapi menjadi kesempatan bagi seller untuk menyampaikan nilai dan keunggulan produknya. AI membantu seller menyusun informasi produk yang lebih lengkap dan menarik, mulai dari judul, deskripsi, gambar, hingga kata kunci, sehingga konsumen dapat memahami produk dengan lebih cepat dan membeli dengan lebih yakin," tuturnya. 

Setengah Seller Indonesia Masuk Kelompok AI Aspirants

Riset Lazada-Kantar menunjukkan tingkat penggunaan AI di kalangan seller Indonesia tergolong tinggi dibandingkan sejumlah pasar Asia Tenggara. Sebanyak 29% seller Indonesia masuk kelompok AI Adepts, yaitu penjual dengan tingkat integrasi AI paling tinggi. Sebanyak 50% masuk kategori AI Aspirants dan 21% lainnya tergolong AI Agnostics.

Kelompok AI Aspirants menjadi yang terbesar. Mereka telah menggunakan AI pada sebagian aktivitas bisnis, tetapi penerapannya belum merata di seluruh operasional. Lazada mencatat kelompok ini rata-rata menggunakan sekitar tiga proses berbasis AI dalam setiap fungsi bisnis, sementara AI Adepts menggunakan sekitar lima proses.

Listing pintar menjadi salah satu teknologi yang sudah digunakan seller. Dalam survei regional, sekitar 25% responden memanfaatkan AI smart listing, sementara penggunaan chatbot AI mencapai 51%, analisis data berbasis AI 28%, asisten seller AI 26%, dan AI generatif 26%.

Pada kelompok AI Aspirants, pemanfaatan AI smart listing dan solusi pemasaran berbasis AI termasuk aplikasi yang relatif umum. Kelompok ini juga melihat teknologi tersebut sebagai cara untuk menangani pekerjaan kompleks dan meningkatkan produktivitas, meski biaya, kebutuhan pelatihan hingga kekhawatiran kebocoran data masih menjadi hambatan.

Foto hingga Deskripsi Produk Bisa Dioptimalkan AI

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Lazada menyediakan AI Smart Listing yang membantu seller membuat listing berdasarkan gambar atau kata kunci serta mengisi sejumlah atribut produk secara otomatis.

Ada pula AI Smart Product Optimisation yang menggunakan AI generatif untuk mengidentifikasi bagian listing yang masih dapat diperbaiki, mulai dari judul, deskripsi hingga foto. Fitur tersebut antara lain mendukung perubahan latar belakang, penyesuaian model dan pembuatan visual produk secara lebih cepat.

“Melalui AI, seller dapat memperbaiki listing dalam hitungan menit. Hal ini membantu seller menampilkan produk secara lebih efektif dan menciptakan pengalaman belanja yang lebih baik bagi konsumen,” lanjut Amelia.

Menurut Lazada, penggunaan AI pada visual produk dapat menjadi salah satu cara untuk membuat foto lebih bersih dan profesional, terutama bagi seller kategori fesyen, aksesori maupun perlengkapan rumah tangga.

AI juga dapat digunakan untuk memperbarui judul, deskripsi dan kata kunci berdasarkan perkembangan tren pencarian. Bagi seller yang mengelola banyak produk sekaligus, otomatisasi pekerjaan repetitif tersebut dapat mengurangi waktu operasional sehingga tenaga dapat dialihkan ke pengembangan produk, pelayanan pelanggan maupun strategi pemasaran.

Lazada sebelumnya juga memperkenalkan sejumlah teknologi AI lain untuk seller. Salah satunya Lazzie Seller, asisten AI di Seller Centre yang dapat menjawab pertanyaan, membantu navigasi fitur, memberikan penilaian risiko toko serta menyajikan saran bisnis. Platform tersebut juga memiliki penerjemahan otomatis berbasis AI untuk membantu konten produk digunakan dalam berbagai bahasa lokal.

AI Makin Jadi Medan Persaingan E-Commerce

Dorongan penggunaan AI oleh marketplace berlangsung ketika industri e-commerce Indonesia terus membesar. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek dan Bain & Company memperkirakan nilai GMV e-commerce Indonesia mencapai US$71 miliar pada 2025, tumbuh lebih dari 14% dibandingkan tahun sebelumnya.

Video commerce bahkan menjadi salah satu pendorong utama. Volume transaksi sektor tersebut melonjak sekitar 90% secara tahunan menjadi 2,6 miliar transaksi pada 2025, sedangkan jumlah seller dan toko daring yang terlibat meningkat 75% menjadi sekitar 800 ribu.

Reuters, mengutip laporan Google, Temasek dan Bain, menyebut GMV e-commerce Indonesia berpotensi meningkat dari US$71 miliar pada 2025 menjadi sekitar US$140 miliar pada 2030. Besarnya pasar membuat efisiensi pengelolaan toko, visibilitas produk dan kemampuan mengikuti perubahan perilaku konsumen semakin menentukan persaingan seller.

AI juga mulai menjadi arena persaingan antar marketplace. Pada Februari 2026, Google dan Sea Ltd mengumumkan kerja sama untuk mengembangkan teknologi AI bagi Shopee, termasuk menjajaki prototipe belanja berbasis AI agent yang dapat menjalankan tugas lebih kompleks daripada sekadar menjawab pertanyaan pengguna.

Lazada sendiri telah membangun fitur berbasis AI sejak beberapa tahun terakhir. Riset Lazada-Kantar menunjukkan, di tingkat Asia Tenggara, rata-rata seller telah menggunakan sekitar empat jenis alat AI dalam menjalankan bisnisnya. Namun, tiga dari empat seller di kawasan masih membutuhkan dukungan tambahan untuk memperluas implementasi teknologi tersebut.

Lazada Tetap Tekankan Peran Manusia

Meski mendorong otomatisasi, Lazada menilai penggunaan AI tidak menggantikan sepenuhnya peran seller. Kemampuan memahami produk, karakter konsumen, branding hingga pengambilan keputusan bisnis tetap membutuhkan campur tangan manusia.

Karena itu, perusahaan juga menyiapkan pembelajaran melalui Lazada University. Materinya mencakup penggunaan AI Smart Listing, Business Advisor, analisis trafik, pelacakan performa hingga pemahaman perilaku pelanggan.

Lazada Indonesia juga menjadwalkan Lazada Seller Creator Camp pada 13 Agustus 2026 di Jakarta. Program tersebut diarahkan untuk memberikan pelatihan mengenai pemasaran, branding dan fotografi produk bagi seller. Informasi penyelenggaraan acara juga telah dipublikasikan melalui kanal Lazada Seller.

“Kami berkomitmen untuk membantu seller membangun bisnis yang berkelanjutan. Namun, faktor manusia tetap penting. Karena itu, kami terus menghadirkan pelatihan agar seller dapat memanfaatkan AI dan berbagai tools lainnya secara efektif untuk mengakselerasi pertumbuhan bisnis mereka,” tutup Amelia.

Besarnya minat seller terhadap AI memperlihatkan perubahan pola pengelolaan toko online. Tantangannya kini tidak lagi sebatas apakah seller akan menggunakan AI, tetapi seberapa efektif teknologi tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas produk yang ditampilkan, menghemat waktu operasional dan pada akhirnya mendorong konversi penjualan di tengah kompetisi e-commerce Indonesia yang semakin ketat.