periskop.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memastikan kesiapan industri pengolahan susu nasional dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Upaya dilakukan melalui peningkatan kapasitas produksi, penguatan pasokan bahan baku, serta penerapan teknologi industri 4.0 guna menjamin ketersediaan pangan bergizi secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut tercermin dari langkah investasi PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ)  yang menggelontorkan dana sebesar Rp1,14 triliun untuk memperkuat pasokan susu UHT bagi program MBG.

"Investasi ini menjadi bagian dari strategi penguatan industri pengolahan susu nasional agar mampu memenuhi kebutuhan program prioritas pemerintah," ucap Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis dikutip Senin (26/1).

Ia menegaskan industri pengolahan susu memegang peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan bergizi, khususnya dalam mendukung keberhasilan program MBG yang menyasar peningkatan kualitas gizi masyarakat.

"Industri pengolahan susu nasional harus mampu menjawab kebutuhan program MBG, baik dari sisi kapasitas produksi, kualitas produk, maupun keberlanjutan pasokan bahan baku. Pemerintah terus memacu industri untuk berinvestasi dan memperkuat kemitraan dengan peternak dalam negeri,” sambung Agus.

Sejalan dengan itu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan pabrik Ultrajaya tersebut telah mengadopsi teknologi industri 4.0 guna meningkatkan efisiensi dan daya saing. Menurutnya, penerapan teknologi digital dan otomasi menjadi kunci dalam menjaga produktivitas serta kualitas produk secara konsisten.

“Penerapan teknologi industri 4.0 terbukti mampu meningkatkan efisiensi proses, menghemat energi, mendorong produktivitas, serta menjaga standar kualitas produk,” ujar Putu.

Adapun, sebagai wujud kesiapan tersebut, PT Ultrajaya telah mengoperasikan pabrik barunya yang berlokasi di Kawasan Industri MM 2100, Cibitung, Kabupaten Bekasi, sejak 8 Desember 2025.

Pabrik ini dilengkapi dengan tiga lini produksi susu UHT berkemasan 125 ml dan 200 ml yang secara khusus dirancang untuk mendukung kebutuhan program MBG. Ke depan, perusahaan juga merencanakan penambahan lini produksi baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada Maret 2026.

Selain itu, teknologi yang diterapkan di antaranya Automated Guided Vehicle (AGV), autopilot forklift, Manufacturing Execution System (MES), serta sistem manajemen gudang berbasis Automated Storage and Retrieval System (ASRS).

Pabrik ini juga dilengkapi dengan fasilitas pengolahan limbah cair melalui Waste Water Treatment Plant (WWTP) berbasis ultrafiltration, yang memungkinkan sebagian besar limbah cair untuk didaur ulang dan dimanfaatkan kembali dalam proses produksi.

Dari sisi hulu, PT Ultrajaya juga memperkuat pasokan bahan baku dengan mengelola dua peternakan sapi perah yang berlokasi di Bandung dan Sumatera Utara. Saat ini, total populasi sapi perah yang dikelola mencapai sekitar 7.000 ekor, dan perusahaan berencana menambah investasi untuk 4.000 ekor sapi perah guna meningkatkan ketersediaan susu segar dalam negeri.

"Ke depan, Kemenperin akan terus mendorong PT Ultrajaya untuk meningkatkan pemanfaatan susu segar domestik demi memenuhi target program MBG. Selain itu, perusahaan juga diharapkan dapat mengikuti seleksi National Lighthouse Industry 4.0 sebagai percontohan industri pengolahan susu nasional yang berbasis teknologi maju dan otomasi," pungkas Agus.