Periskop.id - Perekonomian Iran saat ini berada dalam fase yang sangat mengkhawatirkan. Mata uang nasional mereka, Rial, baru saja mengalami kejatuhan bebas hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah di angka 1,4 juta rial per dolar AS di pasar terbuka.
Penurunan tajam ini bukan sekadar angka di atas kertas statistik keuangan, melainkan sebuah titik balik krusial yang menandai kehancuran daya beli dan kepercayaan publik terhadap sistem keuangan domestik.
Melansir dari Gulf News pada Selasa (13/1), pelemahan terbaru ini merupakan kelanjutan dari tren depresiasi yang sangat tajam selama satu tahun terakhir.
Para pemantau pasar memperkirakan bahwa rial telah kehilangan sekitar 45% nilainya sepanjang tahun 2025 saja. Kondisi ini memperpanjang kejatuhan jangka panjang yang terus menggerus tabungan masyarakat dan stabilitas moneter negara tersebut.
Inflasi Kronis dan Erosi Daya Beli
Inflasi menjadi pendorong utama di balik terpuruknya nilai tukar rial. Berdasarkan data resmi pada Desember lalu, inflasi tahunan di Iran telah mencapai 42,2%. Angka ini menempatkan Iran sebagai salah satu negara dengan tingkat inflasi tertinggi di dunia.
Kenaikan harga melanda hampir seluruh sektor vital, mulai dari pangan, perumahan, hingga barang barang impor, yang memberikan tekanan hebat bagi rumah tangga dan dunia usaha.
Jika menilik sejarah, pada saat Revolusi Iran tahun 1979, nilai tukar dolar AS masih berada di kisaran 70 rial. Namun, lebih dari empat dekade kemudian, nilai tersebut telah merosot sekitar 20.000 kali lipat.
Laju penurunan ini memang tidak berlangsung secara linier, namun setiap lonjakan inflasi selalu diikuti oleh aksi jual rial secara besar besaran oleh masyarakat.
Fenomena yang terjadi saat ini adalah masyarakat dan perusahaan cenderung memindahkan tabungan mereka ke dalam bentuk dolar, emas, atau properti untuk melindungi nilai aset mereka.
Permintaan tinggi terhadap valuta asing ini pada akhirnya menyedot likuiditas dari rial, yang mendorong nilai tukar semakin melemah dan berujung pada kenaikan biaya impor yang lebih tinggi lagi.
Sebagai negara yang masih mengandalkan impor dalam jumlah besar untuk komoditas gandum, minyak goreng, pakan ternak, dan bahan baku farmasi, pelemahan rial terasa sangat menyakitkan.
Secara mekanis, perbedaan inflasi yang tajam antara Iran dengan negara mitra dagangnya membuat rial terus melemah.
Dibutuhkan lebih banyak rial untuk membeli barang asing yang sama, sehingga depresiasi ini akhirnya tertanam secara permanen dalam transaksi sehari hari masyarakat.
Sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor terpaksa menaikkan harga jual demi menjaga margin keuntungan, yang pada gilirannya kembali memicu inflasi.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi yang Rapuh
Dukungan untuk penguatan mata uang dari sisi pertumbuhan ekonomi juga terlihat sangat minim. Bank Dunia memproyeksikan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Iran akan menyusut sebesar 1,7% pada tahun 2025 dan diprediksi turun kembali hingga 2,8 persen pada tahun 2026.
Hal ini disebabkan oleh keterbatasan perdagangan, lemahnya investasi, serta tekanan berat pada keuangan publik.
Meskipun ekspor minyak masih menjadi sumber utama devisa, pendapatan negara sangat berfluktuasi.
Harga minyak Brent yang rata rata berada di kisaran US$60 dolar per barel pada tahun lalu masih jauh di bawah tingkat yang dibutuhkan pemerintah Iran untuk menyeimbangkan anggaran mereka.
Akibatnya, kemampuan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing atau meningkatkan impor guna meredakan kelangkaan domestik menjadi sangat terbatas.
Di luar faktor pasar, para analis menyoroti persoalan struktural yang mendalam. Dominasi industri oleh negara, infrastruktur yang mulai menua, krisis air kronis, serta terbatasnya investasi asing telah menekan produktivitas nasional.
Sektor non migas pun kesulitan untuk menghasilkan devisa yang dibutuhkan guna mendiversifikasi sumber pendapatan negara.
Selain itu, sistem nilai tukar bertingkat yang diterapkan Iran turut menambah kompleksitas. Pemerintah menyediakan kurs bersubsidi untuk impor kebutuhan pokok tertentu yang berjalan berdampingan dengan kurs pasar terbuka.
Meski tujuannya untuk melindungi konsumen, para ekonom menilai sistem ini justru mendistorsi harga, mendorong praktik arbitrase, dan melemahkan kepercayaan publik terhadap kurs resmi. Dunia usaha kini lebih menjadikan pasar terbuka sebagai acuan nilai yang sesungguhnya.
Agar rial dapat kembali stabil, para ekonom menekankan perlunya beberapa kondisi fundamental. Pertama, menuntut pengendalian pertumbuhan likuiditas dan pengelolaan fiskal yang lebih terprediksi untuk memperlambat erosi daya beli.
Kedua, mengupayakan peningkatan arus devisa, baik melalui pendapatan minyak yang lebih tinggi, pertumbuhan ekspor non migas, maupun kembalinya investasi asing.
Ketiga, meyakinkan pelaku usaha dan masyarakat bahwa nilai tukar telah mencapai titik dasar sehingga mereka tidak lagi terburu buru beralih ke dolar.
Tanpa adanya perubahan mendasar pada kondisi fundamental tersebut, rial diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan besar.
Tinggalkan Komentar
Komentar