periskop.id – Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump resmi menandatangani perintah eksekutif untuk menjatuhkan tarif tambahan bagi negara mana pun yang membeli barang atau jasa dari Iran. Langkah drastis ini diambil demi melindungi keamanan nasional, kebijakan luar negeri, dan ekonomi Negeri Paman Sam.
"Presiden meminta pertanggungjawaban Iran atas pengejaran kemampuan nuklir, dukungan terhadap terorisme, pengembangan rudal balistik, dan destabilisasi regional yang membahayakan keamanan, sekutu, dan kepentingan Amerika," tulis Gedung Putih dalam keterangan resminya, Jumat (6/2).
Perintah tersebut menetapkan sistem tarif impor baru terhadap negara yang secara langsung maupun tidak langsung memperoleh produk dari Iran. Kebijakan ini berlaku tanpa terkecuali bagi seluruh mitra dagang Teheran.
Trump memberikan wewenang penuh kepada Menteri Luar Negeri, Menteri Perdagangan, dan Perwakilan Dagang Amerika Serikat untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Mereka bertugas menyusun aturan teknis guna menerapkan sistem tarif tersebut secara efektif.
Meski demikian, Gedung Putih membuka peluang modifikasi aturan jika situasi berubah. Keringanan bisa diberikan apabila Iran atau negara terdampak mengambil langkah signifikan dalam mengatasi ancaman keamanan nasional serta menyelaraskan kebijakan dengan AS.
Pemerintahan Trump menilai rezim Iran telah salah mengelola sumber daya negara selama bertahun-tahun. Dana publik justru dihabiskan untuk program nuklir dan rudal, sementara infrastruktur domestik hancur dan rakyat kesulitan.
Iran juga disebut sebagai negara sponsor terorisme terbesar di dunia. Teheran dituduh menyokong kelompok proksi dan milisi di Timur Tengah yang aktif menargetkan pasukan AS serta sekutunya.
Kebijakan ekonomi ini melengkapi tekanan militer yang telah dilakukan sebelumnya. Pada Juni lalu, Trump mengizinkan Operation Midnight Hammer yang diklaim telah menghancurkan fasilitas nuklir Iran dan memukul mundur ambisi Teheran.
AS baru-baru ini juga mengerahkan armada besar ke kawasan tersebut. Langkah ini merupakan ultimatum agar Iran bersedia kembali ke meja perundingan guna mencapai kesepakatan adil tanpa senjata nuklir.
Sikap keras ini bukan kali pertama ditunjukkan Trump terhadap rezim yang dianggap memusuhi kepentingan AS. Sebelumnya, ia mengizinkan operasi penggulingan Nicolas Maduro di Venezuela dan menjatuhkan tarif pada penyuplai minyak ke Kuba.
Melalui kembalinya strategi "Tekanan Maksimum" pada periode ini, Trump bertekad menutup semua jalan bagi Iran untuk memiliki senjata nuklir. Ia berkomitmen melawan pengaruh buruk rezim tersebut yang dianggap mengancam stabilitas global.
Tinggalkan Komentar
Komentar