Periskop.id - Meksiko berada dalam kondisi siaga satu setelah operasi militer besar-besaran berhasil menumbangkan Nemesio Oseguera Cervantes, yang lebih dikenal dengan julukan El Mencho.
Melansir laporan Al Jazeera pada Senin (23/2), pemimpin tertinggi Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG) tersebut tewas dalam sebuah penggerebekan oleh pasukan khusus Meksiko yang didukung penuh oleh intelijen Amerika Serikat.
Kematian El Mencho segera memicu reaksi berantai yang mengerikan. Tak lama setelah kabar kematiannya tersiar pada hari Minggu, kerusuhan pecah di setidaknya 20 negara bagian Meksiko.
Kelompok bersenjata melakukan aksi pembakaran kendaraan dan mendirikan blokade jalan sebagai bentuk perlawanan terhadap otoritas keamanan, yang mengakibatkan kelumpuhan di berbagai wilayah strategis.
Profil Sang Gembong: Dari Polisi Menjadi Penguasa Kartel
El Mencho bukanlah nama baru dalam daftar hitam keamanan global. Berusia 59 tahun saat tewas, ia memimpin Kartel Jalisco dengan tangan besi dari markasnya di wilayah barat Meksiko.
Pria asal Michoacan ini memiliki latar belakang yang ironis, di mana terdapat rumor kuat bahwa ia sempat menjadi anggota kepolisian sebelum menyeberang ke dunia hitam.
Kariernya di dunia narkoba meroket pada era 1990-an. Pada tahun 1994, ia sempat mendekam di penjara Amerika Serikat selama tiga tahun atas kasus perdagangan heroin. Setelah bebas dan kembali ke Meksiko, El Mencho bertransformasi menjadi pemimpin yang haus darah.
Rolling Stone melaporkan bahwa ia pernah mengirimkan kepala babi yang terpenggal kepada seorang pengacara sebagai ancaman serius.
Kekejamannya juga terekam dalam sebuah panggilan telepon saat ia mengancam seorang komandan polisi bernama "Delta One" dengan kalimat dingin, "aku akan membunuhmu, bahkan anjing-anjingmu."
Inovasi Kriminal dan Jaringan Global
Di bawah kendalinya, Kartel Jalisco menjadi organisasi yang sangat canggih. Ia berinvestasi besar pada kapal selam untuk mengangkut narkoba dari Amerika Selatan ke Amerika Serikat.
Bahkan, ia dikabarkan mempekerjakan insinyur angkatan laut Rusia untuk membantu merancang armada bawah air tersebut.
Annette Idler, profesor Keamanan Global dari Universitas Oxford, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa El Mencho adalah sosok sentral di balik produksi fentanyl yang menghubungkan China dengan Meksiko, serta jaringan kokain di Ekuador dan Kolombia.
Maka tak heran jika Washington menawarkan hadiah sebesar US$15 juta bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi penangkapannya.
Kronologi Operasi Maut di Tapalpa
Operasi penumpasan El Mencho berlangsung di Tapalpa, wilayah selatan Jalisco. Pasukan federal dikirim untuk menangkapnya hidup-hidup, namun perlawanan sengit dari pengikut setia sang gembong mengubah lokasi menjadi medan perang.
Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, melalui platform X memberikan apresiasi tinggi kepada Tentara Meksiko, Garda Nasional, dan jajaran kabinet keamanan atas keberhasilan operasi ini.
Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa intelijen Amerika Serikat memainkan peran kunci dalam melacak lokasi El Mencho. Selain sang raja narkoba, tiga anggota kartel lainnya tewas, tiga luka-luka, dan dua orang berhasil ditangkap.
Dampaknya Pascaoperasi
Pasca kematian sang pemimpin, kekerasan meledak di Jalisco, Colima, Michoacan, hingga Tamaulipas. Sedikitnya 14 orang tewas pada hari Minggu, termasuk tujuh anggota Garda Nasional.
Kota Guadalajara, yang dijadwalkan menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA tahun ini, terpaksa melakukan penutupan total (lockdown) sementara warga berlindung di rumah masing-masing.
Pihak Kedutaan Besar AS di Meksiko langsung mengeluarkan peringatan keamanan tingkat tinggi bagi warga mereka untuk tidak keluar ruangan. Suasana mencekam terlihat dari video viral yang menunjukkan asap membumbung di kota resor Puerto Vallarta dan kepanikan penumpang di bandara.
Masa Depan Meksiko dan Hubungan dengan AS
Peneliti sejarah Amerika Latin, Benjamin Smith, menilai bahwa El Mencho sangat dibenci oleh publik sehingga langkah tegas Presiden Sheinbaum kemungkinan besar akan memperkuat kredibilitas pemerintahannya yang saat ini memiliki tingkat kepuasan publik mencapai 70%.
Langkah ini juga dipandang sebagai perubahan strategi dari kebijakan "pelukan bukan peluru" yang dijalankan pemerintahan sebelumnya.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa kematian El Mencho tidak akan langsung menghentikan aliran narkoba. Vanessa Rubio-Marquez dari London School of Economics menekankan bahwa perjuangan melawan kartel memerlukan strategi kompleks.
"Perang melawan aktor kriminal bukan hanya soal menyingkirkan para pemimpin dan membawa mereka ke pengadilan. Hal ini memerlukan strategi kompleks yang mencakup pencegahan, pemberantasan senjata kuat, pembongkaran jaringan berlapis, keamanan warga, serta pembangunan ekonomi," ungkapnya.
Hingga saat ini, kekosongan kekuasaan di Kartel Jalisco menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya perang saudara antar faksi internal yang diprediksi akan meningkatkan jumlah pembunuhan di ruang publik dalam jangka pendek.
Tinggalkan Komentar
Komentar