China dan Rusia Kecam Pengakuan AS soal Senjata di Luar Angkasa
China memperingatkan luar angkasa jangan jadi medan perang, sementara Rusia desak demiliterisasi total, setelah AS akui punya senjata di orbit Bumi.

Periskop.id - China dan Rusia melancarkan kritik keras terhadap Amerika Serikat, setelah Washington untuk pertama kalinya mengakui memiliki senjata yang ditempatkan di orbit Bumi. Beijing memperingatkan agar luar angkasa tidak dijadikan medan perang, sementara Moskow mendesak demiliterisasi total ranah antariksa.
Pengakuan itu disampaikan juru bicara Angkatan Antariksa AS (USSF), tanpa merinci jenis maupun jumlah senjata yang ditempatkan di orbit. Para analis menilai pernyataan tersebut sebenarnya cuma menegaskan rahasia umum, namun berisiko memperburuk ketegangan dengan China sekaligus memicu perlombaan senjata baru di luar angkasa.
"AS memiliki senjata pengendalian luar angkasa di orbit yang mampu melindungi pasukan gabungan dari tindakan musuh," kata juru bicara USSF, seperti dilaporkan CNA, Selasa (15/9).
Kementerian Luar Negeri China merespons cepat pernyataan tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menegaskan penolakan Beijing terhadap militerisasi luar angkasa dan mendesak Washington menghentikan perluasan kemampuan militernya di ranah tersebut.
"Kami mendesak pihak AS menghentikan perluasan kemampuan militernya dan persiapan perang di luar angkasa," kata Guo dalam konferensi pers, Selasa (15/9).
Kremlin turut angkat suara pada hari yang sama. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menyerukan dukungan internasional yang lebih luas agar demiliterisasi luar angkasa bisa diwujudkan secara menyeluruh.
"Kami berharap ada dukungan luas dari masyarakat internasional untuk terus mengupayakan demiliterisasi luar angkasa secara menyeluruh," kata Peskov.
Menurut pernyataan USSF, kemampuan pengendalian luar angkasa mencakup metode kinetik maupun nonkinetik, mulai dari laser untuk mengganggu sensor satelit hingga gangguan elektromagnetik dan siber terhadap jalur komunikasi data. Kemampuan itu diklaim bisa dipakai untuk tujuan ofensif maupun defensif. USSF juga menyebut China dan Rusia sebagai dua rival geopolitik yang berpotensi mengancam kepentingan AS di luar angkasa, mengingat keduanya dinilai terus mengembangkan kemampuan antariksa serta strategi peperangan di ranah tersebut.
Militerisasi luar angkasa sebenarnya sudah berlangsung sejak awal perlombaan antariksa, tepatnya setelah Uni Soviet meluncurkan Sputnik pada 1957. Sejak saat itu, AS dan Rusia mulai mencari cara melengkapi satelit dengan senjata sekaligus menghancurkan satelit lawan. Perjanjian Luar Angkasa (Outer Space Treaty) yang diteken pada 1967 sebenarnya melarang penempatan senjata pemusnah massal di orbit, tapi celah hukum tetap terbuka bagi jenis senjata lain.
"Ada kekosongan aturan karena Pasal 4 perjanjian tahun 1967 hanya melarang senjata pemusnah massal dan senjata nuklir di orbit," tutur pakar hukum luar angkasa Laetitia Cesari.
Pengamat militer independen asal Hong Kong Song Zhongping menilai pengumuman AS itu sama sekali tidak mengejutkan. Kepada AFP, mantan instruktur militer China itu menyebutkan, fakta AS memiliki senjata semacam itu sudah lama menjadi rahasia umum.
"Satu-satunya perbedaan adalah sebelumnya AS membiarkan hal itu tetap samar, sedangkan sekarang mereka mengungkapkannya secara terbuka. Ini menunjukkan Washington tidak lagi berusaha menyembunyikannya," kata Song.
Song mengingatkan, China juga sudah memiliki stasiun luar angkasa sendiri di orbit. Ia menyebutkan, keputusan Beijing menempatkan senjata di luar angkasa akan sepenuhnya bergantung pada langkah lanjutan AS ke arah tersebut. Terpisah, The Wall Street Journal pernah melaporkan Beijing memasok Iran dengan citra satelit yang memungkinkan Teheran membidik fasilitas militer secara akurat, tuduhan yang dibantah China.
"China tidak akan tinggal diam," kata Song.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai china, ancaman militer, dan Militer Amerika Serikat dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.