periskop.id - Amerika Serikat secara resmi berkomitmen membekali militernya dengan teknologi artificial intelligence (AI) paling mutakhir yang tersedia. Kebijakan ini dijalankan di bawah arahan Presiden Donald Trump sebagai bagian dari strategi menjaga keunggulan pertahanan negara.

Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih Michael Kratsios menegaskan, para prajurit AS berhak mendapatkan AI terbaik sekaligus paling andal. Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan teknologi itu secara bertanggung jawab di hadapan publik.

Advertisement

"Para prajurit yang membela bangsa kita layak mendapatkan AI terbaik, paling aman, dan paling andal di dunia. Warga negara kita juga berhak tahu bahwa teknologi ini dikelola secara bertanggung jawab dengan tingkat keseriusan yang mereka harapkan," tutur Kratsios melalui unggahannya di platform X, Senin (8/6).

Pernyataan tersebut merujuk pada memo kebijakan terbaru yang dirilis pemerintah AS, sebagaimana dikutip dari Engadget. Memo itu mengatur integrasi model-model AI paling canggih dari berbagai vendor ke dalam sistem pertahanan negara.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth diinstruksikan untuk segera menerbitkan regulasi baru yang mengatur sistem persenjataan otonom. Langkah ini dinilai sebagai tindak lanjut dari percepatan adopsi AI di lingkungan militer yang sudah dicanangkan sejak awal pemerintahan Trump.

Memo tersebut juga memuat sejumlah pembatasan ketat yang menyasar para pengembang teknologi. Pemerintah AS menegaskan, tidak ada pihak mana pun yang diizinkan menonaktifkan, menurunkan performa, atau memodifikasi sistem AI yang digunakan tentara tanpa mendapat persetujuan resmi terlebih dahulu.

Larangan itu berlaku baik untuk entitas komersial maupun pihak luar lainnya. Aturan ini dirancang untuk mencegah intervensi atau sabotase sepihak dari vendor ketika teknologi tersebut sedang diandalkan di medan perang.

Langkah AS ini mencerminkan pergeseran besar dalam paradigma pertahanan modern, di mana AI bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan komponen inti dari sistem tempur. Pemerintah AS tampaknya ingin memastikan kendali penuh atas teknologi yang sudah tertanam di infrastruktur militernya tidak bisa diambil alih secara sepihak oleh siapa pun.

Kebijakan ini juga menjadi sinyal bahwa Washington semakin serius memperhitungkan risiko ketergantungan pada vendor swasta dalam operasional pertahanan. Kontrol eksklusif atas sistem AI militer kini diperlakukan setara dengan aset strategis negara lainnya.

Kratsios, melalui cuitannya, menyebut kebijakan ini sebagai cerminan dari standar yang layak diharapkan masyarakat Amerika atas pengelolaan teknologi yang bersentuhan langsung dengan keamanan nasional.